
Apapun yang dilakukan Amrozi, Imam Samudra, dan Mukhlas. Mereka tetaplah manusia. Dampak dari apa yang mereka lakukan, yang lahir dari keyakinan yang mereka pegang teguh, tentunya kita sadari sesuatu yang tidak benar sama sekali.
Amrozi dan 'sahabat'nya tetaplah manusia. Mereka bukan malaikat, walaupun banyak pihak, mungkin, menganggap mereka malaikat.
Bagaimanapun. Sama seperti kita, mereka sedang menghitung hari-hari akhir. Batas waktu saat mereka masih dapat merasakan segala sesuatu sebagai makhluk hidup. Mereka bukan malaikat, sehingga tentunya tidak bisa membayangkan apa itu MATI. Dimana kematian. Apa yang dirasakan saat proses MATI. Perjalanan seperti apa yang mereka alami. Siapa yang menemani ?
Sebagai sesama manusia, kita patut ikut merasakan getaran-getaran bathin. Getaran seseorang yang sudah bisa dihitung, berdasarkan hukum manusia, akan dicabut nyawanya. Dilepaskan haknya untuk hidup bersama kita. Atas nama kemanusiaan !
Amrozi dan sahabatnya. Kalau mereka bisa menceritakan kejadian sebenarnya, tentulah akan menangis meraung. Meratapi apa yang sudah terjadi. Istrinya tidak akan lagi melihat sosok tubuhnya sebagai suami. Anaknya tidak akan bisa lagi mendengarkan suara marah, didikan, dan bujukan bapaknya. Amrozi, tidak bisa lagi melanjutkan rencana bersama istri dan bersama sahabatnya untuk melakukan banyak hal yang masih terhutang. Membesarkan anak. Membangun rumah. Membersihkan dapur. Merapikan pagar di halaman. Mereka harus mati.
Kita. Yang tidak bisa mengerti dan memahami keyakinan seorang Amrozi. Keyakinan yang berharga seutas tali nyawa. Mungkin hanya membaca berita di koran. Menonton televisi. Didampingi seruputan secangkir kopi. Bahkan mungkin. Merasakan kepuasan yang luar biasa menantikan saat-saat penghakiman manusia !
Bagaimana kalau kita berada di posisi Amrozi ? bagaimana kalau otak kita sama dengan yang ada di kepala Amrozi ?
Sebagai sesama manusia. Saya hanya bisa membathin. Semoga sesama saya manusia ini. Bisa meluruskan hati. Memohon ampun kepada siapa saja yang dianggapnya berhak mendapatkan permohonan. Melapangkan perasaan. Bersiap menanti MATI.
Tinggal beberapa hari lagi. Manusia akan membunuh manusia. Atas nama perikemanusiaan !
Amrozi dan 'sahabat'nya tetaplah manusia. Mereka bukan malaikat, walaupun banyak pihak, mungkin, menganggap mereka malaikat.
Bagaimanapun. Sama seperti kita, mereka sedang menghitung hari-hari akhir. Batas waktu saat mereka masih dapat merasakan segala sesuatu sebagai makhluk hidup. Mereka bukan malaikat, sehingga tentunya tidak bisa membayangkan apa itu MATI. Dimana kematian. Apa yang dirasakan saat proses MATI. Perjalanan seperti apa yang mereka alami. Siapa yang menemani ?
Sebagai sesama manusia, kita patut ikut merasakan getaran-getaran bathin. Getaran seseorang yang sudah bisa dihitung, berdasarkan hukum manusia, akan dicabut nyawanya. Dilepaskan haknya untuk hidup bersama kita. Atas nama kemanusiaan !
Amrozi dan sahabatnya. Kalau mereka bisa menceritakan kejadian sebenarnya, tentulah akan menangis meraung. Meratapi apa yang sudah terjadi. Istrinya tidak akan lagi melihat sosok tubuhnya sebagai suami. Anaknya tidak akan bisa lagi mendengarkan suara marah, didikan, dan bujukan bapaknya. Amrozi, tidak bisa lagi melanjutkan rencana bersama istri dan bersama sahabatnya untuk melakukan banyak hal yang masih terhutang. Membesarkan anak. Membangun rumah. Membersihkan dapur. Merapikan pagar di halaman. Mereka harus mati.
Kita. Yang tidak bisa mengerti dan memahami keyakinan seorang Amrozi. Keyakinan yang berharga seutas tali nyawa. Mungkin hanya membaca berita di koran. Menonton televisi. Didampingi seruputan secangkir kopi. Bahkan mungkin. Merasakan kepuasan yang luar biasa menantikan saat-saat penghakiman manusia !
Bagaimana kalau kita berada di posisi Amrozi ? bagaimana kalau otak kita sama dengan yang ada di kepala Amrozi ?
Sebagai sesama manusia. Saya hanya bisa membathin. Semoga sesama saya manusia ini. Bisa meluruskan hati. Memohon ampun kepada siapa saja yang dianggapnya berhak mendapatkan permohonan. Melapangkan perasaan. Bersiap menanti MATI.
Tinggal beberapa hari lagi. Manusia akan membunuh manusia. Atas nama perikemanusiaan !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar