Senin, 22 September 2008

* PASAR JENUH, SIAPA BILANG ?

Hari ini saya terkaget kaget setengah mati. Barusan selesai ngobrol lewat email dengan sahabat lama, yang saya tau punya kegiatan utama memotivasi orang lain. Cerita berawal ketika saya mencoba menawarkan sebuah 'side-job' baru. Tawaran ini bukan asal. Saya berani omongin karna melihat adanya potensi besar pada diri sahabat ini. Bayangkan saja. Sahabat ini menderita selama bertahun-tahun oleh suatu penyakit yang kompleks. Keadaan ini terpaksa 'dilakoni' karna memang tidak bisa dihindari, baik oleh niat hati maupun pertolongan medis. Sahabat saya ini sudah harus melakukan kegiatan cuci darah secara reguler.
Saya justru menemukan kondisi ini pada saat saya menjadi salah satu peserta pada kelas yang sedang diajarnya.

Baiklah, pendek kata, saya tawarkan sebuah produk untuk meringankan penderitaan. Dan, puji Tuhan. Terlepas dari jujur atau tidaknya sahabat saya, tapi saya mendapat respon positif. 'Produk itu benar-benar efektif'. Dan saya lebih yakin efektif karna beberapa hari kemudian terjadi lagi 'repeat order'. Cling !! naluri bisnis saya langsung bersinar. Orang ini, yang sudah menderita seperti itu selama bertahun-tahun, dan orang lain tau dia menderita. Sekarang mengalami banyak perubahan, yang tentunya akan tampak dari aura wajahnya. Kenapa tidak saya rekrut menjadi salah satu distributor saja ? Bakal menjadi sangat andal. Tapi, alangkah kagetnya saya ketika beliau ini menjawab 'disini barang seperti itu sudah berjubel. Pasar sudah jenuh'... begitu kira kira omongannya.


Pasar Jenuh.
Istilah ini biasanya digunakan oleh satu kelompok. PARA PESIMISTIS !. Betul. hanya kelompok pesimist yang senang melontarkan kalimat pematah hati seperti itu. Orang yang sebenarnya tidak berani menghadapi tantangan apa pun, kecuali menyerah sebelum memulai. Pasar Jenuh. Mana ada pasar jenuh. Ini serius lo ya. Tidak pernah terjadi pasar jenuh. Yang ada hanyalah kepala kita sendiri yang sudah jenuh untuk memikirkan hal hal baru yang lebih menarik untuk pasar.

Kalau pasar jenuh, mana mungkin rumah makan tetap saja tumbuh subur. Dan pembelinya tidak pernah berkurang. Toko toko selalu dibangun dan semakin bertambah dibangun. Selalu sold out dan mereka tetap buka bisnis baru. Dan selalu dikunjungi orang orang. Coba lihat warung pecal. Warung sate padang. Warung somay. Warung mie kocok. Mereka kasih supply baru ke pasar. Dan pasar selalu menelan habis bis. Tapi kalau belum belum, kita sudah bilang 'mau jual apa lagi. semua orang sudah mulai selama sekian tahun. aku suksesnya kapan ?' dan ini selalu kita ulang dalam kepala tanpa berani memulai sesuatu. Ini, baru bisa kita sebut pasar jenuh. Pasar itu ya pikiran kita sendiri. Kita yang jenuh. Jangan menyalahkan pasar.

Optimist versus Pesimist.
Yang membedakan pengusaha sukses dan tidak sukses hanyalah awalan dari mist.... Yang satu dipenuhi awalan Opti, yang lainnya oleh Pesi. Honda, ini contoh besar. Belum sempat orang menikmati model terbaru dari CRV, misalkan. Ee beberapa bulan kemudian sudah dia lempar lagi new-CRV. Pada saat merancang the new ini, jangan lupa, pasar sudah dipenuhi oleh model dari beberapa merk top pesaing. Honda tidak menyerah dengan kata 'sudahlah bos. jangan model baru lagi. pasar sudah jenuh'. Mereka optimis. Create yang baru, lempar ke pasar. Dan. Jangan jangan anda termasuk yang sudah menunggu dalam antrian indent New CRV.

Siapa yang bisa mengelak dari keberadaan Texas Fried Chicken, Kentucky Fried Chicken dan Mc. Donald. Dari dulu kita tau perusahaan ini identik. Bukan cuman identik, malah sama dengan Fried Chicken. Ayam goreng. Sekarang ? anda boleh memilih menu lain yang tidak ada hubungannya dengan ayam goreng. Apa manajemen mereka pernah bilang pasar jenuh ? no man. tidak ada itu.

Tung Desem versus Ary Ginandjar
Sub title di atas hanya sebagai pencontohan. Mainlah ke Gramedia barang sejam sehari atau seminggu. Jangan cuman ke pasar tradisional beli ikan basah (gimana mau jadi 'bisnismen' kalau yang diperhatikan cuman masalah tetek bengek. teteknya enak, bengeknya ini). Perhatikan di sana berjubel buku buku dengan gelar yang sama 'Best Seller Motivator nomor #1 di Indonesia. Dan yang dapat gelar tidak cuman seorang. Tung Desem motivator nomor 1. Ary Ginandjar nomor hiji. Siapa lagi lah penulis penulis hebat itu, termasuk mas Safir Senduk pengelola keuangan. (saya pengen sekali ketemu langsung dengan orang ini dan mau ngomong : 'sampeyan ngomongin mengelola keuangan. mimpi. wong yang jadi masalah itu uangnya engga ada lo ya.' Tapi Senduk tidak salah. Dia menulis asal menulis saja. Dan yakin pasti ada yang beli. Ya kita kita ini. Orang yang punya duit tapi merasa melarat.

Kembali ke penulis tadi. Kenapa buku buku selalu bermunculan. Dan perhatikan ini. Judulnya HAMPIR SAMA. 'Kunci Sukses'. Mereka tidak pernah berpikir pasar jenuh mas. Mereka tidak perduli. Yang mereka perdulikan adalah harus berbuat sesuatu untuk memotivasi orang dan tentunya menambah pundi pundi duit pribadi ! Tidak ada dosanya itu. Itu halal sekali.

well. kenapa masih banyak orang yang ngotot menonjolkan pasar jenuh ini ya. Saya rasa, kata atau kalimat ini hanyalah justifikasi bagi orang pesimist untuk tidak melakukan sesuatu. Anda menolak saya ? try me !

Let's begin to fight !!!

1 komentar:

Unknown mengatakan...

mantap ini tulisan, cuma ada lirih kecewa kayaknya...bukannya biasanya untuk membobol pesimis menjadi optimis... "nich bawa aja dulu...kalo engga laku balikin...engga apa-apa.." dengan membiarkan orang mengalami sendiri apa yang tak dipercayanya...akan jauh lebih kuat rasa percayanya, ketimbang percaya berdasarkan pengetahuan saja... bukakn kek gitu.... kisah di prolog itu macam ku kenal...