Hari ini adalah hari kedua saya ngikutin sebuah pelatihan. Yang sedang dipelajari adalah sebuah aplikasi baru (lagi). Memang ada pemeo 'yang abadi adalah perubahan'. Aplikasi baru ini adalah bagian dari perubahan perubahan baru itu. Untuk bisa tetap mengikuti perkembangan apapun, setiap orang wajib mengikuti dan menyesuaikan diri terhadap perubahan. Untuk aplikasi ini, saya agak sungkan menyampaikan isi hati. Rasanya sulit sekali mengikuti 'perubahan' yang satu ini. Saking banyaknya perubahan baru, maka begitu ada kabar tentang akan diluncurkannya 'teknologi' baru yang akan merubah banyak hal, tanggapan saya jadi naif : 'hah ! baru lagi ?'. 'prasaan yang baru kemaren belum hilang bau bau barunya'.
Entah karna faktor usia, atau karna awalnya sudah dicemari oleh sikap resisten, rasanya susaah sekali memahami apapun yang disampaikan instruktur. Baru jalan dua jam, saya udah mulai menyerah :'ampunlah mak, tak sanggup aku ngikutin materi ini'. Asli saya mulai malas malasan ngikutinnya. Tapi karna saya perhatikan yang lain masih saja asik dan bisa mengikuti materi, saya cepat cepat berpikir :'jangan jangan masalahnya bukan di materi, tapi justru bagaimana saya bisa menerima atau tidak'. Ajaib, begitu kalimat sakti itu melayang layang di kepala, saya, orang yang tidak ingin dikalahkan oleh kelemahan, langsung ngejreng untuk segera online dengan aplikasi ini. Dan ternyata, bisa tuh.
Sadar atau tidak, seringkali halangan untuk bisa melakukan apa saja, muncul bukan dari apa yang akan dilakukan. Tetapi justru tumbuh dari sikap dan niat kita untuk mau atau tidak. Bagaimana kita yakin kita tidak bisa, kalau mencoba saja tidak mau. Bagaimana kita bisa menganggap diri gagal, kalau sedetik pun kita belum mencemplungkan diri untuk melakukan apa yang menurut kita tidak bakal bisa itu. Orang orang bijak akan mudah mengeluarkan kalimat lembut gini : ayolah, coba dulu. Coba bayangkan gini. Kita ingin sekali menaruh sesuatu atau mengambil sesuatu dari puncak pohon tinggi. Kalau kita hanya berhenti di bawah bayangan daun yang lebat, sampai bongkok pun kita tidak bisa tau kita bisa sampai atau tidak di puncak. Bukannya sampai ke puncak, yang ada leher kita bisa patah. Okelah kita mungkin tidak kuat secara fisik. Tapi daripada cuman berpikir saja untuk bisa sampai ke puncak, kenapa tidak dimulai saja mendaki tahap tahap yang paling rendah dulu ? Kerjakan saja dulu apa yang bisa dikerjakan. Kalau bisanya cuman melangkah tiga langkah, ya langkahkan saja tiga langkah. Jangan pula untuk sekedar tiga langkah saja pun, kita lama sekali berpikir untuk mulai apa tidak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar