Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-63.HUT bangsa ini menjadi momen yang ditunggu banyak orang. Momen yang membuat banyak hati bahagia. Sejak dari penyedia batang pinang, penyewaan panggung jogetan, kibor tunggal dengan penyanyi seronok, sampai pedagang kain potongan yang bisa menyulap sebuah kain perca menjadi. Bendera !

Berarti bahagia menunggu momen tadi bukan karna dorongan patriotisme donk. Ya iyalah, masak ya iya donk.
Negara besar ini sebenarnya patut miris hati atas rendahnya nasionalisme bangsa. Ketidak tegasan sikap juga menjadi bagian harian dari kegiatan kita. Tengok saja betapa garangnya para pendemo (yang pastinya dibayar) teriak untuk menolak campur tangan bangsa asing. Lucu. Yang teriak itu berdiri dibaris paling depan. Tidak sadar dia teriak sambil pake microphone buatan Jepang. Kaosnya pun buatan Amerika. Apalagi celana dalam. Mana ada buatan Indonesia. Buktinya ? mana ada celana ber merk 'maju jaya' yang bahasa asli Indonesia. Coba cari.
Pejabat tinggi. Orang kaya yang berpengaruh berlomba menceritakan nasionalisme. Apa iya anaknya kuliah di Universitas Sumatera Utara ? atau Gadjah Mada ? gimana nasionalis, wong di tipi saja dengan gagah bilang 'saya baru pulang dari Sydney, nengokin anak yang kuliah di sana'. Maluuu pak...
Itu kan pejabat om. Coba kita lihat di masyarakat umum. Setali tiga uang bang. Sama mawon. Kalau ada produk dalam negeri pamer dengan kebanggaan 'Pakailah Produk Dalam Negeri', anak negeri ini langsung bereaksi 'Bah !! buatan Indonesia. Ga mutu'. Orang ini engga sadar kalau banyak mall di luar negeri itu menjual kaos ber merk luar negeri tapi dengan keterangan 'made in Indonesia'. Bah !! sok tau anak negeri ini.
Mumpung masih tujuh belasan. Coba lihat betapa bangsa asing menjadi dewa di negara kita sendiri. Tengok saja produk-produk telekomunikasi. Yang punya negara cuman satu. TELKOM. Tapi anda tau ? produk ini dihajar habis oleh regulasi. Regulasinya itu diciptakan anak negeri lo ya. Jangan salah kamu.
Kita lihat saja ES..A. TIGA. INDO..AT. Semuanya bukan punya kita lagi. Memang sih susah mengajak anak negeri ini membela perusahaan milik negara. 'Memangnya aku dapat apa dari TELKOM ? (atau sebutlah nama produk lain)'. Lah, memangnya dia dapat apa dari perusahaan asing itu ?
Coba lihat gaya perusahaan asing ini bikin iklan. Betul-betul bukan Indonesia. Tapi anehnya semakin banyak yang menggunakan produk asing ini. Udah lah dijajah, bangga pulak !
Anyway, kalau kita benci sama produk asing. Harusnya kita naik delman lagi ya. Siapa yang mau.
2 komentar:
Sejatinya kita memang belum benar-benar merdeka. Sekarang ini yang kita perangnya bukan lagi perang fisik, tapi perang pemikiran. Kebudayaan asing yang sebenarnya tidak pantas untuk berusaha dikmasukkan dan dikembangkan di negara kita. Kebijakan moneter juga dikendalikan pihak asing.
Tapi tidak semuanya mesti kita tolak, contohnya IPTEK tidak mesti kita tolak. Yang jelas, kita harus pandai memilah, mana yang positif dan mana yang negatif, karena segala sesuatu selalu mempunyai 2 sisi, sisi baik dan buruk, segi positif dan negatif.
Salam
Telkom wajar ketinggalan ....liat aja iklannya katro banget....jadul
Posting Komentar