Rabu, 26 November 2008

* CHEERS : FOUND THE LOST PIECE

....... Hey, look what I've found here ! A very little piece of puzzle I lost last day !... Untunglah upaya keras untuk mau berpikir akhirnya membuat saya berhasil menemukan potongan yang hilang. Upaya keras itu adalah terus menerus berpikir tentang ide baru. Ide baru bisa menyegarkan jiwa dan memelihara hidupnya harapan kita untuk tetap hidup. Ide bukanlah, menurut saya sesuatu yang luar biasa. Seperti saat Archimedes menemukan dalilnya. Atau Newton sang super jenius itu menemukan formula yang maha sulit. Ide itu seperti anda berpikir cara baru menelan sebiji bakso yang sudah dikunyah. Apa yang kita lakukan selama ini ketika mengunyah bakso ? Ya mengunyah saja kan ? Ide adalah apakah kita akan mengunyah dengan cara seperti selama ini kita lakukan atau mengunyah dengan cara baru : sambil dengar musik; sambil tersenyum; sambil jumpalitan; atau sambil lari larian ! Ini namanya ide. Belum dimasukkan ke kategori 'cemerlang', 'biasa', atau 'gila'. Toh Armstrong bilang 'one little step on a human, a big step for the
humankind' (gitu lengkapnya ya.. ).

................... Potongan yang hilang yang saya temukan adalah ini :

1. Terlalu yakin bahwa cara sudah efektif.
Rupanya, kita tidak boleh terlalu yakin kepada metode atau cara apapun yang biasa kita lakukan. Evaluasi itu sangat penting dan menjadi kunci peningkatan kesuksesan pribadi (dan unit tentunya). Well. Kami pikir cara yang sudah kami lakukan ini sudah bisa dijadikan sebagai jawaban yang paling valid. Kemaren kemaren memang, cara ini memberikan hasil yang luar biasa. Tapi, mengikuti perputaran waktu, keusangan juga berjalan sangat cepat. Bisa jadi keusangan akan terjadi dalam hitungan hari. Pantesan, kok beberapa minggu ini hasilnya segini segini saja. Kemungkinan besar cara ini efektif karena 'pelanggan' kami merasakan 'pendekatan' yang kami berikan beberapa bulan lalu sangat menyentuh mereka. Sama seperti ketika kita mulai membangun hubungan. Pertama kali nerima telepon ada rasa gemetar....'mak jang, ditelponnya aku mak'.... Kali kedua pada waktu yang sama kita terima call dari orang istimewa itu, masih juga bergetar. Malah bikin kita semakin tinggi melayang. Kali ketiga, keempat dan seterusnya ? pada waktu yang sama persis pula ? ... ya tinggal bikin announcer 'di rumah. tidur. sendiri'. (meminjam salah satu iklan)... Cara ini yang menurut saya usang, dan kami nekad melakukannya terus menerus.

2. Membiarkan diri menjadi reaktif.
Yang terjadi selama ini, rupanya, kami terlalu reaktif. Buat saya ini salah satu kondisi yang dominan 'mengagalkan' ambisi yang sudah kami tetapkan. Reaktif itu ternyata jelek. Karena
reaktif itu,
adalah tindakan yang akan muncul bila ada rangsang dari luar. Ketika garis
performansi kami stagnan, ga ada naik naiknya lagi, baru kita kalang kabut untuk berpikir untuk melakukan apa. Sewaktu grafik cenderung menanjak, effort kita turunkan. Ini tidak boleh terjadi lagi. Seperti perlombaan off road, ternyata gear kita harus tetap di double gardan, sampai kita yakin bahwa kita sudah berada di jalur tanah kering dan keras. Kalau masih ada becek beceknya walaupun sedikit, kita harus menganggap masih berada di jalur perlombaan.

3. Steered by Calendar
Kalender di ruang kerja harus diganti. Sebaiknya tanggal 25 ke atas sudah harus kita robek jauh jauh hari. Anda tau tidak, kebiasaan kita adalah menunggu saat saat kritis ini pas pada saat kalender menunjukkan angka disini ! Saya terjebak karena kalender ini lo. Saya akan namakan kondisi sebagai : Steered by Calendar ! Energi kita dipacu keluar kok justru waktu tinggal berapa hari lagi. Ini yang salah, yang terjadi selama sebulan ini. Ini tidak boleh terjadi lagi. Garis finish harus dimajukan. Artinya, target yang semula kita tetapkan akan berada pada tanggal akhir bulan, harus segera dimajukan. Terserah mau di tanggal 20, 21 atau tanggal berapa, yang penting jauh sebelum tanggal akhir bulan. Resikonya memang seluruh indera harus tetap siaga sampai tanggal 25 ini kita temukan.

Tak sia sia ya kekuatan dobelgardan. Tak perduli jalan terjal, mendaki, longsoran apalagi sekedar lumpur, say no to 'menyerah'.

Tidak ada komentar: