Jumat, 06 Maret 2009

*++* KENAPA RUPANYA.... (???)

............... kalau menghadapi pertanyaan atau penentangan dari orang lain, sementara kita sendiri merasa bahwa yang sudah terlanjur kita lakukan atau kita sampaikan, harus kita lakukan, atau harus orang lain lakukan, anak-anak medan biasa kasih komentar : 'kenapa rupanya ?!' supaya bisa membayangkan maksud dari kalimat tadi, anda memarkirkan mobil di depan mini market. kondisinya sedang terburu-buru sekali, sehingga anda meninggalkan laptop di jok depan. semua orang pasti menghindari kebodohan ini kan ? tapi, anda punya alasan sendiri untuk melakukan yang tadi. mungkin saja ada orang yang melihat kejadian ini dan menegur : 'pak/bu, anda nekad ninggalin laptop di mobil ?'... jawaban anda ketus : 'kenapa rupanya ?!'. biasanya jawaban ini tidak akan difollow up dengan pertanyaan lanjutan. anda pun aman. entahlah laptopnya. walaupun kedengaran ketus, engga enak didengar orang, anda bisa mencoba menanamkan 'pertanyaan' dengan gaya ini untuk melepaskan tekanan dalam hati. purak-puraknya kita sedang menjadi orang cuek, atau pangeran tega (kalo yang tega betulan namanya adalah 'raja tega').

banyak orang terpaksa melakukan yang berbeda dari isi hatinya, atau akhirnya tidak melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan hanya karena 'engga enak hati', atau takut dituduh 'aneh'._ misalkan gini. waktu libur, anak anda, entah kenapa tiba-tiba memaksa harus pergi berenang jam 12 siang, tengah hari ! repotlah kita mempersiapkan segala sesuatu. nah, pas mau berangkat, tiba-tiba aja ada anggota keluarga, entah itu ipar, mertua, adik suami/istri atau apalah, kasih komentar : 'mba, masak ngajak berenang jam 12 ? engga baik untuk anak-anak. bisa sakit, lo'. pada waktu itu, kita pengen banget menyenangkan hati anak, dan memutuskan mengikuti kemauan mereka. kita pun menjawab : 'aduh gimana ya, anak-anaknya nih justru yang maksa. kasihan.' eh, dibalas sama dia : 'masak mba diatur sama anak-anak sih. saya sih engga pernah tuh mau diatur sama anak-anak. kok orang tua malah ngikutin anak-anak ?.._ biasanya komentar seperti ini bikin orang berubah pikiran dan membatalkan rencana matang tadi. bukan karena omongan yang tadi itu kita 'benarkan' (walaupun dalam hati kita betul), tapi kita engga mau benar-benar dinilai orang tua yang mau diatur anak.__ saking menjaga 'perasaan' atau omongan orang lain (even, itu keluarga), kita lebih tega mengecewakan keinginan anak-anak. .. buat saya, ada waktunya kita bebaskan tekanan dalam pikiran buat siapa saja yang berusaha memutus kontak kita dengan kebebasan bertindak. jawaban untuk orang-orang seperti itu sederhana :'kalo berenang tengah hari, kenapa rupanya ?!'. jawaban ini ampuh, biasanya bikin orang lain sadar bahwa kita udah ngirim peringatan : 'ga usah campur urusan gue'.__ ............sadar atau tidak sadar, kita senang sekali menyiksa diri dengan berusaha menampilkan figur kita yang serba 'sempurna'. misalkan selalu saja pasangan kita menyakiti hati dengan sikapnya. lalu kita sampaikan masalah ini ke orang yang paling 'kita percayai'. repotnya, orang itu akan berusaha juga tampil 'lebih sempurna' : 'udahlah mas, harus banyak sabaaarr..'. yg disuruh sabar memberontak :'gimana mau sabar bos. mau meledak iniii.. mau meledak !!! lue bayangin aja, masak cara ngajar anak pake jewer. apa dia punya rencana bikin kuping anak gue jadi Mr. Spock ?'. kita berusaha meminta dukungan dari orang lain, untuk melakukan, misalkan, bertengkar. tapi selalu menerima jawaban : 'sabaaaar... ga baik berdebat di depan anak'. setiap kita curhat, setiap itu pula kita menerima pesan tadi... sabaaaar... jangan berdebat di depan anak.. iya kalau kita adalah orang dengan tingkat ketahanan emosional tinggi, menunggu waktu yang tepat. dan mengajak pasangan bicara empat mata untuk mendiskusikan hal yang tadi tidak kita setujui. lah ini... justru kelemahan kita cepat melemah bila 'titik didih emosi' kita dibiarkan terlalu lama. 'emosi' yang tadi nongol, karena disela oleh waktu panjang untuk memberi toleransi atas 'pesan yang sudah tertanam' tadi bisa lenyap tanpa bekas. ketika kita betul-betul berdua dengan pasangan yang tadi kita bahas, 'emosi' tadi ilang.. pssstt.. lenyap. pertanyaannya, apakah tekanan pada kejiwaan kita atas perilaku yg kita tidak setujui terhadap anak-anak bisa hilang juga ? sudah pasti tidak !
sadar atau tidak sadar, dorongan seperti ini justru membuat kepala meledak, tapi itu di bawah alam sadar kita. bukan menyarankan; tapi saya suka bilang gini : sekali-kali, keluarkan 'sisi liar' anda bila perlu. ini untuk mengurangi tekanan kejiwaan. kembali ke yang tadi.... 'pesan-pesan' yang kita terima, yang tertanam di bawah alam sadar, itulah yang membentuk kita menjadi 'manusia sempurna'. dipermalukan orang di dalam rapat umum, kita senyum (berusaha menjadi 'si penyabar kelas wahid'). padahal kalau pada waktu itu juga, kita lakukan klarifikasi keras, tidak akan ada penyakit maag atau lever.....__ waktu ada acara makan malam, kita berusaha untuk menggunakan peralatan makan malam yang semestinya (itu lo, ada sendoknya, ada pisaunya, ada segalanya), sementara waktu itu anda pengeeen.. kurang panjang... peeeengeeeeeennnn sekali makan tanpa sendok dan kawan-kawannya. saran saya.. lepaskan aja 'sisi liar' anda. lakukan aja. makan pakai tangan kosong !..... kalau ada yang sok modern ngomong gini : 'ssstt.. ini acara makan malam resmi', respon aja enteng : 'kenapa rupanya ?'. daripada karena menjaga perasaan orang, sepanjang umur anda menyesal.. 'ih.. menu makan malam kemaren itu, enaknya pake tangan aja deh.... nyesal aku', mending lepasin aja keinginan anda.
tapi.. kalau setelah baca ini anda tidak setuju dengan masalah melepas 'sisi liar' ini dan ngotot dengan sikap anda, anda bebas bilang ke saya : 'sok bijak ente'. mau nuduh saya penakut ke istri, terlalu sok sosial ke orang, pantang tak ngikutin kegiatan apapun, terserah ente. kalo saya ngotot ngelakuin itu semua, dan engga peduli omongan ente, 'kenapa rupanya ?!'

4 komentar:

Anonim mengatakan...

yup betul.. that's one of ur wild side. curhat di depan umum.
sekali2 lampiaskan aja pak..drpd makin kincong jidatmu krn mendam perasaan.

Unknown mengatakan...

::sigh..., kalau yg pernah saya tonton, pasangan singa yang sedang bercengkrama, meskipun saling gigit, dan gaya mencakar, biasanya tidak melukai pasangannya...apakah kita yang katanya lebih berakal ketimbang mereka, akan melakukannya dengan lebih baik...??? entahlah...

:: kalau keliaran cara makan...Julia Robert di Film pretty woman sudah melakukannya, dan dia berhasil menarik simpati, dengan cara itu...mau coba...??? ah kann aku bukan pretty woman... :)

Anonim mengatakan...

kok ga ada tulisan terbaru pak??

Anonim mengatakan...

ternyata kemampuan berpikir tergantung kondisi fisik.... tubuh saya merapuh nih. sakit terus menerus