Kamis, 20 November 2008

* ASKING

****** Einstein itu selalu bisa memberikan jawaban terhadap pertanyaan apapun. Thomas Alpha Edison juga jagoan dalam menemukan jawaban. Habibie, Nelson Mandela, Jenderal Sudirman, semuanya adalah jawaban bagi setiap pertanyaan. Habibie menjadi jawaban atas kebisa atau ketidak bisaan negara ini tidak hanya sebagai konsumen teknologi tinggi. Mandela, manusia bukan biasa itu, adalah jawaban atas kemungkinan terjadinya persamaan hak tanpa memandang warna kulit. Jenderal Sudirman, panglima besar itu, jawaban buat pertanyaan apakah bangsa ini punya daya juang untuk keluar dari bayang bayang 'perbudakan'. Mereka adalah jawaban.

Mereka ada memang diciptakan untuk menyediakan jawaban. Banyak orang ada untuk menjadi jawaban. Kita tidak pernah menyadari itu. Pada kondisi lain, lebih mudah mengetahui bahwa kita adalah penyedia jawaban, tapi kita sendiri tidak mengerti buat apa kita berusaha menjadi jawaban. Ada yang lebih memiriskan hati, ketika banyak orang merasa sebagai jawaban. Merasa dia baru saja dapat wangsit, dan merasa apa yang didapatnya pada kepalanya adalah jawaban yang valid dan harus diceritakan kepada banyak orang. Parahnya lagi, orang banyak ini dipaksa untuk percaya. Makanya nongol di televisi 'anda tidak cocok bekerja di air'.


Ada waktunya kita berdiam diri sebentar, untuk memahami apakah kita adalah pusat jawaban yang valid. Di banding hanya sekedar berfokus kepada jawaban, cobalah yakinkan diri bahwa yang kita berikan adalah berdasarkan kesadaran diri yang sahih. Uji dulu pendirian dan kadar pengetahuan anda terhadap seberapa kuatnya anda menguasai diri dan keadaan. Ciptakanlah banyak pertanyaan untuk dijawab sendiri. Beberapa pertanyaan yang sederhana yang mungkin kita tidak pernah tanyakan, dan yang lebih mengerikan lagi, kita tidak tau jawabannya :

Bagaimana proses perkenalan sampai kita mengawini pasangan hidup sekarang ?
Saya jamin saya masih bisa menceritakan ulang dari awal, pertengahan sampai akhir. Dan saya tau juga banyak sekali orang yang bisa mengingat dan mengulang kejadiannya dalam kepala. Tetapi saya jauh lebih yakin lagi, jauh lebih banyak orang yang sama sekali tidak ingat apa apa proses kejadiannya. Tiba tiba : ting !!! udah punya anak empat ! Hehehe.... rasanya aneh ya ketika tiba tiba merasa kepala kita mau pecah. 'Iya ya.. bagaimana ceritanya kok dulu bisa ketemu dia ?' Apa yang dulu saya ucapkan sehingga dia bersedia saya kawini ? Untuk membayar utang atas 'kelalaian' ini, cobalah ingat kembali. Misalkan, kejadian awal anda ketemu beliau. Di mall ? per wiridan ? kebaktian gereja ? di vihara ? di pura ? Jangan jangan di cafe, atau jangan jangan lagi di diskotik. Kalau kita sudah bisa menemukan jawabannya, kita bisa sadar lo kalau ternyata sikap kita yg tidak bisa menolerir perilaku pasangan adalah kurang tepat. 'Pantesan, kenapa dia senangnya nonton tipi mulu, la wong dulu waktu pacaran saja aku lebih banyak dicuekin karna ada acara televisi yang menarik perhatian dia'.

Berapa kali dalam sehari kita memperhatikan model rambut anak kita yang paling kecil ?
Saya pernah terjebak dan merasa malu, ketika dalam rangka menyenangkan hati anak dan mamanya, saya pura pura ngasih komentar pada rambut anak. 'De (panggilan buat istri), kayaknya kak Iyank perlu potong rambut nih', biar dia keliatan makin cantik. Eee istri saya bilang :'makanya bang, perhatikan anak. Kan baru tiga hari yang lewat dia potong rambut'. Oala, anak ku sendiri engga ku perhatikan. Selain sekedar model rambut anak, coba tanya dua bulan yang lalu tinggi anak kita berapa ? Dibanding minggu lewat, napsu makannya makin bagus apa makin kurang. Apa kita tau pelajaran apa yang paling disenangi dan yang paling menjengkelkan mereka ? Boneka atau robot mainan apa sih yang paling menyita perhatian anak anak ini ? Menurut kita, di masa depan, kita mau anak ini jadi apa ? Untuk mencapai masa depan itu, sudah sejauh mana rencana kita dan pasangan ? Menurut kita, berapa kali kita nelpon anak pada jam kerja setiap hari ? atau bisa tidak kita total jam kebersamaan kita dengan anak dalam seminggu ? Janji apa yang sudah dan belum kita penuhi ?


Kenapa kita memutuskan memilih pekerjaan ini ?

Banyak orang dari antara kita yang suka menyalahkan kondisi dan kebijakan perusahaan atau yang sedang kita jalankan, saat kita merasa jalan sudah mulai buntu. Ya jalan terhadap perkembangan bisnis, maupun jalan terhadap peningkatan karier. Pintu keluar itu ada seribu, dan terbuka setiap saat, bila kita ingin meninggalkan masalah ini begitu saja ! Tapi kita kan tidak bisa seperti itu. Cobalah tanyakan kembali, kok kita memilih perusahaan ini ? Kenapa mesti bisnis ini yang dijalankan ? Bukankah masih banyak peluang lain dan pilihan perusahaan lain ? Bila anda adalah pekerja, cari tau dulu kenapa anda menjebakkan diri ke perusahaan yang menurut anda ini adalah perusahaan yang tidak profesional. Kalau pertanyannya adalah 'cuman perusahaan ini yang menerima', ya sudah, ingat aja jasa perusahaan ini ?

Kalau jawabannya adalah bisnis ini dulu yang menolong kelanjutan hidup anda, yang memberikan keuntungan selama bertahun tahun sehingga and apunya segalanya, tapi sekarang lagi seret, ya ingat saja dulu keuntungan yang diberikan. Jangan jangan jawaban pertanyaannya adalah 'hoki kita ada di bisnis ini'. Berarti, teruskan saja, lebih sadar sedikit.

Ruangan mana di rumah menjadi tempat paling favorit ?
Dari sekian banyak ruangan yang sudah anda siapkan sewaktu membangun rumah, atau menyewa rumah atau apartemen, menurut anda ruangan mana yang paling favorit. Ruangan yang anda pilih untuk dijadikan tempat menghabiskan waktu yang paling banyak. Saya sering memperhatikan rumah rumah besar di sekitar jalan Sudirman Medan, atau di Graha Helvetia, atau di kompleks villa nya Taman setia Budi Indah. Kalau ditebak tebak, minimal rumah yang ada di gedung yang rata-rata berlantai dua itu ada 6 kamar. Itu masih kamar tidur. Pasti banyak ruang lain yang menambah jumlah kamar yang ada. Dari sekian banyak ruang itu, pernah sadar engga ya, ternyata dalam sebulan, ada beberapa ruangan yang sama sekali tidak pernah kita masuki ! Kalau yang ini terjadi, lantas pertanyaannya, apa tujuan kita membangun rumah sebesar ini ? Bagaimana ceritanya sampai kita memilih lahan di tempat yang ada sekarang, apa dasar pemilihan model bangunan, warna gorden, warna cat rumah, dan pemilihan model kitchen set ?

Banyak pertanyaan yang harus kita naikkan untuk dijawab sendiri. Jawaban ini harus kita temukan, untuk meyakinkan kita bahwa semua yang kita lakukan dan yang kita miliki memang terjadi dalam kesadaran diri kita. Bukan terjadi karena 'kecelakaan'. Bos saya suka bilang begini :'Succeed by designed, not by accident'. Kalau semua pertanyaan sudah kita miliki, bolehlah kita berlega hati karna kita adalah orang yang sudah menguasai diri dan keadaan.

Tidak ada komentar: