...jam sepuluh pagi lewat beberapa menit. Barusan turun dari mesin stepper. Sabtu pagi macam gini, biasanya AC yang dinyalakan cuman beberapa unit. Jadi tempat gym ini panasnya bagus untuk mempercepat pembakaran lemak. Stepper selesai 15 menit dari rencana 25 menit. Kurangnya oksigen bikin kepala seperti mati rasa. Daripada cari masalah, kegiatan ini cepat-cepat ku selesaikan. Setengah dari isi botol air minum sudah ku habiskan. Selanjutnya dan yang terakhir adalah chest training. Entah sudah sesuai dengan aturan sebenarnya atau tidak, 15 kali 7 tarikan bisa juga selesai. Dada rasanya sesak. Mungkin karena capek dan pengap udara.
Harusnya memang orang yang awam body building seperti saya ini, dipandu trainer yang punya pengalaman. Tapi apa mau dikata. Hampir semua trainer sibuk duduk manis di kursi lobby gym. Tadinya dalam hati ada perasaan heran memperhatikan setiap hari, hampir semua trainer menghabiskan waktu di kursi lobby, atau di sekitar meja receptionist bagian dalam. Beberapa dari mereka sibuk sekali menemani member ngobrol. Well, mungkin ini bagian dari keramahan tempat gym super mahal ini (?).
Anyway. Di locker tempat kami biasa ganti pakean dan bersih-bersih, sambil lepas kaos gym, tanpa alas kaki, saya duduk selonjor di kursi golf. Di dekat saya ada teman. Sudah sering saling sapa dengan mata, tapi sekali ini kami ngobrol berhadap-hadapan. Beberapa waktu yang lewat, badan kawan baru ini minta ampun 'besar' nya. Saking besarnya, kelihatan dari gerak badannya agak susah berjalan. Tapi sekarang, langsingnya sudah agak sedap dipandang. Tommy Abraham.
Kehebatannya adalah bisa menurunkan berat badan sebanyak 48 kilogram selama hanya enam bulan. Semua dilakukan tanpa bimbingan trainer (cemana mau dibimbing. semuanya sibuk dengan gadget dan teman ngobrol masing-masing).
Tommy bilang : 'aku latihan olah badan tak pake pemandu. Semua ku kerjakan dengan metode dan cara ku sendiri. Karena ku rasa, metode dan cara ku yang paling cocok untuk aku'.
Sebenarnya sekali ini tak ada maksud hati untuk membahas bagaimana menurunkan berat badan seluarbiasa itu. Sama sekali pulak tak ada maksud untuk memperkenalkan kawan baru ini. Yang menarik dari obrolan kami yang kalau tidak salah berjalan selama hampir 20 menit, kawan ini bicara sedap didengar. Walau perut jauh melampaui buncitnya perut saya, wajahnya macam ada api-api nya pas bicara. Mendengar dia menceritakan sebagian besar sejarah hidupnya (yang sudah tentu happy ending), semacam mendengar ahli manajemen mengurai teknik-teknik yang kita belum pernah dengar. Sekali ini, aku berani bilang, kawan ini jauh lebih enak didengar bicaranya dibanding Mario Teguh sekali pun ! Mario bicara bikin tenggorokan saya kering. Rasanya cape menahan telinga mendengar intonasi dan nada suara nya yang sangat diatur. Mula-mulanya 'sih', saya termasuk orang yang terpesona dengan beliau ini. Tapi belakangan hari, kelihatannya agak susah menemukan apa yang istimewa dari suara dan isi pembicaraan nya. Sudah jadi macam 'pengarang', bukan pencerita kisah yang masih tersembunyi.
Tommy bicara panjang lebar dengan enteng. Kawan ini tak sadar, saya terheran-heran dengan tenaga yang dikeluarkan dalam nada bicaranya. Dalam obrolan kami, saya sempat menyarankan agar dia ikut kelas tertentu supaya penurunan berat nya bisa lebih cepat. Tommy bilang apa ? Dia bilang : 'ku rasa aku engga perlu memaksakan diri untuk menurunkan berat badan bang. Yang penting, aku tau ada kemajuan setiap hari. Tidak masalah aku melakukannya lebih lama dari yang seharusnya bisa ku dapat. Asal progress ku bagus, aku sudah puas'. Well, orang ini sabar sekali. Beda dengan saya yang pernah harus opname dua kali dalam satu bulan karena memaksakan diri menelan 'fat burner' untuk ngecilin perut. Perbedaan yang lain, dia hadir di sana setiap hari dua kali. Sementara saya, hadir bisa setiap hari, bisa juga setiap bulan. Dia sangat disiplin, saya kehilangan disiplin.
Jangan memaksakan diri.
Tommy tidak tergoda dengan saran saya untuk mencari cara lain yang menghasilkan jauh lebih besar dan cepat. Dia tetap pegang kata-kata nya '...aku engga perlu memaksakan diri...'.
Sering kali kita tidak sadar bahwa kita suka melakukan banyak hal dengan cara yang sebenarnya tidak sesuai dengan kebisaan atau kemampuan. Saya sering terjebak dengan kata : 'maksimalkan'. Saking terpengaruhnya dengan para jagoan motivasi, tiba tiba kita sudah merasakan keletihan yang luar biasa. Rasa capek bisa cepat-cepat datang, padahal kita baru saja mulai mengerjakan entah apa. Ada juga kejadian, tiba-tiba kita ketakutan melihat surat-surat tagihan dari banyak bank. Bisa juga tiba-tiba kita menemukan anak-anak jadi malas bicara. Setiap ketemu, mereka berusaha mengalihkan mata atau purak-purak mengerjakan sesuatu asal kita tidak mengajak mereka bicara.
Kita tiba-tiba letih, karena terus terusan berusaha menyelesaikan semua pekerjaan dengan kategori sempurna. Padahal kita tau, batas yang sudah disepakati hanya dalam kisaran nilai tertentu. Tapi karena ambisi yang meluap-luap, memaksakan diri untuk melompati nilai tadi jauh lebih tinggi dari yang diharapkan. Begitu itu kita dapatkan, harapan untuk menerima pujian dari bos, keluarga, teman, atau rekan bisnis, malah tidak ada. Kita malah bingung karena semua mereka membelalakkan mata tanda heran. Mereka malah bilang : 'emang sampeyan tidak punya keluarga ? kok senang sekali tidur di kantor ?'
Atau kejadian yang lain. Saking bergairahnya untuk cepat-cepat punya televisi berlayar LED, kita udah tutup mata pada buku tabungan. Seluruh kartu kredit digesekin ke semua mesin. Hati memang senang sebentar karena rumah, ruang kerja, atau kendaraan kita bisa dilihat jauh lebih hebat. Isinya luar biasa mewah. Giliran bulan besok kedatangan surat-surat tagihan, kok malah cepat-cepat curiga : 'buset, gua dikerjain kartu kredit nih. Tagihan ini engga benar sama sekali !
Atau ada lagi kejadian yang lainnya. Kita engga perduli apakah anak kita ikut les tambahan, atau punya masalah kesehatan, atau tidak punya kelengkapan belajar yang cukup, kata-kata yang keluar dari kita enteng : 'cemananya, masak terus terusan ranking segitu. Besok rapornya ambil sendiri ya'. Banyak dari kita yang tidak senang melihat hasil raport yang tidak juara pertama. Emangnya duit yang sudah kita keluarkan betul-betul pas dengan kebutuhan mereka. Emangnya di rumah, mereka bisa punya tempat belajar yang sesuai. Yang lebih parah lagi, emangnya dulu nya kita pernah ranking 20 ? jangan-jangan, dapat urutan 25 saja pun, kita sudah undang kawan-kawan untuk syukuran. Lah kita nya saja punya otak oon, kok berani-beraninya menuntut keturunan engga oon.
Memaksakan diri itu sangat tidak mengenakkan untuk diri kita, apalagi untuk orang lain. Tak ada gunanya juga kita dapat semua hasil dengan cara cepat, tapi karena sudah terlanjur capek dan sakit, kita malah tidak bisa menikmati hasil yang kita dapat. Biarlah macam kata Tommy, pelan-pelan, yang penting kita puas bisa lihat progress nya setiap hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar