Selasa, 18 November 2008

* NASEHAT UNTUK PENGUASA

Kantor itu seperti rumah besar yang dihuni banyak orang. Karna hartanya sangat banyak, maka dibutuhkan banyak orang untuk bisa menjaga dan memeliharanya. Tidak sekedar bertahan sebanyak itu, tapi supaya semakin bertambah. Harta yang banyak ini nantinya akan dibagi bagi sebagian kecilnya untuk penghuni rumah. Sebagian besarnya tentu untuk perawatan. Karna banyak yang harus dikerjakan, maka dibutuhkan banyak orang. Semakin banyak orang, akan semakin banyak cara yang akan terlibat dalam pekerjaan. Supaya tidak kacau balau, dipilihlah sebagian orang untuk dtetapkan sebagai pemimpin buat yang lain. Biasanya pada saat pertama sekali mendapat kehormatan sebagai pemimpin, orang akan berusaha menolak kemudahan dan keistimewaan. Ketika kedua hal itu sudah menjadi keharusan yang harus dinikmati, maka pemimpin ini mulai menikmati posisi yang ternyata banyak untungnya ini. Lupalah dia akan janjinya bahwa tugas sebagai pemimpin ini merupakan 'amanah' (hihi... geli aku kalau ada pejabat baru menyampaikan ini pada first punch nya'). Na, pemimpin dari pemimpin tadi tentunya akan menikmati kemudahan dan keistimewaan dari pemimpin yang dia tunjuk. Begitu seterusnya ke atas. Sampai pada suatu waktu, atas kenikmatan ini lahir sebuah tuntutan yang pamrih.
Karna di Medan, maka komunikasi yang terjadi adalah :'Kau ini ku tunjuk jadi pemimpin bukan cuman duduk saja di atas kursi itu. Kerja kau ! Ini yang harus kau kerjakan. Bikin aku senang dengan cara ini :
- Kumpulkan lah banyak uang entah darimana. Jualan pun kau, terserah. Yang penting banyak uang.
- Jangan kau habiskan uang rumah tangga kita. Batas yang paling besar yang bisa kau habiskan cuman satu sen. Sempat lebih entah sebelah keping logam pun, sudahlah, tamatlah 'pemimpin' kau itu. Ku cari ganti mu.
- Kalahkan rumah sebelah. Sempat tak kau kalahkan, berarti salah pilih aku. Apa mau kau ku tuduh salah pilih ?
- Kapan kau ku butuhkan ada, harus ada. Urusan istri mu, anak mu, oppung mu apalagi mertua mu, jangan ceritakan.
- Jam kerja mu, tanpa batas. Karna jam kerja ku pun tidak ada batasnya.
- Jangan sempat ku dengar kau mengeluh karna kekurangan. Taunya aku itu tugas ku untuk memenuhi, tapi jangan sempat ku dengar.
- Kalau ku tanya, jawab cepat. Entah apapun yang kau jawab, asal jawab sajalah.
- Kalau aku lagi diperiksa sama pemimpin ku, cepat kau siapkan laporan. Jangan bikin laporan yang bikin pemimpin ku tak senang. Kalau tak bisa pun kau, usahakan !
- Jangan kritik apa yang ku perintahkan.
- Jangan perbaiki apa yang salah, kalau aku yang bikin salah. Malu aku nanti.
- Kalau ada kesempatan yang bagus, kasih tau aku. Biar aku yang pertama hadir di sana. Kau, belakangan lah.
- Jangan ceritakan masalah bawahan mu. Pantang ku dengar itu. Kalau konflik bawahan mu, berarti kau tak sanggup.
- Jangan minta naik gaji.
- Jangan pikirkan naik pangkat.
- Jangan kasih pendapat untuk perintah ku yang tak manusiawi. Ingat, jangan sempat ku bilang kau tak cocok.
- Tunggu aku sampai berhasil, baru pikirkan keberhasilan mu.
- Jangan berpikir tentang agama mu. Mematuhi perintah ku, lebih baik daripada ibadah agama mu. Ingat itu.

Pemimpin suka terjebak pada urutan yang bikin dia sendiri senang. Daftar ini entah muncul darimana, tapi terjadi begitu saja. Lama lama perannya berganti, bukan lagi pemimpin, tetapi penguasa. Penguasa itu beda dengan pemimpin. Pemimpin itu selalu dihormati, karna pemimpin adalah 'jabatan' yang diberikan oleh pengikutnya. Penguasa itu adalah 'jabatan' yang suka tidak suka harus kita patuhi. Menjadi penguasa bisa dari banyak hal. Sejak dari kepemilikan atas sesuatu atau hanya sekedar tanda tangan pada selembar kertas surat keputusan. Pemimpin biasanya tidak berbatas waktu. Kata orang jakarta, kagak ade matinye. Penguasa sangat berbatas waktu. Kekuatannya hanya ditentukan oleh apa yang dimilikinya. Sama seperti Pejabat yang sekarang suka ngetop di telivisi itu. Dulu mereka itu penguasa. Tanpa tanding lagi. Apa yang dititahkan pasti harus terjadi. Tapi hari hari sekarang, mereka bukan lagi siapa siapa, karna modal kekuatannya hanya selembar tanda tangan pada surat keputusan. Lantas, enak mana Penguasa dibanding Pemimpin ? karna pertimbangan batas waktu, ya lebih baik milih pemimpin. Untuk jadi pemimpin, maka daftar tadi akan dibalik seperti ini :

- Kumpulkan lah banyak uang sekuat mu, sekuat ku, dan sekuat rumah kita ini. Jangan curi.
- Habiskalah uang rumah tangga sesuai kebutuhan kita.
- Kalahkan rumah sebelah. Tapi kalahkan mereka agar kita menjadi benar benar lebih baik.
- Kapan kau ku butuhkan ada, harus ada. Tapi urusan keluarga mu bisa mematahkan urusan pribadi rumah kita.
- Bekerjalah pada jam kerja mu.
- Usahakan jangan mengeluh. Tapi kalau harus mengeluh, jangan sungkan untuk cerita di rumah ini.
- Kalau ku tanya, jawablah seperti apa yang terjadi. Jawaban kegagalan lebih baik daripada kebohongan kesuksesan.
- Siapkan laporan seperti yang sudah kita sepakati.
- Kalau mau kritik, silahkan. Tapi tolong jaga perasaan ku ya.
- Kalau mau memperbaiki kesalahan ku, ngobrolnya berdua saja ya.
- Kalau ada kesempatan yang bagus, kasih tau aku. Biar kita lihat apa yang bisa kita lakukan untuk mu.
- Jangan ceritakan masalah bawahan mu sebagai alasan gagal. Usahakan atasi bawahan mu, ajak aku mengatasinya.
- Jangan minta naik gaji dulu, kita harus hitung dulu berapa yang kita dapat.
- Jangan pikirkan naik pangkat sekarang. Sebentar lagi kami pasti diskusikan itu.
- Jangan diam saja kalau ada perintah ku yang tak manusiawi. Jangan jebloskan aku jadi orang jahat ya.
- Jangan tunggu kapan aku berhasil. Usahakan kamu berhasil lebih dulu.
- Jangan terlau berpikir tentang rumah ini. Agama mu lebih penting dari isi rumah ini. Ingat itu.

Tidak ada komentar: