Rabu, 21 Januari 2009

* SELLING : JADILAH LARIS MANIS

entah kenapa tiba-tiba saya terangsang untuk mencoba berpikir-pikir tentang berjualan. berjualan, bahasa kerennya berdagang, adalah bidang usaha yang saya yakin menjadi bagian dari 'talenta' primitif manusia. ada yang dikembangkan dan ada yang tidak, sangat tergantung dari minat dan kejelian per orangan. berjualan itu sangat kompleks. kita tidak boleh terpaku kepada pemikiran, bahwa berjualan itu harus memenuhi beberapa syarat : tempat produksi, tempat berjualan, iklan, dan strategi (tentunya untuk menetapkan besaran untung). 'ngapain' mikirin dan mempertimbangkan itu semua. buat saya syarat dan modal utama dari berjualan itu simple. cukup penuhi syarat dan modal '2-n' : niat dan nekad. agak ekstrim ya. jaman sekarang ini memang harus ekstrim. tapi tunggu dululah. ekstrim itu sudah berlaku sejak jaman dahulu. kalau mr. Graham Bell tidak ekstrim. mana pernah kita bisa menikmati handphone sekarang ini. kalau mr. Archimedes tidak ekstrim, mana mungkin sekarang orang bisa mengirimkan ribuan mobil sekali angkut lewat kapal laut. kalau mr. Ludwijk Bethoven tidak ekstrim. habislah kita tidak bisa menikmati musik penyembuh jiwa. kalau Lennon bersama kawan-kawannya tidak ekstrim, mana kita bisa menikmati musik hip hop dan segalanya yang berbau musik-musik aneh itu ? iya. musik aneh tapi sangat menghibur. kalau mr. Col. Sanders tidak ekstrim. jangan harap bakal banyak pilihan fried chicken. resto yang sangat membantu para orang tua yang lagi malas masak. semuanya yang ada di atas tadi itu, dimulai dari berpikir ekstrim.

buat orang-orang yang sedang kebingungan kenapa kawannya melejit di karier, tapi anda sendiri mentok, saya mau kasih tau, itu terjadi karena anda tidak bersedia berpikir ekstrim. semuanya dilakukan biasa-biasa saja.

saya berpikir gini. untuk memulai sesuatu, kayanya kita jangan sering-sering main ke gramedia. semua buku di gramedia itu, menurut saya, menyesatkan. ya menyesatkanlah. semua jagoan marketing selalu menceritakan syarat-syarat sukses marketing. jagoan selling cerita syarat-syarat sukses selling. padahal, engga semua yang mereka sebutkan di sana benar adanya. tengok saja. syarat tempat usaha itu : parkirnya luas. ruangan sejuk. ada papan pengenal yang gampang dilihat dan menarik. petugas dibikin semenarik mungkin. .... kalau syarat ini diikutin. mana mungkin bisa lahir rumah makan Wong Solo sampai berapa biji. di Medan mulai muncul lagi sebuah warung yang berpotensi seperti wong solo. namanya joko solo. mereka melanggar semua kaidah yang ada dalam buku tuh. buat orang-orang tertentu yang tidak berani menantang diri sendiri, pasti ngomong gini :'ya iyalah. mereka kan beda'. biasanya alasan itu paling gampang disampaikan supaya engga ada lanjutan diskusi lagi.

berjualan ? apa susahnya dan apa gampangnya ya.

Susahnya berjualan
berjualan itu susah oleh karena kita sendiri takut untuk memulainya. bahkan untuk sekedar berpikir. rasanya mengerikan sekali kalau kita berani-beraninya mencoba untuk berpikir. sekarang saya tantang anda. coba bayangkan (khusus untuk yang tidak pernah punya usaha lain selain menjadi pekerja di perusahaan ya), apa yang terpikir dalam benak anda. barang apa yang akan dijual. darimana barang itu didapat. dimana anda jual. laku apa tidak. dan, ini yang paling seram, bagaimana anda memulainya ? sudah pastilah. anda sama dengan saya. pusiiiing. bahkan untuk meng-andai-andainya saja pun kita sudah pusing. belum lagi pertanyaan. kalau di warung, trus, siapa donk yang jaga warungnya. aku ? masak aku harus jaga warung ? berarti bukan berjualannya yang susah. niatnya yang berat.

Gampangnya berjualan

berjualan gampang ? mana kita tau. berjualan itu ya gampang. karena syarat berjualan. ya... berjualan saja. gampang kan ? hihihi... asli lo, saya saja bingung dengan pernyataan-pernyataan ini. saking bingungnya. akhirnya saya beranikan saja ambil kesimpulan. susah atau gampangnya berbisnis di usaha berjualan itu adalah relatif. mau mudah mau susah, ya tinggal kita saja yang menghitung.

Apa yang bisa dijual ?
Jualan informasi
tahun berapa, saya lupa. saya pernah berubah secara tiba-tiba menjadi seorang dealer besar (ukurannya kan tergantung saya), untuk produk PCMCIA. ini semacam card, yang waktu itu, tahun 2003, digunakan untuk alat akses internet melalui teknologi CDMA. saya jualan PCMCIA nya ? bukan ! saya jualan informasi ! anda tau apa yang saya lakukan ? cuman sederhana. pertama sekali saya minta tolong pada teman supaya bersedia meminjamkan sebuah barang tadi. dengan enteng, saya pamer ke orang-orang betapa hebatnya saya bisa meng-akses internet tanpa kabel telepon. ini kejadian tahun 2003 lo ya. saya melakukannya di tempat ekstrim. di warung makan. waktu itu di jalan krakatau medan. engga ada keren-kerennya warung itu. satu hal kunci saya tau, warung itu, walaupun jelek. masakannya enak. dan... ini yang penting. saya tau yang makan di sana adalah 'bukan orang sembarang'. dengan modal semangkok soto ayam, saya mulai beraksi. sekali suap, sekali klik di internet. saya sengaja pilih banyak gambar dari google. pertama sih, orang bilang 'sok kali orang itu'. saya cuek. sekali ekstrim harus ekstrim. jangan tanggung. rasa malu sudah saya taruh di lemari pakean di rumah. di meja sebelah. ada bapak yang parlente nekad melirik ke meja saya sebanyak : 2 kali ! wah.. ini tidak bisa dibiarkan. kata sakti saya kan 100 persen tidak berhasil kalau tidak dicoba, saya nekad. 'ini saya lagi akses internet pak'. laptop saya taruh persis di dekat beliau. 'silahkan dilihat'. saya lanjutkan makan. ting ! dia terhenyak... ini internet ? 'iya'. saya cuek. caranya ? jangan pernah melepaskan orang yang sudah berminat. cas.. cis.. cus.. cas.. cis.. cus.. pendek kata 'harganya sekian juta, saya delivery sebanyak bapak mau'. woiii... jangankan sebiji, kotaknya saja pun saya tidak tau cara mendapatkannya ! dia order... ini order betulan. ini bisnis kedua saya setelah dagang mobil bekas, yang sempat rugi besar itu lo. order barang jutaan, tapi saya yang gila menerima order ini sedang gila-gilanya berpikir : 'mak. nanti bapak yang minjamin barang ini, bisa kasih pinjaman lagi engga nih'. sebenarnya dia punya barang engga nih. puji Tuhan, sewaktu saya sampaikan order pertama saya. responnya pertama :'sampeyan sinting. barang itu susah dapatnya'. saya sintingin sekalian. mas, kita bisnis ini. sampeyan nyediain barang. saya jual. just between us. ini usaha nekad. saling percaya. saya tidak tau dia dapat barang darimana. saya tidak perduli berapa harga perolehan. yang penting saya percaya beliau. berapapun keuntungan beliau saya untung tidak kecil. banyak sekali orang yang coba mencari peruntungan untuk mencoba menjadi penyalur. saya tinggal jawab : sayalah pabriknya. anda butuh berapa, saya sediakan. jadi, waktu itu kami berjualan informasi. saya tidak pernah melakukan transaksi keuangan tuh, sampai barang tiba di tempat pembeli. setelah terima uang penjualan, baru saya transfer hasil penjualan. siapapun yang membujuk 'kenalin sama distributornya donk, saya mau order banyak'. saya jawab sekali lagi : 'ya saya juga distributornya'. informasi itu mahal. sampai hari ini, siapapun tidak pernah tau siapa yang menjadi distributor saya.
jualan ide
saudara-saudara. banyak orang kaya di negara ini. bahkan sangat kaya. tapi tidak tau duitnya mau diapain. mau diapakan ini duit ? kasus ini biasanya terjadi untuk orang yang tiba-tiba kaya karna warisan. cobalah berkawan sama orang kaya. jangan lah pulak, awak sudah merana, kawan pun lebih merana. taruhan. eh, taruhan ga boleh ya, peluang yang bakal kita dapatkan ya di sekitar-sekitar itu juga. engga bakal ada perkembangannya. saya punya kawan. sangat kaya. dia punya gedung yang bagus. tidak terlalu besar. tapi saya berusaha memeras otak. kalau saya punya gedung seperti ini. akan saya apakan ya. iseng saya tanya. 'ini gedung sengaja dikosongin ?' dia bilang tidak bang. lagi mikir aja bisnis yang cocok. oi mak. maulah rasanya ku ciumi orang ini. dia memang laki-laki. saya frustrasi saudara-saudara. potensi besar gitu, kok bilang lagi mikir. tanpa sepengetahuan dia, saya kelilingi kota medan yang luar biasa ini. cukup waktu 3 hari untuk kembali bertemu dengan beliau. adyanto. 'bos, kita bikin hotel yuk !' 'abang ngerti bisnis hotel ?' ini kondisi genting. jawaban saya menentukan perjalanan akhir. 'ya ngerti lah. bisnis hotel kok engga ngerti'. dia sepakat. serahkan segala sesuatunya ke saya. dan kita mulai menyusun langkah. saya kan sudah 'jual muka' bahwa saya paham hotel. mana saya paham ! tapi saya tidak menipu. karna saya tidak paham, saya cari orang yang paham. hubungi sana-sini. kita ketemu beberapa manager hotel. kita undang ke kantor kawan saya tadi. ya sudah, saya wawancarai. 'anda yakin bisa menangani hotel yang bakal kami bangun ?' hehehe... sebiji bata saja saya tak mampu beli, saya nekad bilang itu 'hotel kami'. untungnya kawan saya yang kaya tapi polos itu cuman manggut-manggut. sayang memang, duit itu bisa merubah sikap orang. setelah semua konsep ruang, layanan, dan contoh tipe kamar selesai saya kerjakan (kan tinggal bayar ahlinya lagi), kawan saya tiba-tiba bilang 'bang, kayanya engga jadi hotel lah'. saya bikin restoran saja. ya engga apa-apa. walaupun saya kesal sekali soalnya sudah hitung-hitung 'keuntungan' hehehe.. kawan-kawan, jangan pernah menganggap anda sudah memiliki uang, sebelum uang itu benar-benar ada di dalam dompet milik kita ! dia meninggalkan saya begitu saja. cerita restorannya ? hehehe.. sukses tutup dalam waktu 6 bulan ! saya tidak pernah merasakan bisnis hotel itu, tapi saya jamin kepada semua orang. saya mampu mengelola sebuah hotel besar. karna apa ? karna saya sudah belajar dari para ahli yang sempat saya hired !

jualan keahlian
satu-satunya keahlian yang benar-benar saya rasakan sebagai keahlian adalah : mengetik dua belas jari ! saya berani menantang setiap orang yang baca blog ini, untuk berlomba. anda membaca, saya mengetik yang anda baca dengan mata tertutup ! saya jamin, saya jauh lebih cepat mengetik dibanding kemampuan baca anda. bisa saja saya gagal, tapi tantangan tidak akan pernah saya tarik. try me ! nah, keahlian ini sudah memberikan duit yang tidak sedikit (ingat, ukurannya terserah kita), buat saya. tahun 1987. ketika kampus sedang libur panjang. kawan-kawan menikmati libur seenaknya. ada yg ke bali. jogja dan pulang kampung. padahal saat itu sedang proses penyusunan skripsi. hehe.. pantang buat saya melepaskan kesempatan. sebelum mereka bubar, saya baik-baik tanya 'skripsi kalian sudah selesai belum ?' hati-hati, draft harus diserahkan sehari setelah libur berakhir. mereka tenang-tenang saja. ini tidak bisa dibiarkan. jangan biarkan potensi pasar anda tenang-tenang. 'gini sajalah. kalian libur saja, skripsinya sini saya ketik'. oala. mereka yang senang bukan kepalang. bukan saya. rame-ramelah menyelesaikan draft tulisan tangan. setelah itu setor ke saya dengan bayaran, kalau tidak salah waktu itu 25 perak per lembar atau 100 perak. saya lupa. atau 1000 perak ya. yang jelas. skripsi saya, saya selesaikan dulu. kemudian satu-per satu skripsi 'client' pertama dalam hidup saya. modalnya ? mesin tik olypia pinjaman. engga perlu modal, kan ? kertas ? mereka yang sediakan. saya cuman sediakan keahlian. hasilnya adalah jalan-jalan selama 4 hari ke bali setelah saya lulus beneran dan mereka harus menikmati ujian ulangan ! saya kan tinggal ketik. isinya mereka yang jawab.

tentunya anda jauh lebih komplit lah keahlian, ide dan informasi yang dimiliki. saya bukanlah apa-apa. gunakan itu ! gunakan sebaik-baiknya. kalau anda tau ada produsen barang bagus, banyak peminat, dan si produsen tidak perduli dengan apa yang disebut dengan kegiatan marketing. jadilah 'manager marketing' untuk mereka. sayang donk, berapa sks yang pernah anda habiskan untuk belajar teori marketing. produsen tidak merasa rugi, anda untung besar. seperti abang beca (eh, mas. soalnya kan di jawa) di jogja. dia kelilingkan kita. singgahkan ke toko batik. padahal kita engga minta. ada transaksi, si masnya dapat persenan. sama saja kan namanya dengan 'manager marketing'. manager tidak harus pake dasi. daripada cape-cape kita bahas. sudahlah. jualan sajalah kita.

Tidak ada komentar: