Angin dengan isian debu membuat rambut laki-laki yang tidak lagi muda ini bergolak
melambai. Rambut tipis yang tadi diatur rapi, sekarang mulai kelihatan berantakan. Berdiri di atas dua kaki yang kelihatan kokoh, bukan ! bukan cuman kelihatan, kakinya memang kokoh, tangannya menggantung di sisi badan dengan dua kepalan yang menggenggam. Bahunya ada dalam posisi datar, tapi terlihat direndahkan mengikuti arah mata yang seperti menusuk perut bumi. Kedua matanya sedikit berkilat. Berasal dari air yang tipis membasahi bola mata. Air mata seperti ini diakibatkan gejolak emosi yang ditahan dalam dalam. Laki-laki itu, Pui Ang. Hanya sebagai pekerja. Berusaha keras untuk menghidupi dirinya sendiri dan empat jiwa lain yang harus ditanggung masa depannya. Dia terpaksa mematung. Nasib cinta dan hidupnya sedang dipertaruhkan sekarang.Di depan nya. Hanya berjarak tidak lebih dari enam kali ukuran kaki, berdiri anggun perempuan yang selama ini dipuja puji dengan sepenuh hati dan hidupnya. Yen Ang. Perempuan luarbiasa. Pemilik segala impian. Kecantikan, kepintaran, dan kekayaan ada di dalam dirinya. Pui Ang hanya punya dua rasa takut dalam hidupnya : satu, langit akan runtuh; dua, perempuan ini menangis.
Yen Ang memiliki kecantikan yang sungguh luar biasa. Tubuh yang memiliki bentuk sempurna itu, seperti menjulang di atas bahu Pui Ang. Matanya yang tajam penuh permohonan, melekat tepat di ubun-ubun sosok tubuh yang semakin lama semakin menunduk. Pelan-pelan bola matanya yang anggun banjir oleh tangisan.
Suara nya sedikit parau berbisik :
'Pui. Apa yang engkau inginkan dari ku ?'
Seperti dilecut cambuk, Pui Ang tergetar dan mulai mengangkat kepala. Bibirnya tertutup rapat. Dia engga sanggup membuka mulut. Hanya mata yang mulai berani diadu pada tatapan mata perempuan pujaannya.
'cepat bilang, apa yang kau inginkan dari ku Pui ?'.
Yen Ang kembali mendesak. Air mata semakin tumpah mulai membasahi sebagian wajah.
'tolong jawab'. Sekarang suaranya bergetar. Suara tangisan.
'Aku cuman mohon, sediakan sedikit tempat untuk ku di dalam hati mu'.
Pui Ang bilang ini dengan suara yang hampir tidak kedengaran.
Sekarang dia mengangkat dua tangannya. Pui Ang merapatkan dua telapak tangannya yang semakin bergetar, seperti orang sedang memohon.
'Ku mohon, demi segala kejujuran yang ada di hati ku, aku mohon sedikit tempat'.
Yen Ang sudah tidak bisa menahan diri lagi. Suaranya semakin keras menangis. Jawaban ini betul-betul di luar akal sehatnya. Laki-laki ini sungguh sangat tidak romantis. Tega betul tidak mengajukan permohonan selayaknya seorang laki-laki mengajukan lamaran untuk kekasih hidupnya. Sama sekali tidak. Tapi dia tau, itu kalimat yang tersisa dalam pikiran laki-laki yang diam-diam disayangi.
Sebelum ini Yen Ang berusaha menyadarkan Pui Ang bahwa niatnya untuk menjadikan diri nya sebagai istri sebaiknya cepat-cepat dihapuskan. Keinginan ini adalah keinginan yang sungguh tidak masuk akal. Yen Ang terikat norma lain yang sebenarnya menjadi penghalang kemungkinan terwujudnya keinginan itu.
Yen Ang bisa menerima permohonan Pui, walaupun harus menanggung segala resiko sulit, termasuk kehilangan kehidupannya. Yen Ang hanya ragu dengan keteguhan niat Pui Ang. Matanya tidak bisa melihat jelas karena sudah dihalangi air mata yang meluap. Yen Ang berusaha keras mencari tau kejujuran apa yang ada dalam hati Pui Ang melalui sinar mata nya.
Ada satu cara yang Yen Ang tau untuk menggali seberapa dalam kejujuran niat Pui Ang. Pui Ang adalah orang yang sangat cinta dan menghormati leluhur. Dia bukan penyembah berhala, tetapi sungguh menghormati segala sesuatu yang sudah dimulai oleh para leluhur. Yen Ang menyentuh punggung tangan Pui Ang :
'Pui, kita ke taman edonia sekarang'.
Pui Ang terlihat akan mengajukan satu soal. Yen Ang menghalangi niat ini :
'kita harus ke sana sekarang Pui. engga boleh ditunda'.
Pui Ang memaksakan diri untuk cepat-cepat bertanya :
'siapa yang kita temui di sana ?'.
Yen Ang bicara tegas : 'batu nisan semua leluhur ku'.
Yen Ang agak sedikit kecewa dengan perlawanan ini :
'kenapa Pui ? kamu takut atau ragu ?'.
Pertanyaan ini membawa pengaruh yang sungguh aneh. Pui Ang kehilangan keramahannya. Perubahan air muka ini sempat membuat Yen Ang sedikit kuatir. Sekarang Pui Ang menatap lebih berani tajam-tajam tepat di bola mata perempuan yang dipuja pujinya. Tangannya meraih kedua tangan kekasih jiwanya :
'Yen Ang. Demi seluruh hidup ku dan seluruh hidup mu, dan seluruh hidup ku yang akan ku berikan ke hadapan mu, dan seluruh hidup yang akan kita bangun berdua'.
'Aku tidak pernah ragu atas apa yang sudah ku siapkan di dalam kepala ku'.
'Aku tidak pernah ragu atas apa yang sudah berani ku bangun dengan perlahan di dalam dasar hati'.
'Aku tidak pernah takut sedikit pun. Hanya satu yang ku takutkan. Kematian. Tapi sayang, ketakutan itu sudah lenyap dengan kehadiran mu. Tidak ada sedikit pun keraguan apalagi takut'.
'Kita berangkat ke edonia, sekarang'.
Sedikit tersentak Yen Ang berusaha menyesuaikan langkah Pui Ang karena tangannya tiba-tiba diraih dan ditarik sedikit kasar. Pui Ang terlihat sangat tidak sabar untuk segera membawa perempuan pujaan ini menuju taman edonia. Tempat di mana Yen Ang akan menguji segala kejujuran hati.
Tanpa minta ijin sedikit pun. Pui Ang menaiki kereta kuda milik Yen Ang. Yen Ang sendiri sangat terkejut atas kejadian yang sangat tidak diperkirakan ini. Kejadian yang menimbulkan perasaan aneh karena ternyata ada kelucuan, kegentaran, dan kesenangan yang luar biasa yang merasuki relung hati nya. Bibir Yen Ang melembut dan membentuk senyuman. Mata nya sungguh teduh memandangi wajah laki-laki yang mulai dipujanya. Pui Ang kelihatan sungguh serius mengendalikan kereta kuda yang seumur umur belum pernah dinaiki nya :
'Pui, sebelumnya sudah pernah mengendalikan kereta kuda seperti ini ?'
'Belum ! aku orang tidak berpunya Yen Ang, bagaimana mungkin pernah duduk di atas kereta semahal ini'
Pui Ang tidak tau diri disindir halus. Dia terus saja memacu kereta kuda yang terlihat sedikit melompat tidak sabar.
'Pui, kalau belum pernah. Kendalikan pelan-pelan. Kuda ini mahal harganya. Aku ragu engkau akan mampu menggantikan kerusakan yang akan terjadi'.
Kata-kata ini mengagetkan Pui Ang :
'Aku akan menggantikan kerusakan apapun dari kereta mahal ini dengan seluruh hidup ku'.
'Kalau begitu, paculah sembarangan supaya aku segera bisa memiliki hidup mu. Utuh'.
Kalimat terakhir diucapkan dengan penuh kelembutan. Pui Ang merasakan sesuatu yang luar biasa aneh. Di perut nya mengalir udara panas yang naik sampai ke rongga dada. Wajahnya sungguh sangat memerah dan memaksa mulutnya terbuka lebar. Pui Ang tersenyum bahagia. Dia tidak lagi serius mengarahkan pandangan ke arah jalanan. Kepalanya sudah menoleh ke arah Yen Ang yang sekarang seperti patung yang tersenyum lebar
'Yen Ang. Apa artinya bahwa hari ini....' Pui Ang penasaran bertanya.
'Hati-hati Pui. Aku menginginkan hidup mu tanpa harus mengalami kerusakan pada kereta'.
..... bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar