Selasa, 17 Februari 2009

* STORM....

..... melambai... lambaii... nyiiiur di pantaaaii... berbisik...biiiisiiiikkk.. rajaaa.. klanaaaa..... memujaaa.. pulaaaauuu... nan. indaaahh.. permaaaiii.... itu potongan lagu nasional kita. yang kita bayangkan sudah pasti tentang pantai landai. yang terbentuk membujur setengah busur panah. pasirnya seperti mutiara. coba bayangkan damainya pantai carita. bayangkan lagi tentramnya pantai legian. rebahkan diri diatas pasir yang ada di ujung jilatan lidah ombak. tantang matahari dengan kelopak mata tertutup. oh my God, tenangnya hati. tenang sekali. begitu tenang hingga kita tidak pernah membayangkan; atau, kalaupun terbayang, kita secepat-cepatnya segera menyingkirkan bayangan akan datangnya badai ! kalau badai datang, rasa kuatir bisa mengguncangkan kepala. kita takut badai akan menghilangkan keindahan pasir. rangsangan liukan daun kelapa. menghilangkan ketentraman hati untuk bisa berlama-lama menikmati kemalasan : tiduran di pasir seharian. ............
---- kalau boleh memang, jangan ada badai di antara kita ya. kerjaan lancar-lancar saja dengan mulus. hubungan dengan bos, dengan sesama kolega, dan dengan orang-orang bawah adem tentrem. unit lain gampang ha ha hi hi kalau sedang mensolusikan masalah berat. hubungan ke istri atau suami mesra bin harmonis. anak-anak kita semuanya manis. saudara-saudara engga menghadapi masalah sedikitpun. maka lagu nat king cole 'what a wonderful world'.... kita jadikan ring tone untuk semua hal. tapi, kita siapa emangnya. kok bisa memilih jalan hidup dan cuaca ?
........ faktanya ? engga semua yang kita inginkan itu bisa terjadi. banyak hal yang berada jauh diujung jangkauan tangan kita. siapa yang tidak kenal dengan kejeniusan Bakrie bersaudara dalam berbisnis ? tetap saja badai melalui jalanan pikiran mereka. apa yang mereka perkirakan akan terjadi semuanya dicatat rapi. langkah-langkah untuk menghindari itu terjadi, juga sudah terdokumentasi dengan valid. tapi tetap saja badai itu dengan semena-mena menghampiri. datang bertamu. pake nginap pula. pengennya sih tiada badai di antara kita. apa daya badainya ga tau diri. datang tak diundang pulang tak diantar.
badai itu banyak wujudnya. tergantung pada apa yang sedang kita geluti, maka badainya engga jauh-jauh dari situ. orang yang sedang buka warung rokok. yang menggantungkan harapan pada semakin bertambahnya orang yang tidak memikirkan kesehatan paru-parunya, badainya adalah larangan merokok dari penguasa. masih untung dilarangnya di tempat tertentu. minimal cuman berkurang berapa batang yang engga laku. gimana kalo nongol larangan merokok di mana tempat pun ! gile... gede amat badainya !
di lain kasus. badai itu bisa dalam bentuk grafik keuntungan yang tiba-tiba seneng dengan bungy jumping. meloncat terus makin ke bawah. jangankan pasir putih. tenderloin yang asli dari australia lengkap dengan sauce barbeque nya pastilah engga bisa memancing selera makan kita. semua keliatan gelap dan terasa pahit.
ada lagi badainya dalam bentuk anak yang lucunya bikin hati berbinar senang. sehatnya menggemaskan siapapun. bikin kita bangga sewaktu semua orang di mall engga tahan untuk memberikan secuil cubitan di pipinya sambil bilang : 'anaknya cakeeepp'. tiba-tiba terkulai lemah. diikat oleh penyakit yang melumpuhkan senyumnya. menghalau semua ketawa ngakak masa bayinya. badai ini datang tiba-tiba, mengejutkan dari segala sisi pikiran. sering badai seperti ini merusak ketentraman hubungan laki-bini : 'kenapa engga dirawat ma ???'. pertanyaannya sih sederhana. komentar pengganti kegalauan hati seorang suami. tapi si penerima pertanyaan ? itu palu besar, yang ujungnya berpaku, dihantamkan di atas kepala yang lagi puyeng. tepat pula ke bisul yang mau pecah... sakiiiitttt..... para ibu akan merasa terhina ditanyain seperti itu. well. suami sekedar kelepasan omong, sementara isteri seperti ditohok. cape seharian atau sebulanan akan lenyap dengan pertanyaan konyol tadi.
ada juga badai lewat melalui penyakit pasangan hati. yang sudah diusahakan kesembuhannya masih tetap saja setia mendampingi pasangan. bisalah pulak lebih setia penyakit itu dibanding kita sebagai suami atau isterinya. sudah pasti kebingungan menenggelamkan alam sadar kita. rasanya mau berhenti saja dari pekerjaan, supaya bisa merawat pasangan setiap waktu. tapi kalau berhenti kerja, darimana biaya obat ? meneruskan pekerjaan pun, ya ampun... masak cape-cape kerja cuman buat ngumpulin dana beli obat ?
ada lagi badai. anggota keluarga kita ekonominya engga bangun bangun. ngajogrok aja tiduran sepanjang tahun. berkali-kali bantuan dikirimkan, berkali-kali pula komplain tentang kurangnya kiriman diterima. mau berhentikan bantuan engga enak sama saudara sendiri. mau nerusin engga enak sama pasangan dan keluarganya. banyak lo, rumah tangga rusak karena salah satu pasangan itu ngotot ngasih bantuan super total khusus untuk keluarganya sendiri. keluarga dari pasangan ? : ntar dulu, kalo masih ada sisa.
well, kita sudah tau badai ini datang atau tidak terserah dia sendiri. kita juga sudah tau, kita berharap tidak datang pun dia datang. berharap dia datang pun dia tak datang. itu makanya doa orang jahat yang mengharapkan kejatuhan orang lain engga pernah kejadian tuh. yang terjadi malah, sebelum doa selesai, dia sendiri sudah dilahap badai.....
karena badai itu tidak tersangkakan, ya sudah. hitung-hitung saja dampak yang terjadi. sekarang semuanya harus disiapkan. apapun wujud badai kita, maka kesiapan kita juga harus jamak. engga boleh cuman persiapan tunggal. begitu datang, teruslah bertahan di tengah badai itu. pegang kuat-kuat apa yang bisa kita pegang. yang terkuat yang kita yakini tidak akan menggoncang keyakinan hakiki kita. jadi, kalau tiba-tiba "wwrrhhoooaammm....!!!" ada badai besar, apa reaksi kita ?? langsung terbirit-terbirit ? saking tunggang langgangnya kita nabrak sana sini. malah mati justru bukan karena badainya ? janganlah ya. lebih baik. berdirilah tenang. diam sebentar, nyalakan pikiran sehat. jaga terus tetap jernih. bangun cepat-cepat koneksi yang paling kuat kepada Siapa yang mampu meredakan badai tadi !... biarkan badai menyiksa kita. toh, sebentar lagi kita bisa tersenyum; sebab semuanya akan kembali baik. percaya saja, it is going to be over !... this storm, will passed away !. semakin kuat badai menghantam, bisikkan di hati... 'sabaaarr... tahankan dulu sebentar waktu lagi'... kuatkan hati selama maunya badai menghajar batin. lebih kuatkan hati atas akibat akhir sewaktu badai itu perlahan lenyap. apapun bentuknya, kita sudah memiliki satu pegangan : hati yang tenang ! ........ baiklah.. berdoa, mulai !!

3 komentar:

Anonim mengatakan...

lagi kena badai pak?

nabasa.abel mengatakan...

iya bu... setiap orang kena badai. kebetulan yg satu ini kurasakan sepoi-sepoi... jadi, ya spy prepare for any circumtances lah

Anonim mengatakan...

ati2 pak. sepoi2 biasanya diikuti ama angin ribut. lg musim angin ribut nih cuaca skrg.