Sabtu, 10 Januari 2009

TAPANULI : PROPINSI UTOPIA (?)

Dari Sidimpuan menuju Sidikalang. Sejauh langkah menuju Sibolga melampaui Tarutung. Bukit barisan yang paling setia berkali-kali menyuapi jutaan bibir untuk memenuhi kebutuhan perut. Tanpa berhenti. Dari Brastagi menuju Siantar. Siapa yang mampu menghitung jutaan batang pohon, dari segala jenis. Apa yang kita takutkan untuk hidup ?

Agak heran ketika kita harus menunggu entah berapa lama lagi. Sebenarnya rencana propinsi Tapanuli bakal bermuara pada kenyataan apa tidak. Sewaktu Banten direncanakan. Hanya butuh beberapa detik saja, maka semua suara sepakat berteriak : setuju ! Maluku yang tadi satu wilayah, semudah membalikkan telapak tangan menjadi dua area. Riau yang maha luas itu. tanpa riak apa apa mengembang menjadi dua : Darat dan Kepulauan. di Sulawesi pun tidak jauh berbeda. Apa yang menjadi kendala di Tapanuli ? Menurut saya banyak hal yang menjadi 'penghalang' terealisasinya rencana indah ini.



Penolakan oleh Lingkar Luar.

Kita kelompokkan saja bahwa orang bukan tapanuli, atau orang Tapanuli tapi tidak tinggal di wilayah Tapanuli, menjadi penentang. Pertanyaan mendasar yang harus segera mendapatkan jawaban adalah: 'niat apa yang ada dalam benak mereka sehingga sangat ngotot untuk membatalkan rencana indah ini'. Kalau saja mereka memiliki prakiraan mengenai dampak negatif apabila propinsi ini benar-benar terealisasi, ya harus jujur. Jangan omong doank. 'Dampaknya sangat negatif !', koar mereka. pas ditanya contoh kecil dampak tadi. dijawab lagi :'pokoknya, negatiflah'. Seharusnya cerita saja secara terbuka. Saya malah curiga mereka sama sekali tidak mengerti dampak apapun dari rencana ini. Coba kita identifikasi oknum-oknum yang secara ekstrim melakukan penolakan. Dimana mereka lahir dan besar. Berapa kali mereka melakukan kunjungan yang benar-benar kunjungan sehingga mereka memiliki sedikit saja pemahaman tentang kondisi dan kebutuhan masyarakat Tapanuli. Jangan pula terjadi begini : yang mereka lakukan hanya menikmati kekayaan melimpah di suatu tempat, tetapi tidak malu mengirimkan opini terhadap tidak perlunya propinsi ini.



Penolakan Lingkar Dalam.

Kebalikan dari yang pertama. kelompok berikutnya adalah orang tapanuli yang tinggal di wilayah tapanuli atau seluruh kelompok yag terlibat dalam pemerintahan propinsi incumbent. Kita tidak perlu malu memainkan logika, bahwa bisa saja keaktifan mereka mendorong penolakan untuk menjaga potensi luar biasa yang memberikan keuntungan untuk kelompok mereka, tidak terlepas dari genggaman. ini sama dengan illustrasi sekelompok anak kecil berusaha mengusir anak kecil yang lain yang mereka curigai harus diberi bagian dari yang ada.



Kebingungan orang Tapanuli

anda pernah rasakan engga, ketika tiba tiba anda kebingungan kenapa orang lain tergopoh-gopoh menyampaikan rasa prihatinnya dan mendesak untuk 'menolong' anda ? dua kutub yang tidak ketemu. yang satu merasa harus memberikan bantuan. yang dibantu malah heran 'siapa yang butuh bantuan ?'. seluruh tapanuli, mungkin saja sekarang sedang terheran-heran, kenapa orang-orang kota semangat sekali membahas kampung dimana mereka tinggal. sejauh mana pengertian masyarakat tapanuli sendiri atas perbedaan manfaat yang akan diperoleh dari status politis wilayah. saya berusaha berpikir seperti kawan-kawan (termasuk para orang tua tentunya), yang sedang tinggal di tapanuli. mau statusnya kecamatan, orang-orang kerja di sawah. jadi kabupaten, tetap ke sawah. mau jadi propinsi, ke sawah-sawah juga. lantas, untuk apa ada propinsi ? di lapo, pertanyaan ini menjadi :'apa rupana untung na, na jadi propinsi on ?'. pertanyaan pendek ini yang mesti dijawab.



Penetapan propinsi ini, jadi atau tidak jadi, menurut saya tergantung kepada keinginan dari orang-orang tapanuli sendiri. terutama sekali yang tinggal di daerah tapanuli. memang bisa saja kita kita yang tinggal di luar ini, bisa melihat dengan sangat jelas apa yang kurang di daerah sana, dan apa yang akan mengatasi kekurangan itu. bahkan menjadi kelimpahan. seperti sebuah pertandingan. seluruh team yang sedang bertanding akan merasa bahwa apa yang mereka lakukan sekarang sudah sangat maksimal. dan memang adalah yang seharusnya mereka lakukan. kita, sebagai penonton, yang menjadi pihak lingkar luar. tentu akan mudah menemukan apa saja yang sebenarnya bisa mereka lakukan untuk mendapatkan hasil yang jauh lebih baik. pertanyaannya, siapakah kita sehingga mereka mau mendengarkan ?



Opini positif.

siapapun yang menjadi pionir dalam pembentukan propinsi ini, mulai sekarang harus kembali ke garis 'start'. kalau niat mereka luhur. mereka harus mulai lagi membangun sel-sel aktif. yang akan bergerak sporadis dengan tujuan satu : menceritakan betapa tertinggalnya tapanuli dibanding wilayah yang didiami etnis lain, bahkan yang ada hanya di sumatera saja. usahakan bahasa yang digunakan adalah bahasa awam. misalkan kata ekonomi diganti dengan ketersediaan dan harga pupuk. krisis diganti dengan kata harga beras mahal, tetapi harga cabe anjlok.

saya yakin, kalau niat luhur digalang terus. dicegah padam, maka apinya akan segera membakar semangat. kalau sudah semangat, tidak akan ada kata mundur. seperti pepatah bilang :'sekali layar terkembang, mundur kita berpantang'.

Tidak ada komentar: