.----------- Tangan itu, adalah salah satu anggota tubuh yang bisa merefleksikan apa yang ada dalam hati dan pikiran. Hati dan pikiran, (baca:perasaan, bukan liver :)) biasanya akan mengikuti rencana rencana gerak anggota tubuh.... Bah, jadi macam telur sama ayam ya. Mana yang duluan. Kalau pikiran kosong, jangan harap anggota tubuh bakal melakukan apa apa. Kalau anggota tubuh juga tak ada upaya untuk melakukan gerakan pada vektor mana pun, jangan harap hati dan pikiran akan melakukan apa apa untuk mengorganisasinya.----------
Ada anak yang punya kebiasaan berjalan tertatih. Jangan kata berlari kencang, untuk sekedar lari lari kecil saja pun, tidak mungkin mampu. Kenapa ya, padahal kalau fisiknya diperiksa secara medis, hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada masalah pada kedua kaki. Tapi kenapa tetap tidak bisa lari kencang ? ......... kita simpan dululah pertanyaan ini.
Sekali waktu, tiba tiba anak ini bisa berlari dengan kecepatan luar biasa. Jangan kata langkah cepat orang dewasa, yang lagi naik kendaraan sepeda, bisa dilewati dengan mudah. Agak aneh memang, di belakangnya ada seekor anjing setengah dewasa. Kelihatan 'sih' si doggy ini girang sekali mengikutinya. Mungkin saking senangnya, guk guk nya keras sekali. Semakin kencang guk guk si doggy, semakin cepat pula lari si anak tadi. Saya jadi kagum. Ini kan anak tadi yang kakinya 'lemah' ?
Ketika si doggy yang juga frustrasi tidak bisa mengikuti, dan berhenti mengejar :), anak ini pun berhenti. Ini kesempatan untuk melakukan sedikit wawancara : 'oi Tongat, yang kencang lah lari kau hari ini. Biasanya, tak pernah pernah ku tengok kau lari sikit pun. Baru ikut latihan atletik kau nak ku ? .... Anak ini tidak bisa menjawab, kecuali di matanya mengalir air yang tumpah ruah. Lebih meluap dibanding keringat yang basah di kening dan baju. Dia sama sekali tidak ngomong, cuman mendesis dalam hati : 'Tak punya perasaan pun tulang ini. Udah setengah mati pun aku lari dari kejaran si doggy loak itu, dibilangnya pulak latihan !'
Tidak ada yang tidak bisa. Percayalah, semuanya bisa. Apapun yang mau kita lakukan, akan bisa. Gagal sekali, coba lagi. Seperti Nick Vudijic bilang 'If you failed, what would you do ?... the answer is : 'Try again !. Yupe, coba lagi kalau gagal. Beberapa tahun lalu, saya dan seorang sahabat mencoba coba ketajaman naluri dan instink bisnis. Kita coba dagang mobil bekas. Pertama muncul pertanyaan : 'apa kita bisa dagang mobil ? mesin tak ngerti, harga pasar tak tau, koneksi tidak punya, pengalaman ? apalagi !'. Untungnya kami sepakat untuk tidak menunggu jawaban jawaban ini. Yang pertama kami lakukan adalah : Menjadi pebisnis mobil second ! Modal awal ? ya, mobil yang sedang kami gunakan sehari-hari. Cerita lucunya, tanpa sengaja mobil saya betul betul laku terjual, walau untungnya kecil sekali. Transaksi jual beli dilakukan di bank. Girang sekali. Keluar dari bank kita sepakat untuk bubar sementara. Dia langsung saja 'ngeloyor' menuju mobilnya. Giliran saya kebingungan. Sebelum dia melajukan kendaraan, saya langsung teriak : 'Sam, aku pulang naik apa ?'........
Sebulan dua bulan melakukan usaha ini, banyak gagal kami alami. Dan sepakat lagi, untuk 'try again !'. Kami sepakat menyebut kegagalan pertama dan berikutnya sebagai 'UANG SEKOLAH'.
Saya bukan sedang memamerkan bahwa saya pebisnis. Pesannya adalah title posting kali ini : 'say can, and will can'. Biar sajalah melanggar kaidah pronounciation atau apalah namanya dalam krama English language. Buat saya tidak perlu sekali kaidah kaidah (kecuali nilai moral, adat, dan agama lo ya), dalam melakukan menciptakan apapun. Yang penting pesannya sampai.
Seperti anak kecil yang merasa lemah tadi. Asal kita bilang 'bisa'. Pasti bisa. Memang 'sih' ada yang langsung bisa, bisa tapi menunggu agak lama, bisa tapi menunggu lama, ada juga bisa tapi lamaaaaa sekali. Yang penting : Bisa ! Anak kecil tadi tiba tiba menjadi Carl Lewis karna hati dan pikirannya punya niatan untuk menggalang seluruh anggota tubuh, mengangkat tubuhnya melayang dari tanah. Anggota tubuhnya pun meresponi apa yang sudah diniatkan tadi. Kita juga gitu. Niatkan saja dulu, setelah itu, cepat cepat direspon. ... Ada pepatah, atau apa namanya ya, asli saya lupa, yang bilang : Mulut mu, harimau mu. Kalau arti harfiah yang sering saya dengar sih, kejadian yang akan kita alami biasanya karna apa yang kita ucapkan. Artinya, bisa saja kita mengalami kejadian tidak mengenakkan karna kita tidak bisa menjaga mulut. Buat saya, agak dipelintir. Itu artinya, kita bisa menjadi apa saja. Atau tidak bisa untuk menjadi apa saja, tergantung dari apa yang kita ucapkan.
Sewaktu anak ditanya : 'kira kira ujian nanti, bisa kan nak ?' Kalau dia bilang bisa, percayalah, dia pasti bisa. Kalau pun nilainya agak jelek, itu bukan karna tidak bisa. Itu cuman karna keliru saja menjawab. Tidak terlalu masalah lah.
Pikiran kita membawa kita ke arah mana yang sudah dituju oleh pikiran. Mungkin anda pernah merasakan, kok tiba tiba kita sudah memarkirkan mobil di car park sebuah mall. Padahal tidak ada dalam catatan rencana untuk mengunjungi mall itu. Entah kenapa pula kita belanja barang, yang setelah di rumah, kita sadar kita kurang membutuhkannya. Buat saya itu adalah Mind Driven. Sudah diarahkan pikiran. Kalau kita punya kekuatan terpendam ini, kenapa tidak kita mulai saja dari sekarang. Menguasai pikiran, dan memikirkan hal hal yang BISA.
Ini rahasia kenapa karier orang bisa cepat menanjak kaya starlet (meteor), sementara yang seorang lainnya, agak lambat. Jangankan macam gerakan awan, bemo yang tidak ada bensinnya, ban kempes, hilang pula rodanya lebih cepat dari kariernya. Sewaktu ditanya bos besar :'Bagaimana ? Anda sanggup mencapai sejuta unit dalam dua hari ini ?' Nasib ditentukan oleh kecepatan menjawab ! Yang satu buka dulu historis pencapaian, yang satu lagi, dengan tanpa merasa bersalah langsung menjawab : 'Bisa Bos !' Ya sudah, SK promosi jadi miliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar