Senin, 27 Juli 2009

*** ALBUM FOTO HARI MINGGU

*** Pulang dari ngumpul-ngumpul di rumah Tuhan, tidak seperti biasa, arah mobil saya alihkan keluar dari jalur biasa. Perbedaan rute ini saya sengaja untuk bikin anak-anak gelisah. Ternyata bukan anak-anak yang protes, ternyata mamaknya yang jauh lebih keras protesnya : 'kok langsung pulang bang, suntuk kali aku, jalan-jalan dulu la'. Anak-anak langsung macam bensin disiram sama minyak jelanta : 'sok kali pun papa ini. kami tak mau langsung pulang pa'. Saya purak-purak cool : 'papa ada janji sama om Jonie, mau ngopi sebentar'. Makin lama makin parah kerusuhan dalam mobil yang kecil ini. Karena pikiran masih waras, saya tentu saja berusaha untuk segera mengakhiri rencana demo besar ini. Mobil saya arahkan lurus saja menuju jalan S. Parman, dari Kampung Madras (d/h kampung keling atau kampung Sendiri kata temen kita yang disebut seperti itu), saya banting setir mengarah ke kiri. Hanamasa yang dulu mentereng dan sekarang udah tutup karna bubar restorannya, ada di sebelah kiri. Setiba di warung Koki Sunda mobil saya belok kanan. Begitu ketemu belokan pertama, langsung belok kiri lagi. Anak-anak mulai ribut. Mamanya udah tak mau diajak ngomong. Setelah meninggalkan sebuah istana di depan RS Herna, mobil saya kebut menuju Sudirman, masuk Diponegoro, belok kiri lagi ke arah Zainul Arifin dan langsung menuju parkir di lantai Roof sun plasa. Barulah teriakan-teriakan bingar tadi meredup. Sayup sayup kedengaran suara halus : 'aku kawan sama papa ajalah. ga mau kawan sama mama'.

Sapo Restaurant.
Mobil sudah diparkirkan. Semua penghuni kendaraan ini berhambur keluar. Begitu masuk pintu samping halaman parkir lantai ini, terjadi kejadian luarbiasa : semua langsung sepakat makan siang dulu !. Biasanya ritual ini yang bikin keluarga kami rusuh : tidak sepakat menentukan jam dan tempat makan siang. Di lantai sini ada tempat makan yang lumayan sedap dipandang mata. Kita segera masuk ke Sapo. Gayanya macam Korea macam Jepang gitu. Kalau mereka pengen sekali kunjungan yang ramai, rasanya tempat ini salah setting interior. Mereka terjebak kemewahan. Tata letak ruang dan furniturenya kesannya terlalu mewah. Awak yang merasa agak seram dengan harga, sudah pasti cepat-cepat kasih kesimpulan : makanannya mahal-mahal. Saya kurang suka ke sini sebenarnya, tapi karena mama nya anak-anak ini terkesan pada kunjungan sebelumnya, kita tinggal ngekor saja di belakangnya. kak Iyank pesan Nasi ayam Hainan. Yang hadir cuman nasi hainan, ayamnya ga ada hainan hainannya. Sempat lagi termimpi-mimpi makan ayam itu, bisa ngamuk kita disini. Mending mereka tulis disitu 'nasi lemak', atau 'nasi kentang'. Jangan nasi hainan. Tak tahan liat wajah anak sulung ku ini kecewa 'pak, kok ga ada ayamnya ?' saya jawab saja 'meneketehe, papa kerja di Telkom, bukan di Sapo'. Lince pesan Ifu mie siram. Michelle ikut-ikutan pesan mie 'iya, aku mie juga'. Kevin Axel, seperti biasa, cuman angkat bahunya yang kurus, tanda bilang 'what ever'. Kalau sudah urusan makan, anak laki-laki ini tidak pernah mau kasih pendapat. Palak kali kita. Pengen rasanya mengirimkan tinju bertubi-tubi ke wajah nya yang imut-imut itu. Pesanan saya sendiri : ayam goreng kering, sama Sapo Soup apa itu namanya rumit. Pas keluar, ayam goreng keringnya nongol macam ayam setengah bakar. Soupnya nongol mirip-mirip macam capcay, tapi rasanya sama sekali engga gurih. Karena menunya rada mahal menurut kami, doa saya pun macam gini : 'terimakasih Tuhan karena kami bisa makan di tempat semahal seperti ini'. Meja sebelah itu mungkin jelas-jelas mendengar doa kami. Biarlah, orang memang kami bersyukur bisa makan di tempat mahal macam gitu.


1 komentar:

Anonim mengatakan...

dedek michele-nya lucuuuuu bgt.. si abang keliatan pun ga selera makannya.
u have 3 wonderfull kids pak. next month will b 4 ya?