Untuk omak omak (baca:ibu ibu). Jelaslah televisi menjadi teman curhat yang paling setia. Sayangnya memang cuman tipinya saja yang curhat. Ibu ibunya si tinggal menikmati. Kalo mau ketawa silahkan ketawa. Tapi kebanyakan yang dicari justru yang banyak nangis nangisnya.
Padahal benda ini cuman kotak kecil. Cuman diisi gambar gambar bergerak. Tapi, sadar atau tidak benda ini bisa merubah cara pikir orang. Engga perduli itu anak kecil atau orang yang sudah bukan lagi anak kecil. Pilihan benar salah bisa ditentukan oleh televisi itu sendiri. Bukan oleh nasihat orang tua. Pemimpin
agama kita, bahkan guru atau dosen sekalipun.
agama kita, bahkan guru atau dosen sekalipun.Siapa yang bilang bahwa hidup 'menyimpang' itu adalah suatu hal yang lumrah dan wajar ? tidak pernah ada, sebelum televisi merubah paradigma kita secara ekstrim. Dulu, perempuan yang berusaha tampil seperti laki-laki merupakan 'bencana' pada keluarga. Laki laki yang menonjolkan kecantikan perempuan yang tak pernah dimilikinya, adalah aib besar bagi keluarga dan lingkungan sosial. Itu masih masalah seksualitas.
Bagaimana dengan masalah norma lain ? Perkawinan. Kawin cerai sekarang merupakan hal biasa. Dan banyak bibir yang mudah sekali bilang 'mungkin Tuhan menginginkan kami bercerai'.
Televisi. Merubah itu semua. Sim salabim ! semudah itu.
Aku sendiri. Secara pribadi mengalami ketakutan yang luar biasa. Ketika menemukan semakin hari, nilai moral dan kebenaran semakin kabur.
Fenomena Gay sebagai Gaya Hidup.
Ivan Gunawan sekarang menjadi idola. Eko Patrio semakin laris. Ruben, Olga, Wendy, banyak lagi artis yang dulu mungkin miskin papa. Tiba tiba menjadi kaya raya dengan cara merubah nilai moral yan
g ada !
g ada !Perempuan saja, tidak akan berani membuka bagian dada di depan jutaan orang yang menonton. Ivan Gunawan. Yang perempuan bukan, laki laki pun diragukan, tanpa moral membuka dadanya di depan banyak orang. Termasuk anak-anak dan remaja.
Emang masalahnya dimana ? Tidak ada masalah kalau Ivan menegaskan bahwa dia tampil sebagai laki laki tulen. Ini kan, dia berusaha menunjukkan bahwa dia adalah perempuan. Kasihan sekali Ivan.
Ivan, Eko, Olga dan kawan kawan para 'gay' (sengaja pake code on code, karna hanya mereka yg tau mereka gay atau bukan), pastilah tidak punya hutang moral apa apa demi mengejar kontrak yang menghasilkan banyak uang. Wajar donk, darimana lagi mereka mendapatkan biaya hidup kalau bukan dari segala cara. 'Melacur' pun mereka lakoni.
Saya kuatir sekali. Para remaja laki-laki yang sedang dalam masa 'transisi'. Mungkin dia akan memilih akan jadi laki laki normal. Atau perempuan sewajarnya, atau akan melakukan perubahan peran ? Menjadi 'transeksual' ?
Ivan dan kawan-kawan akan memberikan ketegasan. Udah deh. Gay aja, laku kok. Mereka mana perduli dengan ketakutan orang tua. Kesedihan lingkungan. Bencana alam yang akan dihadapi negeri ini, kalau ternyata kehidupan gay menjadi trend. Bahkan menjadi trendsetter ?
Kita tidak boleh mempersalahkan apalagi mengajak Ivan dan kawan kawannya kembali 'ke jalan yang benar'.
Sekali mereka berubah, maka RCTI, TRANS, TRANSTIVI dan seluruh stasiun televisi yang tak bermoral itu, akan mengalihkan mata kamera ke figur lain untuk dijadikan model gay.
Semakin ke belakang. Mengerikan sekali ternyata Ivan dan Eko menjadi idola negeri ini. Ala mak.
Trend Perceraian.
Maia mau cerai disiarkan. Andara Early cerai disiarkan. Alya rohali, siapa itu istrinya anggota DPR yang akhirnya memacari anak perawan orang yang putri Indonesia itu ? cerai disiarkan.
Perempuan, terutama, pastilah takut menghadapi perceraian. Dan atas nama agama dan kesetiaan, akan mempertahankan perkawinan.
Tapi Maia dan kawan kawan merubah itu semua. Cerai adalah pilihan. Dan itu normal.
Orang pun akan gampang berpikir. Kawin aja dulu, ntar kalo ga cocok lagi, ya cerai. Harta dihitung dari sekarang.
Perempuan yang bercerai tidak lagi membawa aib. Tapi membawa keberuntungan. Tengok aja Andara Early. Alya Rohali. Makin laku lo setelah cerai. Maudy Koesnadi makin ga laku, apa harus cerai untuk ngetop lagi ? Ya terserah televisi.
Masih ada waktu menjaga anak anak kita. Menjaga jati diri mereka dan bangsa. Itu terserah kita. Bukan terserah televisi.
4 komentar:
Saya setuju bahwa acara televisi bisa sangat membahayakan, karena mereka bisa membentuk dan mengubah opini, nilai-nilai moral dan secara perlahan mengubah kultur suatu bangsa. Yang paling bahaya adalah acara info hiburan/selebritis. Banyak nilai yang telah bergeser kalau kita bandingkan dengan era tahun 70 atau 80-an.
Karena itu kita harus selektif dalam menonton acara yg disajikan. Masih ada acara yang positif yang bagus untuk ditonton, walaupun proporsinya memang jauh lebih kecil.
Mendampingi anak-anak kita saat menonton juga perlu kita lakukan.
betul pak Erik. walaupun dilemanya adalah. justru yg akan mendampingi itu, tidak mampu melepaskan diri dari acara yang buruk :)
Kalau membandingi televisi jangan dengan tahun 70an pak...karna pasti beda...tahun segitu kan TVRI ga punya saingan jadi mo dikasih apa juga ya mata orang pasti kesatu stasiun ....Penawaran akan selalu bersaing apapun itu...tinggal yang melihat yang seharusnya mengontrol kepentingan untuk pribadi masing2.
setuju. justru karna tak mampu melawan kuasa 'penawaran' inilah saya pribadi kuatir secara pribadi.
Posting Komentar