Kamis, 09 Juli 2009

*** HARGA KEMENANGAN !!

... walaupun tak suka sama band ungu, ujung jari kelingking awak terpaksa diwarnain ungu. girang kali rasanya ikutan election. macam nonton pertandingan sepak bola. ternyata 'pertandingan' tanggal 8 juli 09 kemaren, seumpama Manchester United lawan klub profesional yang sama sekali tidak diisi pemain profesional. Jadi, satu klub menang dengan telak. Jangankan event penalti, perpanjangan waktu saja pun tak ada. Kelihatannya kemenangan nanti bakal straight set.

Luarbiasa pemilu sekali ini, selesai dengan lancar, ga ada cekcok. Mudah-mudahan sampai nanti berakhir masa jabatan presiden 'baru' ini, tetap ga ada cekcok. Udah cape kali kepala asik menikmati cekcok terus. Walaupun tak suka kali sama politik-politikan, seru juga nyoba ikutan ngasih sedikit perhatian sama seluruh prosesnya.

Menurut saya, ketiga kontestan adalah para jago dunia politik. Teknik, taktik, dan strategi apapun sudah pasti ada dalam catatan buku saku. Jangankan cuman sekedar menangkis serangan, merencanakan serangan orang lain juga mereka mampu. Macam baca pikiran begitulah. Kalau diperhatikan, semua urutan skenario sudah mereka rancang dengan bagus. Macam marketing, cara mereka memilih time to entry nya pas. Setelah itu, gaya menjaga awareness juga pas. Sampai waktu melakukan 'the last punch' pada d-day nya pun terasa sekali Sangat berpengalaman. Semuanya diskenario dengan hebat. Anyway, tak ada gading yang tak retak. Skenario mereka yang manis dalam bentuk baliho, iklan dan jingle apapun, justru 'dipatahkan' dengan jelek oleh para 'komentator team sukses'. Agak lucu memang, team kandidat tertentu bisa-bisanya terpancing mengikuti gaya permainan lawan. Padahal, dari awal team ini sudah ada di jalur mereka : santun, sopan, dan tenang. Eee pas giliran nongol di televisi, yang justru mendekati masa tenang, kegarangan mereka melebihi team lain. Anyway, pemenang akan segera diumumkan. Kalaulah mereka baca tulisan ini, maunya mereka memperhatikan catatan kecil:

2009 start membangun image Partai yang melegenda.
Banyak catatan bagus yang diperlihatkan tiga kandidat dalam persiapan awal. Rata-rata dari mereka melakukan budaya standar Indonesia : sungkan. Bayangin saja, dengan kekayaan yang tidak bisa dibilang terlalu kecil dibandingkan pasangan, yang lebih kaya justru merasa sungkan untuk berhadap-hadapan langsung dengan para incumbent. Akhirnya bersedialah mereka menjadi kandidat penyandang gelar wakil. Ini awal bagus. Tetapi, mereka harus sadar bahwa dengan menyatakan ‘ya, saya bersedia’ pada saat lamaran kandidat, ada konsekuensi yang mereka pegang untuk menjadikan mereka sebagai ‘lelaki’ jantan. Lelaki jantan kan harus konsisten. Dengan begitu, mereka harus konsisten bahwa Partai yang ada di belakangnya juga harus terus kompak dengan partai yang didukung. Untuk kandidat yang menyandang sebutan bukan wakil, ini saat bagus untuk kembali merintis pembangunan kembali image politik partai. Cara mereka melakukan kampanye pada saat kemaren sungguh di luar dugaan. Ada beberapa yang melakukan cara tradisional; kampanye secara outdoor. Tetapi ada yang betul-betul berbeda dengan melakukannya di dalam ruang gedung. Harusnya, cara elegan ini segera dijadikan gaya permanen untuk melakukan awal baik pembentukan image partai untuk masa depan partai ini menjadi sebuah legenda hidup. Artinya jangan pulak target besar mereka hanya 2009.

Konsisten ada di belakang
Masing-masing kandidat didukung penuh oleh partai-partai. Partai-partai sendiri, punya pertimbangan dan alasan untuk memilih barisan yang mereka sukai. Sebaiknya, minimal sampai masa kepresidenan ini berakhir, partai-partai ini tetap ada dalam barisan yang sama. Jangan pulak, karena kecewa ditengah jalan, mereka langsung balik muka menjadi lawan. Kalau cuman sekedar lawan pasif engga masalah. Yang dikuatirkan, mereka kerjanya asik merecoki saja. Apa saja dilakukan pemerintah yang justru mereka dukung, direcoki. Kerjanya dari bangun, tidur lagi, bangun lagi, lagi-lagi tidur, cuman memikirkan cara apa yang paling gaul untuk merecoki. Jangan-jangan nanti di lengan kiri mereka yang kurus dibikin tato macam gini : ’Recok, I love you’. Kalau ini sampai terjadi, taruhan kita, semua konstituen mereka berubaha nama menjadi : Bingung ! kepala mereka dipenuhi pertanyaan macam gini : ’apanya orang ini, kemaren awak disuruhnya memilih yang tersebut. Kok sekarang jadi macam musuhan ?’. Mereka tau tidak dampaknya ? nanti, pada giliran kampanye di tahun berikut, nama si tukang recok itu tidak akan dipilih lagi. Artinya, tindakan politik apapun yang akan mereka ambil, pasti akan menentukan masa depan partai mereka sendiri. Percayalah. Sudahlah... mending percaya.

Partai Agama di belakang, menjadi terbelakang ?
Memang macam permainan kata-kata saja, bahwa sadar atau tidak sadar, banyak sekali pernyataan politik bahwa Partai berasaskan agama ’berada di belakang’ kandidat tertentu. Yang jadi pertanyaan, nanti pada masa pemerintahan presiden yang berasal dari partai bukan mereka, yang tadinya mereka dukung, apakah akan tetap menaruh agama di belakang gaya pemerintahan; atau ditaruh di depan untuk dijadikan mercusuar penunjuk tempat yang benar ? Maksudnya, bagaimana nanti presiden memperlakukan agama-agama yang sudah tentu diwakilkan oleh partai yang berani membawa lambang agama ? Jangan la pulak terjadi lagi ada agama yang didahulukan dari agama lain. Padahal yang memilih mereka berasal dari segala agama. Masak iya, tega-teganya menyangkal semua dukungan suara dan doa dari semua agama ? Kalau bisa, sebaiknya pemerintah besok melihat bahwa sebagian besar dari suaranya juga berasal dari pemilih yang agamanya tidak sama dengan yang mereka anut. Jadi sekarang waktunya untuk memberikan perhatian untuk semua agama. Atau ambil saja sikap, negara tidak berurusan sama sekali dengan agama ! Oya, ada satu catatan penting. Yang justru sangat penting. Dengan tidak adanya satu partai pun yang berbasis agama yang menjadi dominan, dan justru ikut berada dibarisan belakang para kandidat (baca;partai), bukan berarti bahwa agama menjadi terbelakang. Ini sebagai gambaran, bahwa memang sebaiknya agama mengurangi kegiatan-kegiatan politiknya. Lebih baik partai berbasis agama ini melebur menjadi lembaga yang fokus pada pembangunan keimanan masing-masing umatnya. Politik itu kan hitam putih. Sementara kita tau, agama tidak boleh hitam putih.

Waktu membayar Hutang
Siapapun tidak bisa menyangkal bahwa pada waktu persiapan-persiapan dilakukan, sudah pastilah banyak janji yang disetujui. Pakek jabatan tangan segala waktu seremonialnya. Kalau di Medan mereka bilang gini : ’Janji kau ya.. betul kau ini, janji kan ? dijawab : ’iyaa.. iya.. janji aku’.... Janji-janji tadi, sekarang ini berubah statusnya menjadi hutang. Hanya mereka yang tau siapa saja yang meminta janji, apa bentuk janji, dan bagaimana isi perjanjian. Bisa saja janji-janji yang dibuat secara rahasia, yang tidak didengar oleh orang lain yang juga janjinya dipegang, ternyata akan membuat sengsara kelompok tertentu. Mungkin, pada waktu itu, sang kandidat tidak berpikirpanjang dan langsung bilang ’oke, saya janji’. Caranya sih sederhana, cuman manggut-manggut, bilang okah okeh, jabatan tangan, selesai. Padahal dampaknya akan terjadi bertahun-tahun lamanya. Ada bagian yang tiba-tiba merasakan keberuntungan yang luar biasa. Dilain pihak ada bagian lain yang tadinya berdoa sungguh untuk kemenangan calonnya, merasakan neraka bertahun-tahun akibat kengerian-kengerian yang mereka rasakan dari kebijakan sang Idola. Waktu nanti mereka berkuasa, tentu saja seluruh hutang akan ditagih. Mana yang lebih dulu dibayar ? Janji hati waktu berdoa minta petunjuk Tuhan secara pribadi, atau janji pada mulut-mulut orang yang mungkin saja berisi rencana jahat ? Hanya mereka dan hati mereka yang bersih, yang.

Menjadi Presiden Legenda
Abraham Lincoln, Roosevelt, Reagan, Clinton, sekarang menjadi legenda-legenda di negara yang justru menjadi ’kiblat’ dunia dalam ukuran modern, beradab, makmur, dan moderat : Amerika Serikat. Sama saja seperti pemilihan di sini. Di sana, saya yakin persiapannya dilakukan secara hitam dan putih. Dari niat suci dan niat buruk. Dari rencana menolong dan rencana menghancurkan. Tetapi, waktu juga yang membuktikan bahwa dedikasi, kesungguhan, dan kebaikan hati, menjadikan mereka menjadi presiden yang Legendaris di negaranya. Jujur saja, kita baru punya satu presiden yang dianggap legendaris dan diterima oleh sebagian besar warga bangsa ini. Presiden yang tahun 2009 ini dilantik nanti, punya peluang sama untuk menjadikan dirinya tidak sekedar ’Presiden Indonesia yang ke....’. Tetapi betul-betul Presiden yang nama, ucapan, dan gayanya banyak ditulis dalam buku-buku, artikel-artikel yang akan dijadikan sebagai contoh berbuat baik diseluruh dunia ! Tentunya bukan materi lagi yang mereka cari. Saya sungguh percaya atas semua omongan yang mereka hamburkan dimanapun, yang sempat saya dengar. Saya sungguh percaya bahwa semuanya diucapkan dari kejujuran hati dan iman. Tapi, pertanyaannya apakah mereka percaya dengan semua yang mereka ucapkan ? Tanya beliau lah jangan tanya saya. Emangnya saya ikutan jadi kandidat kemaren ???

2 komentar:

Anonim mengatakan...

what a player!

Anonim mengatakan...

puasa nulis pak??