Baru saja aku pulang dari kota terpanas di muka bumi. Pekanbaru. Bagaimana tidak terpanas, wong di atas bumi minyak, di bawah permukaannya juga minyak. Terakhir ke sana tahun 1994, dan kemaren 16 september 2008 kembali ke sana. Yang mengalami perubahan besar hanya pasar bawah. Dan ini pun membuat aku agak muak karna kecewa berat. Dari lobby hotel Furaya, semangat ku meleda
k ledak menuju pasar bawah. Dulu, lokasi ini menjadi lokasi favorit untuk dikunjungi. Pasar tradisional dengan materi internasional. Kunjungan kali ini membuat saya kaget setengah mati. Tradisionalnya lenyap entah kemana. Sekarang pasar ini tidak pantas lagi disebut pasar bawah, karna sudah bertingkat. Entah tiga atau empat, saya udah tidak berminat melahap area pasar.
k ledak menuju pasar bawah. Dulu, lokasi ini menjadi lokasi favorit untuk dikunjungi. Pasar tradisional dengan materi internasional. Kunjungan kali ini membuat saya kaget setengah mati. Tradisionalnya lenyap entah kemana. Sekarang pasar ini tidak pantas lagi disebut pasar bawah, karna sudah bertingkat. Entah tiga atau empat, saya udah tidak berminat melahap area pasar. Melihat potensi yang keluar dari perut bumi Riau, seharusnya daerah ini menjadi daerah paling nyaman di bumi andalas. Tapi sayang sekali, jangankan daerah urban, pusat inti kota saja pun tandusnya bukan kepalang. Sudahlah panas, pemda nya tak punya niat untuk tanam sana tanam sini. Bikin apa kek. Pohon kelapa atau pohon mangga kek. Asal pusat kota itu ada rindang rindangnya lah sedikit.
Dari kota tanah melayu ini, kami pulang lewat darat. Naik bis makmur menuju medan. Ampun lah. sepanjang lintas sumatera yang masih di area Riau Daratan, sama sekali tidak menggambarkan betapa kayanya riau (seperti yang digembar gemborkan selama ini). Rasanya sulit dipercaya daerah yang menghasilkan kekayaan luar biasa bagi negeri; sama sekali tidak mendapatkan manfaat apa apa dari kekayaan mereka sendiri. Jalananan nya itu bos. Hancurnya susah diceritakan disini. Melihat kondisi ini. Rasanya seperti melihat orang kaya yang kelaparan dengan pakaian compang camping. Katanya kaya, mananya ?
Belum habis keherananan saya, malamnya di metro tivi pas acara debat calon gubernur. Tinggi kali la pulak kalimat kalimat yang mereka lontarkan. Nanti setelah jadi gubernur, yang dimulusin paling paling jalanan menuju rumah pribadi. Riau: hajablah aku mak jang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar