.....__ waktu belajar biologi jaman dahulu kala di sekolah, ada istilah rantai makanan. dari ulat sampai ke binatang buas sekalipun. rantai makanan ini menggambarkan bahwa makhluk mana pun, selalu akan 'takluk' pada makhluk lain, yang secara logika, memiliki kekuatan yang lebih lemah. rantai makanan ini bisa juga di-harfiahkan dengan pengertian :'tidak ada yang lebih hebat dari yang lain, dan tidak ada yang tidak tergantung pada yang lain'. berarti namanya ketergantungan ya.
...........----- ada pemahaman mengenai nasib dan rejeki. orang-orang naif selalu bilang nasib dan rejeki itu seperti roda pedati. berputar menurut siapa yang Mengaturnya. kadangkala saking dipegangnya pengertian ini dengan hebat, banyak sekali orang yang memasrahkan dirinya dengan 'nasib'. pasrahnya itu pasrah tulen. tau pasrah tulen kan ? orang yang bahagia dengan tidak melakukan apa-apa, karena berharap roda pedati itu akan segera berputar. saya sih suka guyon sama kawan-kawan mengenai roda ini. 'aku sekarang lagi miskin bos... tapi, sebentar lagi roda pedati ku akan berputar'. terus yang lain nyeletuk :'kalo kemiskinan mu ini justru pas pada 'puncak' roda pedati ? cemana...'. biasanya tak ada jawaban kecuali :'sirik klian !!'.
------'''' ada beberapa teman yang mencoba melakukan konseling, ah, jangan konseling lah, saya ganti dengan istilah sharing. beberapa teman ini mengajukan pertanyaan sederhana : 'gimana caranya supaya karier kita melesat'. apa yang harus saya lakukan ?'. pertanyaannya simple. tapi menohok hati yang sangat dalam. ya menohoklah, wong dia nanyanya justru sama orang yang kariernya mandeg.. deg ! bedanya kami adalah; mereka terus-terusan mikirin karier. sementara saya, tidak pernah lagi; karena saya tau itu bukan milik saya. prinsip saya sederhana, kalau yang ditunggu-tunggu tidak tau kapan datangnya, ngapain ditunggu ?. well, saya perhatikan teman-teman yang tadi sharing. kemudian saya kasih tanggapan yang bikin mereka kaget :'karier anda pasti mentok. engga ada peluang sama sekali'. mereka protes keras dengan pertanyaan apa alasan dan analisa yang saya ambil. saya bilang ke mereka bahwa mereka yang datang ke saya punya sikap dan perilaku yang tidak berbeda dengan saya jaman dulu : 'suka protes dan membantah !'.
well. karier itu cuman sesederhana membuka tutup ballpoint. tidak lebih dari itu. dan kebetulan yang membuka ini adalah para maharaja yang duduk di singgasana jabatan. ya bos kita. saya bilang ke mereka. sudah waktunya mereka 'mundur' dari sikap yang selalu mengagungkan idealisme setinggi langit. banyak orang yang ngotot dengan idealismenya akhirnya disingkirkan oleh network. relasi-relasi yang kuat tidak selalu harus dipadankan oleh idealisme. adakalanya kita harus memberi toleransi bagi terbunuhnya idealisme. bedanya orang idealis dengan yang menaruh idealisme agak di belakang adalah pada kecepatan memberikan tanggapan; orang idealis akan mengabarkan cerita apa adanya; sementara orang yang tidak idealis akan mengabarkan apa yang membuat si penerima kabar merasa nyaman. 'eh, apa.. sudah kau apakan apanya itu ?? tapi jangan terlalu apa kali kau apakan. nanti terlalu apa pulak'. sang idealis sejati akan jujur bicara :'saya tidak bisa menyelesaikannya pak, karena ini bertentangan dengan peraturan perusahaan mengenai......' brukk !! pintu kantor bos dibanting dari dalam, untung engga kena hidung kita. mana ada bos besar yang suka digurui. yang tidak idealis ? jawabannya merdu :'oh, ya jelas pak. dengan arahan yang saya terima selama ini dari bapak. yang mana bapak saya jadikan sebagai panutan. yang mana seluruh pekerjaan yang selalu saya kerjakan adalah saya kerjakan seturut dengan ide-ide, arahan maupun bimbingan bapak. hanya ada satu masalah pak " saya belum menyelesaikannya". bukannya dapat marah, jabatan baru dapat lagi, dapat lagi. sementara sang idealis terheran-heran:kok bisa ??? ya bisalah, orang sesederhana membuka tutup ballpoint kok.
makanya jaman sekarang ini, kita harus menaruh respek kepada siapapun. pejabat di unit lain. yang kita rasa selalu menyebalkan unit kita, harus juga diberi rasa hormat. biarkan dia menerima kesan bahwa kita menaruh segan, takut, atau pun hormat. anda tau kenapa ? karena bisa saja karier anda tergantung di tangannya. coba bayangkan kalau karier itu seperti pasar kambing pada menjelang hari raya haji. nama anda tercantum di layar putih sana. dijual bebas di hadapan para bos besar. pertanyaan diajukan : 'saya rasa 'si anu' ini pantas menduduki jabatan kepala unit anu'. bagaimana pendapat bapak-bapak sekalian ?'.... yang lain setuju atau tidak kasih tanggapan, eee bos unit lain yang kita sebelin dan kita sanggah terus, angkat telunjuk 'objection !!' hajablah. seluruh data anda sudah pasti dimasukkan dalam laci. sampai waktu yang tidak terbatas. yang seramnya, sudahlah karier mampet, tiba-tiba orang ini duduk di meja bos kita. kita yang nyata-nyata selalu menentang dia pasti nanya 'ngapain bapak duduk di situ ?'. dengan seringai yang menakutkan, dia menyapa anda 'hai.... saya bos baru di sini'. tamatlah riwayat !
kembali ke kawan-kawan saya yang tadi. cerita saya di atas mereka sanggah lagi. dan lagi. dan lagi. 'saya tidak akan mematikan idealisme yang saya pegang teguh !. saya jawab :'bagus.. . dan nikmati kematian karier anda'.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar