Taman Edonia...
Laju kereta bagus yang mahal itu melambat sesuai jalanan yang mulai menyempit dan menurun. Pui Ang yang tidak tau apa-apa tentang daerah sekitar situ berkonsentrasi pada kereta dan sekali-kali menoleh ke arah Yen Ang. Meminta petunjuk.
Perempuan ini kelihatan sedikit tegang dengan wajah yang diarahkan lurus ke depan sesuai dengan arah maju kereta yang membawa mereka. Senyum yang tadi lebar dan sedap dilihat sudah tidak berada di sana digantikan oleh bibir yang hanya melukiskan satu garis halus. Mulutnya betul betul ditutup rapat.
Pui Ang berusaha memahami keadaan ini dan tidak berani membuka suara. Kereta dilambatkan lagi jalannya dan Pui Ang menolehkan kepala ke arah Yen Ang :
'Yen Ang, kita ke arah mana ? Apa taman Edonia sudah ada dekat sini. Kita harus kemana ?'
Pui Ang mendesak secara halus takut merusak suasana hati dan pikiran perempuan pujaannya.
.................... on the script........
Taman Edonia ternyata sekali adalah areal pekuburan buat kalangan orang-orang bangsawan. Taman pekuburan ini ada di tanah berbukit dan lembah dengan beberapa telaga kecil, entah dibangun entah memang sejak dulu sudah ada di sana, berada persis dilekukan lembah kecil dan tidak luas.
Di sebelah kanan, Pui Ang memperhatikan ujung taman ini seperti diberi pagar batang-batang pohon dengan ukuran menengah. Lebih besar dari batang kelapa muda tetapi tidak menyamai lingkar batang pohon jati.
Di tengah taman yang betul-betul menggambarkan ketentraman roh ini dibangun jalan dengan ukuran sedang, cukup untuk dua kereta berpapasan, melingkari areal tengah pekuburan.
Ketika Pui Ang melemparkan pandangan mata menyeberangi lembah kecil, laki-laki ini takjub oleh sebuah patung malaikat kecil yang sengaja dibangun dan ditaruh agak di ujung taman.
Posisinya persis di titik tertinggi taman sehingga siapapun dan dari sisi mana pun akan mampu menikmati keindahan hasil seni patung.
.................on the script........
Di sekitar kaki mereka ada tiga batu nisan yang berbeda warna. Salah satu dari ketiga nisan itu berwarna putih sementara yang dua lainnya dari batu alam berwarna hitam pekat mengkilat.
Yen Ang menjalari pelan-pelan satu per satu dari ketiga batu nisan tadi. Pui Ang paham bahwa inilah tujuan akhir perjalanan mereka hari ini.
Laki-laki ini berjalan merapat untuk mendekati Yen Ang.
'Apa yang harus kita lakukan ?' bisiknya pelan.
Mereka hanya berdua di sekitar situ. Memang ada beberapa anak laki-laki kecil yang sedang sibuk membersihkan rumput dan nisan-nisan, tetapi mereka berjarak sekitar puluhan nisan dari tempat Yen Ang berada.
'Bukan aku Pui. Tapi kamu sendiri'
'Kamu harus melakukan sesuatu buat diri mu dan aku'
Pui Ang kebingungan karena sama sekali tidak memahami isi dari kata-kata perempuan ini :
'Aku sendiri ? harus melakukan apa Yen Ang ?'
'Kita percaya roh-roh orang yang sudah mati tidak lagi berada di sini Pui'.
'Tapi aku hanya minta, bicaralah di pusara ini kepada kedalaman hati mu sendiri'
Yen Ang berbicara sangat dingin dengan tidak menoleh sedikit pun ke arah lawan bicaranya. Matanya yang berair jatuh lekat di atas nisan hitam yang nantinya setelah ditanya, nisan ini adalah pusara ibu dari orang tua laki-laki Yen Ang.
Di bawah batu nisan ini, di kedalaman galian tanah, terbaring tenang puing puing tubuh seorang nenek bijak yang sungguh menyayangi dan dihormati Yen Ang.
Pui Ang semakin kelabakan karena menyadari bahwa kepalanya sekarang tanpa isi. Pui Ang sama sekali tidak mengerti tujuan perintah perempuan yang dia kasihi.
'Kenapa roh ? aku harus bicara apa ?'
'Bicaralah pada diri mu Pui Ang, tentang apa yang sudah engkau ucapkan sendiri'
'Bicaralah atas nama kejujuran hati mu tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kebenaran niat hati mu untuk membawa ku ke dalam kehidupan kita berdua'.
Sekarang Pui Ang, laki-laki yang sedang mempertaruhkan masa depan hidup dan cinta nya berdiri mematung. Kekakuannya mampu menyaingi patung malaikat kecil di ujung taman Edonia.
Pui Ang menjatuhkan hati nya ke relung yang paling dalam untuk memanggil seluruh kejujuran pikiran, hidup, dan suara hati.
Tubuhnya bergetar hebat. Kejujurannya mengalahkan seluruh pantangan-pantangan kelaki-lakian. Pui Ang menangis dengan bahu yang terhentak hentak keras.
Apapun yang terjadi pada diri Pui Ang saat itu tidak memberi pengaruh apapun buat Yen Ang.
Perempuan teguh ini membiarkan suasana hati mereka sama sekali tidak saling mengenal.
Yen Ang membiarkan angin yang berlarian di atas batu batu nisan dingin mengusapi seluruh permukaan kulit.
Sekarang tergantung kepada Pui Ang : masa depan kehidupan nya.
..............on the script....
1 komentar:
kasihan amat si pui ang ini ya ??
Posting Komentar