Selasa, 09 Desember 2008

* WHAT A KIDS




.................. tadi malam, perayaan menyambut natal untuk lingkungan selesai kami laksanakan. Acaranya tidak seperti biasanya, yang penuh formalitas, agak sedikit kaku dan bahkan cenderung boring. Kami melakukan sedikit perubahan. Sebenarnya tidak sedikitlah, sangat ekstrim malah. Saya suka lihat anak-anak dengan baju merah, teriak sana sini, menari dengan gemulai. Saya dan beberapa personil yang terlibat dalam kepanitiaan tersenyum lebar dan semakin melebar. Kondisi ini betul betul sudah kami harapkan dan rencanakan. Christmas for kids. Biasanya kan, setiap acara ritual seperti ini, seluruh orang tua akan terkonsentrasi untuk mendiamkan anak anaknya. Suara 'pssssssttt...' pasti jamak kedengaran. Tapi tadi malam, hampir tidak ada. Anak anak yang mau lari larian, biar aja lari larian. Yang mau haha hihi dengan temannya, bebas saja melakukan itu. Full expressive !
Acara tadi malam bisa kami jalankan, semuanya atas kerja keras anak-anak ! Semua hal berjalan dengan sangat baik, hanya oleh karena anak-anak ! Coba kalau anak-anaknya tidak ada. Orang dewasa mana yang mau cape cape ngumpulin ide dan tenaga untuk merancang acara rumit kaya gini. Pengumpulan dana Natal pun, semuanya dilakukan oleh anak-anak. Orang dewasanya cuman 'mengintili' (bahasa betawi : ngikutin) doank ! Anda tau, dana yang terkumpul sebanyak 100 persen lebih besar dari yang kami perkirakan. Coba kalau itu dilakukan oleh orang dewasa. Liat wajah kita mengetuk rumah saja pun, hehhehee.. sudah malas mereka. Lah ini, anak kecil lo. Anak anak lugu, yang di tangan kirinya menggenggam minuman kotak, dan di tangan kanannya, memegangi kotak sumbangan. Mereka tidak banyak omong. Tidak perlu cerita latar belakang, manfaat dan tujuan, serta rincian. Mereka mengetuk pintu rumah. 'shalooom' nya pun pake teriak. Sampai di ruang tamu, minuman kotak masih saja diseruput. Kotak sumbangan di taruh di meja. Mereka cuman omong gini : 'Omm, tante, kita mau ngerayain natal nih. Tapi, natalnya bakal jadi kalau omm dan tante mau nyumbang. Kalau ga nyumbang, ya ga jadi. Kasih dananya yang banyak ya omm... ya tante..' Yang dimintain sumbangan, diam seribu bahasa. Yang bisa mereka lakukan cuman ketawa ngakak 'lo, pengumpul dananya anak kecil ?' Ibu ibu pendamping cuman duduk manis agak menjauh. Saya sendiri, semakin manis duduk di kursi supir. Waiting on the car !
Hehe.. saya yakin banyak sekali teman saya yang tidak termasuk dalam kepanitiaan ngomel sepanjang hari :'dasar panitia, sukanya aneh-aneh'. Kita cuman bilang gini untuk meredam kegundahan mereka : 'sudahlah kawan-kawan, tahun depan masih ada natal lagi. nanti kita bikin acara yang biasa biasa saja. untuk tahun ini, biarkan dulu yang kurang biasa'.
Anak-anak. Kita sering tidak sadar kekuatan yang ada pada mereka. Secara fisik, mereka cuman makhluk makhluk kecil yang manis (kadang-kadang suka bikin kita esmosi juga.. hehehe..), nalarnya jauh di 'bawah' nalar kita (ah, yang bener. saya sering menemukan, nalar anak anak saya melebih apa yang saya pikirkan), dan kita merasa mereka masih tergantung kepada kita. Padahal itu tidak benar semua. Kita lah yang suka tergantung sama anak anak !
Coba pikirkan sekali lagi. Kenapa kita (ini buat yang punya anak anak lo ya, sorry to say) 'nekad' bekerja seperti mesin. Kita suka melakukan hal hal yang bahkan tidak pantas demi mengumpulkan materi. Semuanya, untuk anak anak. Yang kerja itu kita. Yang punya kemampuan beli itu kita. Tapi kalau sudah berada di showroom mobil, apa anda berani begitu saja memutuskan type mobil dan warnanya ? berani taruhan lah (eh, janganlah, judi ga boleh), pasti ada pertanyaan : 'anak anak suka engga ya ?' atau pertanyaan lain : 'type kaya gini kayanya kurang cocok untuk bawa anak-anak'.
Kita punya duit berlebih, dan istri atau kita sendiri tergila gila dengan satu set sofa keluaran terbaru dari Italia. Atau keramik termahal dari cina. Apa kita berani memutuskan untuk langsung beli ? Tidak. Pertimbangannya pasti : anak-anak. Ya mungkin pertimbangan karna takut anak-anak terbentur, tersandung, atau mereka bisa memecahkan barang yang mahal tadi. Intinya, semuanya karna anak-anak.
Saya sendiri pun, kalau sudah mulai tiba pada garis 'puncak kepuasan'. Entah itu di besaran penghasilan, atau apapun. Saya akan 'menginjeksikan' 'anak-anak' ke dalam pembuluh nadi besar. Dan.. 'wuuuuuusssss', energy baru bisa saya dapatkan kembali.

Tidak ada komentar: