Selasa, 18 November 2008

* MAKHLUK ISTIMEWA

Jam sebelas malam. 18 nopember 2008. Tidak seperti biasanya, keempat makhluk yang paling indah ini, tiga diantaranya anak anak kecil : anak ku ! dan yang satu bukan lagi anak kecil, dia adalah ibu dari anak anak kecil tadi : istri ku ! sudah terlelap dalam waktu satu jam. Kamar kami tidak besar, cuman sekian kali sekian meter, tapi cukup luas buat kami berlima untuk melakukan apa saja. Disini saya dan istri bisa menguji ketahanan gendang telinga mendengar teriakan mereka. Makin dilarang makin keraslah suara itu. Istri saya suka marah untuk mendiamkan anak anak. Saya tidak setuju dengan sikap istri, tapi tidak menentang berlebihan. Saya cuman bilang gini : 'syukurlah de, rumah kita bisa ribut begini oleh suara anak anak. ade tau, berapa banyak rumah yang menginginkan suara ribut seperti ini ?'. jawaban istri, ya seperti biasa : 'sudahlah botak, bisa aja abang bikin alasan'. Kamar ini juga tempat uji ketahanan pegas pegas yang ada di bed kami. Tiga tiganya, bayangkan ada makhluk indah tiga sosok, satu kelas empat es de, satu kelas satu es de, dan yang satunya belum sekolah, tapi pantang tak lebih tau dari yang sudah kuliah sekalipun, berlomba loncat paling tinggi tepat di atas tempat tidur ! Yaa seperti biasa lagi, hanya marah yang disenangi istri untuk menyuruh anak anak luar biasa ini untuk berhenti lompat. Seperti biasa pula, saya sok bijak :'sudah lah de, lebih sayang spring bed atau anak ?; kalau spring bed rusak bisa beli lagi, kegembiraann anak anak karna cuman loncat loncat, engga bisa dibeli'... Jawaban istri ? ya itu tadi... kebotakan lagi yang diserang. but, I love the way she call me like that. She's my wife. Do as she gonna do. I am hers.
Malam ini anak saya yang kelas satu es de itu kurang sehat. Ini malam ketiga dia sakit. Anak ini anak terhebat yang pernah saya tau. Pemilik fisik yang luar biasa. Saya yakin, nanti besarnya anak ini adalah sang superman sejati. Besok anak ini sembuh, dan akan melakukan tugas rutinnya kembali. Menguji ketahanan pegas bed.
Saya perhatikan wajah keempat orang ini satu per satu. Pertama tentu istri. Saat tidur, adalah saat yang paling khusuk bagi saya untuk memperhatikan lagi raut wajah istri. Setiap melihat garis bibirnya, saya selalu masuk ke ruang waktu untuk kembali ke tahun sebelum saya putuskan untuk memintanya menjadi istri. Itu sepuluh tahun yang silam. Saya masih hapal baris ke empat pada lorong kedua dari kiri bangku gereja hkbp Palembang. Waktu itu saya sama sekali tidak pernah memperhatikan jalannya ibadah. Saya harus melakukan sesuatu waktu itu. Meminang orang yang duduk disebelah kiri, ya yang sekarang wajahnya sedang saya perhatikan ini. 'De, ini di dalam gereja, semoga tidak ada kebohongan di hati abang. Tuhan jadi saksi, hari ini, saya mohon bersedialah menjadi istri ku'. Melakukan itu sambil mata tetap menuju podium gereja, sama seperti pertama kali menaiki papan seluncur, langsung didorong dari puncak curam sebuah gunung es. Puji Tuhan, ternyata dia mau. Lahirlah anak kami yang tiga ini.
Wajah istri ku ini semakin matang. Sudah bisa saya bayangkan capeknya seharian memperhatikan anak anak dan rumah. Thanks ya de. Dia bersedia meninggalkan profesi seorang bankir, karna tidak rela anaknya dibesarkan orang lain. Hehe, istri siapa yang mau seperti dia ?
Anak anak ini. yang satu tidur telentang, tangannya lunglai berbaris ke atas melewati kepala. Yang satu lagi tidur tengkurap dengan kaki sebelah tertekuk. Yang lainnya tidur santai dengan kaki ditaruh di atas kakinya yang satu. Ini gaya Kevin Axel Pasaribu. Laki laki paling sempurna. Well. saat saat seperti ini, saya suka mengangkat sebelah tangan dan mengarahkannya ke mereka bertiga berganti gantian. Semoga Tuhan menyayangi anak anak ku ini, karna mereka adalah anak anak Tuhan sendiri, yang kebetulan saja menjadi anak ku. Semoga Tuhan merawat dan memelihara anak anak ku ini, seperti Tuhan merawat setiap helai rambut yang ada di seluruh kepala manusia. Anak anak ku ini menjadi orang yang suka membantu orang lain, karna itulah gunanya kita diciptakan semakin banyak dan semakin banyak : untuk saling bantu. Musuh mana pun akan segan kepada mereka. Semua kawan akan mencintai dan mendukung. Apa yang akan mereka ucapkan adalah kebaikan dan akan memberi kelegaan bagi siapa saja. Yang mereka perbuat adalah bukan hal yang biasa biasa. Mereka akan selalu hadir dan terlibat pada segala perkara yang luar biasa. Setiap media akan menceritakan tentang kekaguman mereka terhadap keturunan ku ini. Seperti cinta kepada Daud, semoga anak anak ku mendapatkan kasih sayang dari Tuhan. Seperti pembelaannya kepada Yakub, begitulah perlindungan Tuhan untuk anak anak ku. Mereka tidak membedakan apa itu agama dan suku. Karna semua warna kulit akan memandang mereka dengan kagum. Setiap pertolongan yang mereka berikan kepada siapapun, adalah merupakan bagian dari tugas yang akan saya turunkan nanti untuk mereka. Kegagalan yang ku alami akan berhenti di ujung kepala ku, tidak turun ke mereka. Kekerdilan jiwa akan mati bersama runtuhnya helai rambut dari kepala ku, tidak menimpa mereka. Kekuatiran yang berlebih, ketakutan tak beralasan bukanlah bagian dari nafas mereka. Biarlah itu menjadi milik ku. Penyakit menahun dan berulang biarlah menjadi makanan tulang ku, tidak akan diwarisi oleh darah mereka. Kemiskinan adalah puncak roda pedati ku, biarlah putaran roda pedati mereka adalah kemakmuran yang berlebih. Supaya seperti tirisan atap, rejeki mereka akan menyirami banyak orang. Kemarahan Tuhan biarlah hanya jatuh di atas kepala ku, tapi berkat berlimpah dan perlindungan Tuhan menjadi tiang awan di atas kepala mereka. setiap hari.
MMM.... Tuhan, Tuhan mendengarkan aku kan ? terimakasih, karna semuanya ku rasakan Tuhan bicara di aliran darah ku. Haleluya.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

kepala kluarga yang nyaris sempurna.
wish i have one like this at home.