Rabu, 04 Februari 2009

* BELAJAR NGOMONG

ketika seseorang menginginkan untuk memperoleh sesuatu, yang perlu dilakukan hanyalah : ngomong. ketika sekelompok orang juga menginginkan apa yang mereka mau, dipenuhi, mereka tinggal ngomong. ngomong ini gampang dilakukan, tetapi kenapa hanya sedikit orang yang bersedia melakukan. banyak orang baru bersedia ngomong setelah berada dalam kelompok besar. bukan dalam konteks diskusi. kita sama-sama tau, kalau jumlah orang yang berusaha sama-sama ngomong, yang terjadi bukanlah komunikasi efektif. tetapi keributan dan kekacauan belaka. semuanya pasti menjadi 'krodit'.
sebenarnya sudah banyak contoh baik bagaimana ngomong yang santun dapat dilakukan. dan biasanya hasilnya efektif. mereka ngomong dalam konteks seminar. ada yang ngomong dalam bentuk konferensi pers. bisa juga menjadi pengisi kolom-kolom penting di media massa. ngomong secara jantan ini, hasilnya tidak akan membias. karna jumlah personalnya terbatas, maka content materinya gampang didengar, dipahami, dan dimengerti. karena masalah ini adalah masalah 'meminta'. tentunya ada dua pihak yang terlibat : 1. Pihak Peminta; 2. Pihak Penerima Permintaan. sejak detik pertama pihak peminta mengajukan keinginannya, mereka harus sudah memiliki atau memahami adanya dua kemungkinan : dipenuhi atau ditolak. selanjutnya lanjutan dari jawaban kemungkinan terjadi ini juga harus disiapkan. kalau diterima bagaimana, dana bagaimana pula sikap bila ditolak. dilain pihak, pihak yang menerima permintaan pun, tentunya berusaha menanggapi permintaan dan menyampaikan menerima atau menolaknya dengan jelas, tegas, dan tuntas.
yang menjadi aneh adalah ketika semakin banyak permintaan itu disertai dengan ancaman. kalau sudah seperti ini, kita jadi bingung, orang ini mau minta atau mau rampok ?
ngomong itu perlu. syarat ngomong itu sederhana; ngerti apa yang diomongin, paham siapa yang diajak ngomong, dan siap menghadapi dan menerima hasil. kalau ini bisa dipegang, sudah barang tentu tidak akan ada kerusuhan, perkelahian atau pun permusuhan di manapun. tapi kalau syarat ngomong ini dilanggar, maka pepatah 'menang jadi arang, kalah jadi debu' akan terjadi lagi, dan lagi, dan lagi. semua pihak tinggal bengong karena kehilangan segalanya. kehilangan apa yang dimiliki dan kehilangan teman !
bayangkan kalau dilingkungan keluarga pun, kita akhirnya tidak pernah ketemu karena sama sekali tidak berani, atau tidak bersedia : ngomong ! tempat yang paling buruk di dunia ini akan berubah menjadi tempat yang sangat kita inginkan berada. bayangin saja, masak di satu ruangan, sama kawan sendiri atau keluarga sendiri kita cuman saling melewati saja tanpa sepatah kata pun terucap. mungkin saja pihak lain yang salah. kalau kita ingin dia merubah sikapnya yang salah, ya tinggal ngomong. tapi itu tadi, kita harus siap dia menerima dan berubah atau marah dan semakin parah. yang penting, ngomong. bagaimana kalau setelah diomongin pihak lain kaget dan menangis : 'aduh,... kamu menderita karna sikap saya selama ini ?' dan dia berubah total untuk meniupkan rasa tenang dan damai ? betapa malunya hati kita karena terlanjur menuduh orang lain sebagai orang yang tidak pengertian, tidak punya hati, bebal ? padahal kenyataannya orang itu sama sekali tidak sadar tentang sikapnya. makanya... ngomong donk

Tidak ada komentar: