Malam kemaren banyak orang sedang bergairah melihat kecepatan gol gol Cristiano Ronaldo. Mungkin juga sedang nonton ceritanya Abdel dan Temon. Ngakaklah kita liat dua orang 'bloon' tapi polos ini. Bisa jadi malam ini satu keluarga sedang makan di cabe rawit Sun Plasa Medan. Atau di Merdeka walk lagi browsing di free hotspot.
Lantas bagaimana perasaan tiga orang ini ? kepastian kapan keputusan apakah mereka masih bisa menjalani hak hidupnya belum ditetapkan juga. Seram juga negara ini ya. Nasib orang yang sudah di bibir jurang maut saja pun masih dipermainkan. Bayangin saja. Kepastian dapat hadiah undian saja diulur ulur, kita sudah sebal bukan kepalang. La ini, kita jadi mati apa engga masih digantung orang lain. Apa namanya ya. Orang yang akan meninggal apa masih merasakan sebal ?
Orientasi Destruktif
Terlepas dari betul atau tidak apa yang dihasilkan oleh pengadilan. Ketiga orang ini sedang menghadapi feedback hasil dari resiko dari apa yang sering mereka lakukan. Orientasi desktruktif yang sering ditunjukkan membuahkan hasil seperti yang sekarang kita lihat
. Vonis mati. Ada satu pesan yang luar biasa yang saya tangkap dari mereka bertiga : menanggung resiko dengan gagah berani. Jangankan menangis, meringis saja pun sama sekali tidak terlihat dari sebaris bibir yang mampu mengeluarkan pengaruh luar biasa ini. Keyakinan yang terus terusan diteriakkan dengan teguh akhirnya bisa merubah mereka dari sekedar figur desktruktif menjadi figur yang kokoh, teguh, dan lurus. Ya, mereka lurus. Apa yang akan dilakukan sudah dipikirkan. Sewaktu melakukan pasti sambil berpikir. Dan hasil dari apa yang dilakukan juga sudah ada dalam pikiran. Sangat lurus.
. Vonis mati. Ada satu pesan yang luar biasa yang saya tangkap dari mereka bertiga : menanggung resiko dengan gagah berani. Jangankan menangis, meringis saja pun sama sekali tidak terlihat dari sebaris bibir yang mampu mengeluarkan pengaruh luar biasa ini. Keyakinan yang terus terusan diteriakkan dengan teguh akhirnya bisa merubah mereka dari sekedar figur desktruktif menjadi figur yang kokoh, teguh, dan lurus. Ya, mereka lurus. Apa yang akan dilakukan sudah dipikirkan. Sewaktu melakukan pasti sambil berpikir. Dan hasil dari apa yang dilakukan juga sudah ada dalam pikiran. Sangat lurus.Vonis mati : orientasi destruktif dalam bentuk lain (?)
Orang melakukan kesalahan, sengaja atau tidak, seharusnya masih mendapat kesempatan kedua untuk memperbaiki sikap. Memang sih, ketiga orang ini selalu menjaga citra bahwa mereka adalah para algojo algojo maut tanpa penyesalan. Tapi apa karna itu, lantas atas nama entah apa mereka juga dihancurkan ?

Orang melakukan kesalahan, sengaja atau tidak, seharusnya masih mendapat kesempatan kedua untuk memperbaiki sikap. Memang sih, ketiga orang ini selalu menjaga citra bahwa mereka adalah para algojo algojo maut tanpa penyesalan. Tapi apa karna itu, lantas atas nama entah apa mereka juga dihancurkan ?
Mercy !! please, mercy !!

Kelompok gereja di Australia segencar gencarnya sudah berteriak untuk meminta pemerintah kita untuk punya rasa belas kasihan dengan merubah vonis mati menjadi penjara seumur hidup. Mereka pasti tau resiko bahwa membiarkan orang hidup adalah membiarkan peluang kemungkinan tetap berkembangnya keyakinan keyakinan orientasi destruktif yang memendar dari dalam penjara. Seharusnya kalau hanya sekedar menghentikan atau mencegah kekuatiran ini terjadi, kita kan bisa mulai menjaga keteguhan hati dalam menjalankan pekerjaan. Di penjara, ya jangan dibiarkan alat alat komunikasi bisa digunakan seenaknya. Tergiur sih setumpuk uang yang bisa saja didapat sebagai kompensasi pelanggaran aturan seperti itu.
Pengampunan sebaiknya cepat cepat ditawarkan kepada siapapun...... Tapi untuk manusia sekaliber Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi, mungkin justru mereka lebih memilih mati beneran daripada dimati matiin dengan tawaran penjara seumur hidup ya. Jangan jangan ketika pemerintah bergeming dengan mulai melempar wacana mercy, pengampunan, ketiga orang ini malah mulai ketakutan... : 'yok opo rek pemerintah ki, mosok aku batal jadi 'syahid'. Padahal pak Sahid gitosarjono pemilik jarngan hotel sahid itu, sama sekali engga ngerti apa apa lo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar