Kamis, 29 Januari 2009

* STANDAR

'bang... nanti kalau pulang, tolong lewatkan Garuda ya'. belikan nasi bungkus pake rendang'.... itu suara istri lewat selular. dasar si pemalas, saya mulai menegosiasi 'nanti aja de, abang pulang dulu. nanti sama-sama keluar kita dua. kita makan diluar ya'. jawabannya bikin saya tersentak kaget dan geli : 'kalo di luar, namanya bukan makan nasi bungkus bang'. hehehe.. ya iyalah, masak ya iya donk. duren aja mahal.... (engga ah, ga mau ngikutin tika panggabean, pariban ku itu). kami ternyata sedang bicara masalah standar. dengan kasus nasi bungkus ini, kami membahas standar tentang rasa. rasa ini dipengaruhi oleh selera. bayangin saja, di makan dalam bungkusan daun pisang dengan dimakan dengan hidangan di atas piring, menu nya sama.. nasi putih, setengah porsi udang sambel, sayur singkong rebus setengah, plus ayam goreng. sama saja kan ? tapi istri saya bilang, beda. dia hanya pengen menikmati menu tadi dalam kemasan nasi bungkus. itulah rumitnya kalau orang punya standar yang berbeda.
waktu kuliah, dosen senior kami sering menceritakan mengenai hal ini, dengan referensi apa yang terjadi dilingkungan pegawai yang bekerja di sebuah perusahaan franchise di Moskow. banyak pegawai yang minta berhenti pada bulan ke enam sejak mereka bekerja. setelah dirunut, ditemukan bahwa fasilitas perusahaan ini sangat luarbiasa untuk standar ekonomi negara itu. ada gaji. tunjangan ongkos. makan siang. insentif dan kesehatan. hasil wawancara terhadap pegawai yang mengundurkan diri. mereka tidak puas karna sama sekali tidak diperbolehkan memberikan saran, bantahan apalagi berserikat ! ternyata standar kenyamanan mereka bekerja hanya sepele : bebas ngomong ! gile....
banyak orang sekarang setengah mati meniru apa yang dilakukan tetangganya. tetangga ganti mobil, dia ganti mobil. tetangga beli tipi, dia beli juga tipi. dan biasanya, tentu, yang lebih mahal dan bagus. kalau tetangga 'beli' lagi pendamping baru, apa disaingi juga ya ? yang menderita itu sudah pasti yang meniru. dia ga mau dibilang lebih tidak mampu. sementara yang ditiru dan disaingi ga merasa apa-apa tuh. emang kebetulan duit lebih dari cukup, dan doyannya ganti mobil. dia sama sekali tidak bermaksud pamer. karna meniru, bisa jadi tetangga yang maksain diri ini bergerak di bisnis jual beli. jual mobil beli beras. ya iyalah, orang ga mampu kok sok mampu.
ada juga orang yang sengaja menyisihkan penghasilannya untuk dinikmati dengan cara : travelling. terkumpul sedikit, wuss.. ke singapura. tiga bulan kemudian, ke manila. bulan berikutnya entah ke mana.. mereka happy. mereka sadar bahwa rumah mereka sendiri kurang 'layak' untuk ukuran orang lain. tapi buat mereka, itu engga masalah. standar mereka menikmati penghasilan bukan rumah, tapi travelling. yang travelling happy, tetangganya ngedumel.. 'sok kaya tuh, liat aja rumahnya masih berantakan'. sementara yang ngedumel ? sudah rumah berantakan... tak keluar negeri juga.
untuk pekerjaan di kantor. ada orang memilih dan ngotot untuk menaikkan dirinya ke jenjang atas untuk mengejar salary lebih tinggi. walau dia tau resiko yang dihadapi adalah, otoritasnya semakin terbatas. ada lo organisasi seperti itu. jabatan tinggi, gaji tinggi, tapi otoritas 'teritorinya' terbatas. contohnya kaya gini. pejabat di kantor bupati, dibanding camat. gajinya tinggi mana, dan otoritasnya tinggi mana ? orang yang menganggap standar kenikmatan kerja adalah gaji, akan meninggalkan posisi 'camat' ini. dia jadi 'bawahan' di kantor yang gajinya lebih besar. sementara yang lain. tidak terlalu memikirkan gaji tapi menikmati otoritas penuh yang dimiliki. kalo ditanya, enakan mana : raja kecil di kampung, atau keroco di metropolitan ? jawabannya tergantung standar yang diyakini. kita engga bole maksa orang untuk memilih.
ada pilihan : kawin sama laki-laki/perempuan baik, pintar, kita cintai tapi miskin; atau kawin sama laki-laki/perempuan tidak begitu baik, agak pintar, tidak kita cintai, tapi sangat kaya ? hehehe.. bisa perang sekampung kalo bahas ini. sudah pasti akan muncul gelar 'matre' dan 'naif'. sekali lagi jawabannya, ya tergantung standar yang kita yakini.
dulu, semasa bujangan, ada kawan perempuan saya curhat. dia curhat tentang pacarnya yang sangat menyebalkan, tapi duitnya banyak. dia tanya 'gimana donk'. saya ini suka menikmati pikiran logis : 'putusin aja', kata saya. dia kaget.. 'gila kamu, enak aja'. saya terusin lagi 'ya udah.. terusin saja dan kawin'. reaksinya lebih parah 'gila kamu, enak saja'. hehehe.. dia saya diamin untuk mencari jawaban sendiri.
standar itu engga ada hubungannya dengan moral. moral itu engga ada juga hubungannya dengan nilai. semuanya relatif. dulu kita bilang, orang bule itu engga bermoral karna ciuman di tempat umum. coba tanya ke bule apa itu moral ? mereka bilang, moral itu adalah 'engga menerima hadiah yang engga jelas asal dan alasannya'. buat kita beda lagi, ya namanya pemberian, itu kan rejeki :)

Tidak ada komentar: