Rabu, 03 Desember 2008

* Janji !!! ada di mana engkau kini ?

............. Wahai Fulan, apakah engkau menerima si Ani (pengganti Anu, karna cewe) sebagai istri mu. Melindunginya dan mencintainya dikala suka maupun duka, sampai kematian memisahkan kalian ?.. dan dijawab : I do !...

Itu kalimat yang harus diucapkan pada prosesi perkawinan di gereja tertentu. Mengucapkan janji nikah. Sewaktu mengucapkan ini, pastilah dada rasanya mau meledak. Pipi pun kembang kempis menahan napas haru. Kaki rasanya tak kuat berdiri. Dan, orang yang disebelah, yang kepadanya janji diucapkan, memandang tanpa henti dan penuh harap. Menyerahkan pasrah pada komitmen sosok yang sudah 'mematrikan' hidup pada orang yang menyumpahkan janji. Wajar donk perasaan dipenuhi oleh napsu untuk memegang janji ini seumur hidup. At all Cost, at any manner.

'Kenapa anda memilih perusahaan ini ?' dijawab, 'untuk mengabdikan diri saya kepada perusahaan dan negeri ini, melalui kemampuan yang saya miliki'. Sewaktu mengucapkan ini, dada pun bergetar hebat, berharap penuh agar janji ini melunakkan hati si pewawancara. Harap harap agar diterima menjadi bagian dari perusahaan yang sedang dilamar.

'Kalau saya tanya. Seandainya anda diterima, dimana posisi yang anda inginkan untuk bekerja ?' dijawab :'saya bersedia ditempatkan dimana saja, di seluruh Indonesia. Kalau perlu luar negeri sekalipun'. Janji itu diucapkan mantap. Tanpa ragu sedikitpun. Tujuannya ? Ya itu, supaya luruhlah hati perusahaan ini dan menyatakan 'yes, we hire you'.

..................... Di segala tempat dan keadaan, janji adalah senjata paling ampuh dan murah untuk diucapkan kepada siapa saja, dalam rangka memuluskan keinginan kita untuk mendapatkan apapun. Kita kadang mengucapkan itu di luar batas kesadaran manusiawi. Kalau sudah dipikir pikir ulang, bisa saja kita kaget :'gila, masak aku pernah ngomongin itu sih ?'.
Janji itu sama seperti sumpah. Kalau dilanggar tidak akan ada hukuman legalnya, kecuali hukum norma. 'Wah, orang itu mah, manis mulut. Jangan percaya sama janjinya. Dikadalin lue !'
Saya lagi berpikir pikir. Berapa janji yang pernah saya hambur hamburkan kepada siapa saja. Ke istri, orang tua, mertua, saudara, dan yang terpenting : kepada perusahaan tempat saya mendapatkan kehidupan layak. Oke, saya punya side job dengan hasil yang tidak bisa dibilang sekedar cukup. Tapi saya masih ingat terus kata 'untuk mengabdikan diri kepada perusahaan. Saya suka sedih mendengar orang yang punya side job bagus, penghasilan yang sudah mengalahkan salary bulanan, enteng ngomong gini : 'gaji dari perusahaan si, ga gw lirik lagi bos. Jauh di bawah side job gue'. Dia mungkin mengira dirinya luar biasa hebat. Sampai sampai tega merendahkan perusahaan yang nyata nyata adalah tempat mula mula dia mendapatkan kehidupan yang layak. Perusahaan yang memberikan 'kelas baru' untuk tingkat sosialnya, sehingga orang lain, yang mungkin menjadi bagian dari side jobnya mengakui keberadaannya. Coba kalau bukan karena nama besar perusahaan yang ada di belakang ? Ga bakal direken orang. Taruhan kita. Eh, janganlah, judi itu ga boleh.
Dulu sekali, sewaktu belum mendapatkan pekerjaan, banyak orang akan punya pikiran yang sama : 'mau kerja apapun, di perusahaan mana pun, yang penting kerja dulu lah'. Sekarang ? diminta untuk over time sekitar sejam dua jam saja, mulai hitung hitungan. Digeser posisinya ke tempat lain, mulai hitung hitungan dan ditambah protes segala. Seakan akan dia adalah bagian dari pendiri perusahaan. Lo, bukankah dulu, orang ini adalah orang yang tegas berjanji 'bersedia ditempatkan di manapun ?' Kenapa sekarang berubah jadi banci ? hehehe... ya jelas bancilah orang yang mulai melupakan janji awal.
Gadjah Mada itu pernah berjanji, tidak akan memakan buah Palapa/sama dengan buah maja ?(mungkin sudah engga ada lagi ya) sebelum nusantara bersatu dibawah kekuasaan Majapahit. Gadjah Mada sudah lama wafat. Saya tidak tau, apakah buah Maja itu disukai beliau, dan apakah pernah dimakan ? Toh, Majapahit tidak pernah berhasil menyatukan Nusantara di bawah kekuasaannya ?
Untuk orang orang yang mulai kehilangan gairah memberikan energi yang terbaik, rasanya perlu membuka lembaran lama, berapa janji yang pernah terucap, dan berapa janji yang sudah dilanggar ? Masih ada waktu kok untuk mencicil pembayaran janji itu. Be a man.

Tidak ada komentar: