Senin, 30 Maret 2009

*** NGOBROL KHAYAL DENGAN ABDILLAH

tak usah dijelaskan ya, kenapa kok saya suka sekali ngomong imajinasi. macam orang-orang yang sarap itu. ngomong sendiri, ketawa sendiri, nangis sendiri. pas dikejar petugas trantib lari rame-rame. hidup ini harus berpikir dengan logis. jangan terlalu berharap atas sesuatu yang kita sendiri yakin, itu tidak akan sanggup kita dapatkan. contohnya gini, semua orang berharap diundang ke istana presiden di jakarta. berharap sih bisa bisa saja. tapi, apa mungkin ? kalau saya sih, saya udah tegas-tegas bilang mustahil buat saya untuk menjejakkan kaki di istana presiden. pastilah kalau pun ada yang baca blog ini, sudah tentu rame-rame menghukum saya dengan sebutan 'pesimis'. anda pasti ngomong : 'segala sesuatunya bisa saja terjadi, yang penting ada usaha'. teori itu betul. tapi mau usaha apa saya untuk bisa ke istana ? daripada pening-pening kepala membayangkan apa alasan yang bikin kita bisa ke istana, mending lah kita pura-puranya sudah ada di istana. toh sama-sama mustahil kan ?

saya ini (yang bandel pasti nyambungin ' si gembala sapi ... heppi yeee...), orang awam. bukan pebisnis. kecuali bisnis aduhai itu ya, itu ga bisa dikategorikan sebagai pebisnis. bukan pula politikus. jadi dari sisi manapun, engga ada rumus-rumusnya buat saya bisa ketemu jarak dekat dengan orang-orang terkenal. untuk berada di lingkungan pejabat yang paling level terbawah pun, rasanya sangat sulit. karena menyadari kondisi ini, terpaksa saya berpura-pura saja ketemu sama pejabat tinggi, ngetop dan terhebat yang pernah saya tau. walikota medan : abdillah ! yaa..yaaa... bisalah orang-orang ribut bilang abdillah bukan walikota medan lagi. saya tetap bilang dia walikota medan. namanya pun purak-puraknya. okelah saya tantang juga orang yang ngotot bilang beliau bukan walikota medan. saya tantang sekarang, siapa yang bisa menyebutkan nama walikota medan sekarang ! coba kasih tau. medan itu engga punya walikota. beh... engga percaya orang ini. walikota mana yang membiarkan kotanya banjir walaupun cuman kena hujan semenit dua menit ? walikota mana yang membiarkan pengusaha besi dan spanduk seenaknya mendirikan tiang-tiang besar kemudian ditutupi dengan kain-kain atau bahan apalah itu yang besarnya mengalahkan layar-layar nelayan di percut ? bisalah pulak ada walikota engga ngerti mana yang lebih besar penyiar tipi atau presiden negara ini. kalau tak percaya juga, yang sedang ada di medan, cobalah agak lewati dulu depan deli plasa yang bakal jadi grand deli itu. kalian tengok jelas-jelas ada tiang raksasa di sana. berjejer dua. tiang pertama itu ada gambar entah siapa, pas kita lewati sedikit, eeee... pasti terkejut melihat foto besar pak presiden dan pak gubernur sumatera utara ditutupi oleh tiang yang pertama. itu makanya saya nekad nanya, besar mana stasiun tipi dibanding presiden sebuah negara besar ? masih ngotot lagi ngomong medan ini punya walikota ? beehhhh.... tu kan, tak berani ngomong lagi kan ? ..................................______ jadi gini. saya membayangkan ketemuan sama Abdillah. entah bagaimana ceritanya, kami ketemu pas jalan pagi di lapangan merdeka. masih ingat lapangan merdeka ? itu lo, tanah luas yang di tengah nya ada rumput yang bisa kita pakai untuk maen bola. senam pagi juga bisa. belum tau juga ? itu lo.. lapangan yang ada di belakang toko buku. atau gini, kalian tau kantor polisi yang dekat stasiun kereta api ? naa, lapangan merdeka itu ya di belakang kantor polisi. lebih gampangnya jalan lewat kesawan. nanti keliatan restoran-restoran yang cantiknya bukan maen. nah itulah. di belakang restoran itulah lapangan merdeka. kami jalan sama-sama beriringan. bayangin aja gaya pejabat tinggi sedang ngobrol sama pengusaha besar. kami ngobrol banyak hal mulai dari latar belakang kenapa beliau bersedia mencalonkan diri jadi walikota, sampai angan-angannya tentang kota medan. ada mirip-miripnya saya dan pak walikota ini. rambut kami sama-sama hampir tumbuh lebat. kalau beliau kulitnya putih bersih, kulit saya ini putih muda. engga terlalu putih dibanding putihnya beliau. masalah wajah, engga jauh-jauh amat. saya ganteng, kalau beliau. ganteng kali pun. beliau jalannya tidak kaya orang-orang eropa yang cepatnya macam buru-buru ke toilet. beliau jalan kalem, mantap, berwibawa, persis seperti sultan dari kesultanan raja diraja. saya perhatikan bapak luar biasa ini. sambil ngobrol sambil terus melangkah kan kaki nya yang tegar. nampak sehatnya. beda sama orang yang asam uratnya sudah 13. TGL nya sudah 250. jalan pun seperti diseret saja ya kan. kalau beliau tidak. asli sehat sesehat sehatnya. saya yang purak-purak sehat saja pun keteteran. beberapa pertanyaan saya dijawab dengan enteng. tapi lebih banyak saya bertanya cuman mendapat jawaban tatapan mata kosong. kayanya beliau tak setuju dengan pertanyaan saya. supaya tak penasaran, seperti inilah obrolan kami...

Saya (SY) : 'bang Dillah. (aha !!! macam kenal lama kali kami ya, panggilnya bang Dillah).. sehatnya abang ?'

Abdillah (AB) : 'sehat.. anda bagaimana ? sehat juga ?'

SY :'sehat juga bang. abang kok bisa sesehat ini bang ? apa rahasianya'

AB :'ya sehatlah. hidup di kota sendiri. bisnis ga ada masalah. ga punya pikiran jelek. itu aja rahasia sehat'. 'bisnis ga ada masalah'... agak tersinggung saya dengan pernyataan ini. saya juga ga ada masalah. macam mana mau bermasalah orang tak punya bisnis apa-apa.

SY :'boleh tanya kan bang ?'... 'boleh', kata beliau. dulu, kenapa abang mau maju jadi kandidat walikota Medan ? apa yang abang cari ! ..... tiba-tiba beliau berhenti. diperhatikannya saya lekat-lekat. saya cuman mendongak saja. asli tak bisa ngomong apa-apa. gimana mau ngomong, saya masih tak percaya sedang berada dekat idola. tiba-tiba beliau hadap kiri lagi, sejajar dengan lintasan lapangan merdeka. dia teruskan jalan paginya. saya berusaha jalan sejajar-sejajar. 'aku merasa sebagai anak medan. aku engga perduli manfaat apa yang bakal ku dapatkan dari posisi jabatan ini. itu yang pertama ku pikirkan dulu. serius ini.'.... diam sebentar, lalu diterusin lagi...'saya sebagai orang yang hidup di kota ini. tentunya berpikir tidak akan mendiamkan kota ini menjadi kota kuno. anda bisa bayangkan betapa malunya kita. dekat dengan Penang, kota kecil dari negara jiran. engga begitu jauh dari singapura, tapi masak kota kita ga ada mirip-miripnya sama kedua kota itu. ini sama dengan, tinggal di pinggir kota metropolitan, tapi masih bergaya hidup di kampung.;... saya engga nangkap, saya tanya lagi untuk penjelasan 'maksud abang ?'.... dia menunjuk tangga rumah jogglo di lokasi lapangan luas ini, tanda mengajak saya istirahat. kami duduk. beliau duduk di anak tangga ke empat dari bawah, saya di anak tangga ke dua. malu sejajar sama walikota coey. 'saya penduduk kota ini. apapun saya lakukan untuk membuat kota ini bisa dibanggakan seluruh orang yang dulu sudah bangga dengan kota ini. dalam kondisi apapun !'. saya tidak sabar memperhatikan walikota bolak-balik ganti. tapi keadaan kota bolak-balik tetap aja. saya tidak percaya para walikota itu tidak pernah ke luar negeri. masak iya engga bisa meniru sedikit saja dari apa yang sudah dilihat di negara orang. saya banyak melakukan perjalanan ke luar negeri. dan saya pikir harus melakukan sesuatu untuk membuat kota ini sedikit luar negerilah.'

'abang punya kepentingan politis kaliii.. gaya aja abang bilang demi yang tadi'

beliau agak gusar "betul ini bang... tak ada sedikitpun kepentingan ku. saya cuman tak rela kota ini primitip sekali dibanding kota lain di negara ini. masak kuno sekali kita. sampah dibiarin bertumpuk di mana-mana. lampu jalan entah ada di mana, dan kalau rusak kita tidak tau harus ngomong ke mana. jalanan gersangnya minta ampun.. apa salahnya bikin sesuatu yang sedikit lebih baik. engga apa-apa sedikit asal ada lebih baiknya"... beliau bergerak menuju arah jalan kesawan. berhenti di alat-alat olah badan. besi yang dibentuk sekian rupa, diwarnai dengan cat kuning. beliau mencoba body building sedikit.

SY :'apa saja cita-cita abang tentang kota ini'.......... beliau berhenti, agak sedih keliatannya... 'banyak.. banyak sekali cita-cita ku' tapi cemana lagi, nasib badan dikandung tanah sudah begini'.... 'saya mengejar.. begini cemana bang ?' dia jawab dengan gusar 'ya begini macam ginilah, masak begini macam gitu. itu namanya begitu'... anda tau engga... dalam pikiran saya. saya akan bangun subway di kota ini. pertama-tama saya mau buka jalur subway dari titik makam pahlawan di sm raja. saya buka lurus sampai ke titik simpang glugur. untuk mengimbangi itu, saya bangun tiang-tiang pancang raksasa. saya taruh jalan layang di atasnya. jadi akan ada jalur khusus untuk orang yang mau langsung ke binjai atau orang yang mau langsung ke brayan. jalan layang ini naik dari titik makam pahlawan, satu akan turun di simpang kampung lalang. sementara satunya lagi turun di simpang tembung. jadi tengah kota ini engga perlu dilewati oleh kendaraan yang tidak berkepentingan pada jalur-jalur tengah kota ini. dan, akhirnya entah pada tahun berapa, kota ini menjadi kota pedesterian, kota pejalan kaki terbaik di dunia... 'ai makjang, saya terkejut. kalau ini terjadi, udah pasti macam di tipi-tipi itulah kota medan nantinya'.... saya mencoba pertanyaan nakal 'abang kenapa suka kali nukar-nukar bangunan sama bantal guling ?'... beliau kaget. sampai hampir terduduk karena ga menyangka pertanyaan saya berbobot seperti ini. "apa maksud anda dengan menukar dengan bantal guling ?".... 'itu bang... abang nyuruh orang yang mendiami gedung pindah rame-rame. terus gedung tempat mereka semula ini abang kasih sama pengusaha. abis itu, pengusaha ini membangun gedung tempat kerja baru orang-orang yang abang suruh pindah ini"..... saya lihat agak seteres juga beliau "itu namanya tukar guling..... '... dimana salahnya ? engga ada yang dirugikan. keuntungan malah dua. orang pertama dapat gedung baru. asli barunya. orang yang membangun pengganti tadi, mendapatkan tanah gratis. dia bangun di sana tempat usahanya. kita-kita ini penduduk kota dapat tempat kunjungan baru. engga usah repot kali mikir yang gitu-gituan kan ?"

kami jalan pagi lagi. sesekali beliau menyeka keringat pake handuk putih tipis. saya sendiri menyeka keringat dengan telapak tangan. tak sopan meniru-niru walikota kalau ekonomi kita engga mampu. saya mencoba membayangkan kondisi kota ini. kalau angan-angan beliau terjadi. saya membayangkan kota ini mirip seperti singapura. kota underground terbesar yang pernah saya tau. anda tau singapura ? 90 persen lokasi bisnis mereka ada di bawah tanah. anda seliweran di orchard. bayangkan di bawah telapak kaki anda, sekitar sepuluh meter di bawah permukaan tanah. orang-orang lagi duduk santai minum coffee beans. atau jangan-jangan ada yang sedang sibuk di ruang fitting untuk mencoba pakaian yang akan dibeli. bayangkan takasimaya. orang makan justru entah di lantai berapa di bawah tanah ! bayangkan saja sejak dari sisingamangaraja anda berjalan kaki tanpa putus menyusuri jalanan kota medan dari bawah tanah ! bayangkan betapa nyamannya jadi pedestrian di sepanjang kesawan, lapangan merdeka, lapangan banteng sampai ke petisah. karena semua kendaraan akan naik di atas kepala menuju binjai dan belawan. volume kendaraan di tengah kota akan turun drastis sebanyak 90 persen... gila, orchard bisa kalah sepi dibanding medan. tapi makin lama saya berpikir, makin takut saja saya. 'nanti kalau mau ke belawan, nyetop mr. x nya dimana ?' saya bayangkan stadion teladan yang katanya mau dipindah agak di luar kota. bandara yang seharusnya sudah tahap lima puluh persen pekerjaan selesai. membayangkan pinggiran sungai deli yang dikeraskan dengan hotmix. ai mak. sedapnya naek sepeda sepanjang berkilometer sungai deli dan babura di tengah kota ! oya.. saya harus mengakhiri pembicaraan. saya tanya ke beliau pertanyaan penuntas 'bang... kapan cita-cita abang itu kita realisasikan ? kan abang masih lama di jakarta...'.... beliau tiba tiba membelok tajam ke arah bank panin. sayup sayup saya dengar keluhannya 'diam la kau bang. ngejek aja pun'....

1 komentar:

Unknown mengatakan...

bayangkan saja sejak dari sisingamangaraja anda berjalan kaki tanpa putus menyusuri jalanan kota medan dari bawah tanah ! bayangkan betapa nyamannya jadi pedestrian di sepanjang kesawan, lapangan merdeka, lapangan banteng sampai ke petisah. karena semua kendaraan akan naik di atas kepala menuju binjai dan belawan.

akh aku engga mau bayangkan bank, buat saluran air saja, Medan sudah kaco kek gitu, masih banjir jugak...cemmana lagi buat jalur bawah tanah...kalau banjir...mak kaya film daylight lha..untung amerika punya stallon kalo di medan siapa yang mau turun..paling jawabnya alah...masih lamanya itu...engga apa-apa lah..bentar lagilah masih capek aku... :)