Kamis, 21 Agustus 2008

* INDONESIAN IDOL

Sore ini aku coba dengar lagu Bryan Adams 'heaven'. Mimpi apalah kira kira bapak sama emaknya bryan ya. Bisa punya anak seluarbiasa ini. Lagu apapun yang dikarangnya, enaknya luar biasa. Kalah enak mie kocok di bandung (tak akan ku sebutkan namanya, belum tentu dia mau bayar kalau makin terkenal karna aku). Atau ketoprak di simpang jalan di depan kampus Gadjah Mada.

Suaranya itu lah mak. Sedap bukan kepalang. Karna serius dengar suara, sampai lupa kita kalau di panggung cuman berdiri saja uwak ini. Tak macam MJ yang tengok tangannya dikibas kibas saja pun awak sudah histeris. Jago sekali nyanyinya. Seperti tidak ada tandingan di dunia ini.
TAK ADA TANDINGAN ??? siapa bilang !!

Kalau sekedar modal selembar kertas putih dan sebatang pensil, siapa yang tak bisa menyediakan. Kalau cuman modal bisa menulis. Anak ku Kevin Axel saja yang baru masuk SD kelas sebiji sudah lancar kali nulisnya.
Mungkin kehebatannya mengarang. Mana bisa. Kita pun bisa ngarang cerita 'pada suatu hari' waktu SD. Cerita yang sama sekali tidak pernah kita ketahui tempat yang kita ceritakan. Bisa kok.

Indonesian Idol itu sudah berulang kali digelar. Sudah berapa yang jadi juara.Tapi nilailah dengan jujur, apa cuman mereka yang sanggup nyanyi sebagus itu ? TIDAK. Kita pun bisa.
Yang membedakan kita dengan Bryan Adams dan indonesian idol cuman satu. Berani mencoba. Mereka berani, yang lain tidak.

Siapa yang tak bisa menggoreng ayam dengan rasa yang enak. Apa mungkin istri kita, atau kita sendiri tak bisa bikin es teler dengan rasa yummy ?
Kalau bisa, kenapa cuman KFC dan Es Teler 77 yang terkenal dan kaya ? Jawabnya : mereka berani mencoba dan kita tidak ! Itu saja.
----------------------
Jeleknya, kita hanya berani mencibir : 'ah, kalau cuman bikin nasi goreng dengan rasa ini, aku pun bisa'. Kita terus saja mencibir, sementara yang lain terus saja mengembangkan usaha yang sedang kita cibir. Dia makin kaya, kita gitu gitu saja.

Sore ini (kebetulan sudah jam 17.53 tgl 21 agt08), aku dapat pelajaran. Dan hebatnya yang ngajarin itu, aku sendiri ! Ups. aku bisa hemat sejuta perak. Tak perlu beli tiket Tung Desem.
Berarti, kalau aku coba belajar lagi masak nasi goreng. Ku tantang istri dan anak anak ku untuk menilai rasa. Okelah mereka bilang 'tak enak !'. Ku tantang lagi tetangga untuk menilai rasa. Toh, belum tentu indera perasa istri dan anak anak ku mewakili perasaan banyak orang.
Masih juga dibilang tak enak. Kenapa tak mencoba gila saja sekalian. Gelar meja sebiji di pinggir jalan. Sediakan 4 kursi makan. Pasang spanduk 'NASI GORENG ENTAH ENAK ENTAH TIDAK'.

Kalau ada yang mencoba beli dan komplain karna tak enak, kita tidak dosa lo. Kan iklannya udah jujur !

Siapa tau ternyata orang mengira kita sarap. Dan kasihan. Dan berbondong-bondong beli. Lama-lama kita jadi kaya karna dikira sarap.
Kan orang itu yang sarap bukan kita. Masak yang sarap lebih kaya dari yang tidak sarap ?

.........kalau betul betul ku coba. laku engga ya ? jangan jangan laku. jangan jangan engga. tapi, jangan jangan laku........................

2 komentar:

Purple_Harmony mengatakan...

haahaa...kalo abang ini jadi jualan nasi goreng, aku mau beli ah.... sapa tau enak. kan lumayan bisa di broadcast lewat blognya kita. Nah kalo banyak laku, beneran bisa kaya deh..hoho...berapa persen ke aku??

nabasa.abel mengatakan...

sratus persen lah. buat aku menghayal nya lagi. lebih gampang