beberapa hari aku agak sebal tak putus-putus (tengoklah, biasanya pake 'saya' terpaksa pake 'aku'. orang udah palak kali !). cemana tak sebal, ada bank bolak-balik nelpon ke meja kantor. urusannya soal tagih menagih piutang mereka yang kebetulan dilakukan orang yang kerjanya seruangan pulak sama kita. tak ada hujan tak ada angin, kagetnya bikin kepala tiba-tiba pening : '....@#$!!!**%##... umpat si penelepon'. kita respon baik-baik, ini adda apaaa.. adda apaaaa.... eh, makin kasar dia. intinya maki-maki dan menghina nama baik perusahaan. awak yang nerima telpon kan tunggang langgang kebingungan. yang ngutang pribadi, kok perusahaan mendapat makian ? karena seringnya mereka telpon dengan umpatan-umpatan, lama-lama saya menjadi merubah kasus ini menjadi teror. bukan lagi penagihan !
walau hati panas bukan main ; gimana engga panas. mereka ngomong macam orang tak beradat, masak mesti dilawan seperti tak beradat ? hati ditahan-tahan, atas nama Nama besar perusahaan. minimal saya sudah menilai bahwa perusahaan dimana dia bekerja itu adalah perusahaan kerdil. gimana ga kerdil. kok mereka mau-maunya merekrut perusahaan penagih yang kemampuan komunikasi dan negosiasi mereka rendahnya di bawah titik nol.
seumpama mereka berusaha mengumpulkan kembali seluruh dana yang sudah dimanfaatkan, lakukanlah langkah-langkah sederhana. kirimin dulu surat langsung ke debitur. terbitkan surat jangan sekali. harusnya lebih dari 2 kali. kasih lah status dari pemberitahuan menjadi ke peringatan ! setelah itu, ya kunjungan konfirmasi. ..... -___ yang mereka lakukan cuman telpon. saya ngerti telpon itu biayanya paling rendah. surat jauh lebih mahal dibanding sekedar beberapa pulsa yang dihabiskan. kalau kunjungan ? ya jauh lebih mahal. mmm.. kalau mereka ngotot di metoda outbond call, saya jadi curiga...jangan-jangan perusahaan penagih ini ga punya modal.. modal mereka cuman beberapa meja kecil dari kayu. dilengkapi beberapa buah kursi. dan rekrut beberapa petugas tanpa keahlian, tetapi dengan standar gaji yang rendah. kemungkinan ini bisa saja terjadi. bukan bermaksud melakukan rasisme terhadap tingkat pendidikan, tapi saya bisa merasa dengan jelas bahwa yang melakukan penagihan, tidak punya ijazah di atas sekolah menengah. sorry to say that ! perusahaan seperti ini, semestinya engga melulu menyalahkan para debitur mereka. mereka juga harus berkaca kepada kemampuan analisa dan evaluasi mereka terhadap calon debitur atau pemegang kartu. dengan kemampuan di atas rata-rata, harusnya sudah tau lah dari awal bahwa : 'orang ini punya kecenderungan ngemplang, atau orang ini tidak pantas ditawarin kartu kredit'.... kalau kemampuan ini tidak mereka miliki ? walah, apa nama besar perusahaan mereka masih bisa diakui sebesar ini ? jangan-jangan sudah tereduksi sebesar setengahnya. dari semula perusahaan dengan nama besar pemilik modal pinjaman, menjadi perusahaan tukang kridit. atau rentenir. yang punya pengalaman atau pernah mengetahui, sudah tentu mengerti seperti apa kebengisan tukang tagih kredit. pas terjadi tarik-menarik proses penagihan antara si tukang tagih sama si parbus (=parutang busuk; orang yg ngutang tapi ga niat bayar), disinilah sumpah serapah dihamburkan di atas kepala mereka berdua. giliran awak yang dengar terlemas-lemas tak tahan.
saya engga tau, apakah pejabat yang bekerja di perusahaan yang suka menjebak orang dengan utangan ini mengerti betul seperti apa proses pemberian pinjaman dan proses persiapan penagihannya. jangan-jangan mereka pikir prosesnya sederhana : pinjamkan saja, habis itu paksa bayar. ya mana bisa seperti itu lah. dengan kemampuan komunikasi yang rendah dan memprihatinkan, sudah pasti orang yang sebenarnya punya niat bayar, akan membatalkan niatnya dan semakin ngotot untuk ngemplang ! apakah ini sifat asli mereka ? ya belum tentu ! tetapi kalau sudah harga diri diinjak ? masing-masing kita bisa kasih jawaban apapun untuk bersedia melakukan apapun.. ya engga ? jangan pulak karena mereka tak mampu, yang disalahkan malah orang lain yang tidak terlibat. buruk rupa, kok cermin dibelah.
_____karena si penagih yang kurang mengerti tata cara komunikasi ini, terus terang sempat hilang selera ku untuk menikmati makan siang. tapi... harus tetap berpikir jernih. jangan pernah terbawa pengaruh apapun untuk kejadian apapun. keputusan kan ada di tangan kita. kalau ternyata mereka tetap ngotot kasar dan menghina terus nama besar perusahaan tempat aku kerja, padahal aku dan perusahaan ku tidak mengerti apa-apa urusan ini, enteng saja.. ku tutup saja kartu kredit citibank ku ini,..... kenapa rupanya !!!
1 komentar:
kayaknya enteng itu Bang,
1. kirim surat ketidak puasan
2. kirim surat ketidakpuasan
3. kirim surat ketidakpuasan..
kalau masih gitu lagi..
tuntut banknya dengan, dengan alasan hukum mengganggu ketenangan.. beres kan dapat duit lagi...ganti biaya surat.. :)
Posting Komentar