Jumat, 10 Oktober 2008

* MENCIPTAKAN KERINDUAN

Sehabis menyantap udang tepung goreng, sapi lada hitam dan steam ikan krapu, hari ini saya merasa beruntung bisa makan semeja dengan 4 orang yang jadi top management di tempat kerja. Obrolan kami enteng, tidak ada tendensi formalitas sama sekali. Dari keempat orang itu salah satunya adalah eks top management yang menjadi tempat eskalasi akhir solusi yang dulu biasanya saya lakukan. Abdul Karim ! kalau anda bertemu dengan beliau, jangan pernah berani menebak usia sebenarnya.
Sambil minum liong tea (teh liong), telinga ini merasakan nikmatnya tiga orang hebat di mata saya ngobrol melemparkan secara bergantian kedalaman ilmu dan pengalaman yang dimiliki. Yang seorang lagi sih, kelihatannya lebih asik menikmati liong tahu. Hehe.. baru tau saya ternyata pak Bos ini kalau orang Batak bilang seorang 'pamangan mago'. Jago makan. Ada satu kalimat yang, sejujurnya ini adalah sikap lahir bathin saya juga, menurut saya harus saya pegang kembali dan refresh untuk diri sendiri dan team saya. Kata yang dilepaskan secara enteng ini, tapi kedengaran seperti bom C4 (maklum sering nonton HBO di rumah jadi paham jenis peledak :)) : ciptakan kerinduan di tempat kerja.

CIPTAKAN KERINDUAN DI TEMPAT KERJA.---.---
Kata ini sering saya lemparkan ke seluruh anggota team dalam bahasa yang berbeda. Baiklah hari ini saya bersedia mempelajari kembali kalimat sederhana ini. Sadar atau tidak, kita sering terjebak kepada kata 'kewajiban' sewaktu harus mempersiapkan diri untuk berangkat kembali ke tempat kerja. Hidup kita seperti mesin yang sudah diatur dan dikendalikan secara remote. Bangun jam 6 pagi. Mandi, pakai kelengkapan kerja. Santap makan pagi yang, Puji Tuhan, sudah disediakan isteri tercinta. Kemudian memanggil anak-anak untuk masuk ke mobil, cium bibir isteri yang sudah menunggu jatah light kiss in the morning sambil berdiri di sebalah pintu supir, (Kadang secara geli saya berpikir. Makjang, saya ini kuliah di Padjadjaran, kuliah lagi di Gadjah Mada, kuliah singkat lagi di Sydney University. Di kantor punya meja yang lebih besar dari rekan lainnya. Punya side job lain yang tidak kalah menantang, tapi jatuh jatuhnya jadi Sopir juga... hehe.... I like this nice job). Kemudian ya berangkat kerja. Tunggu pukul setengah tujuh malam, persiapan pulang kerja. Besok pagi, ya balik lagi seperti awal. Terlalu rutin. Dan seringkali kita engga sadar tuh apa yang bikin kita harus berangkat kerja selain berpikir, 'karna udah makan gaji'.
Ternyata, kita bisa melakukan banyak hal untuk merubah semua rutinitas secara ekstrim. Kita tidak lagi menghadapi jam 6 pagi yang tiba tiba nongol di jendela kamar. Malahan, kita tidak sabar untuk menunggu jam 6 pagi !
Sekarang coba perhatikan. Dari sekian banyak orang yang seruangan dengan kita, berapa orang yang membuat kita sebal setiap hari. Berapa lagi yang bikin kita suka dan tidak sabar untuk bertemu lagi. Dari kelengkapan ruang kerja. Apa saja yang bikin kita happy sepanjang hari, apa lagi yang bikin kita suntuk sampai berpikir 'sebaiknya dibuang ke luar saja ini mebel'. Coba hitung ulang. Kalau ternyata ada, ya udah mulai saja hubungi lagi kawan kerja yang bikin sebal tadi. Suka ga suka, mulai bangun lagi jembatan hubungan baik antara anda dan dia. Ga ada gunanya lo membenci orang lain. Orang yang suka membenci orang lain, pastilah wajahnya lebih jelek dari yang dibenci. Engga percaya ? lah, ini serius lo ini.
Lakukanlah hal hal yang sederhana untuk mengembalikan keharmonisan hubungan kerja. Kalau tidak suka sama atasan, ya ngalah sikit kenapa. Mulailah dekat dekat sama mereka. Tanya baik baik, sebaiknya bagaimana sikap anda ke atasan. Kalau sikap atasan ke kita, ya engga perlu ditanya. Kan sudah kita rasakan sendiri. Oya, mungkin anda sendiri adalah orang yang punya otoritas luas di tempat kerja. Benahin dulu beberapa hal. Meja kerja. photo photo atau poster yang sudah lama menggantung di dinding. Atau, dinding anda malah gundul engga ada apa apanya kecuali kalender pemberian kolega yang bulannya saja pun engga diganti ganti ? lakukanlah perubahan pada sisi ini.
Atau, coba perhatikan assisten anda. Mosok jaman segini asisten kita dari kelamin yang sejenis. Cari lah dari jenis yang lain. Yang laki laki ya ambil asisten perempuan. Yang perempuan ambil asisten laki laki. Engga usah kuatir dituduh yang engga engga oleh orang lain. Wong anda lurus lurus saja pun sudah pasti dituduh yang engga engga. Berarti nothing to loose kan ? Oya, kalau anda merasa sangat baik terhadap bawahan. Wake up. Coba pasang kuping baik baik, saya berani taruhan, anda pasti punya panggilan lain di tengah tengah bawahan anda. Kalau nama anda Firdaus, bisa diplesetkan sebagai Firaun. Anda sih merasa tegas dan teguh pada instruksi, tapi bawahan menanggapi lain. Tukang prentah ! Saya saja yang sangat baik ini dapat gelar 'si botak' kok. Tapi puji Tuhan, tuduhan ini tepat, karna memang saya botak. Liat saja profil di depan :)
Setelah anda temukan orang yang tepat, mulai bangun hubungan informal kepada mereka. Jangan melulu bicara target donk, bosan nek. Jaman sekarang engga semua prestasi bisa diraih lewat rapat serius. Merokok di ruang belakang sama office boy juga bisa mendongkrak penjualan mas. Kalau punya sopir pribadi, mulai besok suruh dia duduk di belakang, anda yang nyetir. Tapi kalau berangkatnya sama istri, pas supir dibikin jadi bos, istri anda suruh pake celana panjang donk. Nekad apa biarin istri pake rok mini ? Ini mah, istri anda yang membangun hubungan informal nantinya.
Percaya atau tidak. Tapi mending percaya deh, semua keadaan yang sudah anda jadikan terbalik ini, akan membuat anda tidak sabar menunggu jam 6 pagi segera tiba. Coba ingat waktu pertama kali ketemu pacar. Pas mau pulang ninggalin beliau di pintu rumahnya. Waduh.. beraaaaaattt..... Kemudian bilang gini : 'dadah sayang, selamat tidur'. Sebelum anda pergi, kekasih bilang gini lagi :'jangan lupa, besok jemput aku jam 8 lo mas'. Taruhan yok, gimana sih perasaan anda menunggu jam 8 besoknya ? Well, ciptakanlah kerinduan di tempat kerja, semuanya akan menjadi lebih baik. Ladies and Gentleman, Please, Try this at home.

Tidak ada komentar: