...... Bapaknya tanya gini sama anaknya : 'ei Tongat.. kalo besar ko nanti. mau jadi apala cita cita mu nak ku ?'. nak Tongat pun menjawab dengan gamblang tanpa susah payah sedikit pun :'jadi dokter la pak. biar ku obati semua orang'. Bapaknya girang bukan kepalang. Di sebelah nya pas kali mak Tongat duduk duduk tanpa ekspresi. Waktu itu, orang ini dua lagi jaga kedai tuak nya yang tak seberapa besar. Pengunjung memang rame sekali. Cuman empat orang yang pesan minuman. Tapi suara gitar dan nyanyinya yang bikin rame. Jadi macam ada kira-kira dua puluh orang duduk waktu itu.
pak Tongat pelan pelan pegang tangan mak Tongat : 'mak. ko dengar cita cita anak kita itu mak ? mau jadi dokter dia. Bisala agak sedap nanti hidup kita waktu tua ya ?'. Yang dipegang bukannya senang. Sikit pun tak ada gambaran semangat di mata nya. Dia cuman tengok sikit mukak suami nya itu, langsung khusuk lagi sama mata yang tak ada semangatnya. Bah, nengok ini agak kuatir juga bapak si Tongat :'mak oi. kek mananya. Yang tak ko dengar nya tadi cita cita anak kita itu ? si Tongat itu oi !'. 'Ku dengar. jelas kali pun ku dengar. Apa istimewanya ?', sukak sukak mak Tongat bikin suara yang sengak. Agak naik juga pitam bapaknya si Tongat :'oi. kek mana nyaaa. Masak tak senang mamak jadi kaya nanti ?'--.... agak diam orang itu dua.....-- Tiba-tiba : 'Siapa yang tak senang ?', balas mak Tongat agak sikit naek emosinya. Diteruskan mak Tongat lagi ngomong :'itu kan cita-cita si Tongat. Cita-cita bapak sendiri apa ? supaya cita-cita si Tongat itu bisa kejadian ? apa bisa si Tongat hidup dari cita-cita ? apa tak usah kita bayar uang sekolahnya. Tak usah kau tambahin sikit gisi nya. Tak perlu lagi cari apapun supaya hidupnya bisa lebih baik dari kita. Kalo betul dia nanti lulus sekolah yang jadi dokter itu, ada uang kita untuk bayar sekolahnya ? ada ?!!!!.... Pak Tongat yang dari dulu dikenal orang sebagai 'setengah preman kampung', setengah lagi sebagai seniman. (kek mana tak jadi setengah preman dia. Judul nya saja yang preman. Sekali pun tak pernah nodong. Tak pernah merokok. Mabuk pun tak hapal. Cuman malas kerja saja dia. Masak preman suka nolong orang yang kepayahan. Preman apa macam gitu. Preman pun rajin kali partangiangan (kalau di muslim partangiangan ini dibilang 'wiridan'. Resmi lah gelarnya setengah preman gara gara itu semua). Langsung terdiam la pulak pak Tongat ini. Kek mana tak terdiam. Orang memang betul semua omongan istri nya, yang walaupun cerewet itu, giat kali nyari uang demi hidup mereka bertiga. Dengan gagah, pak Tongat berdiri tergesa-gesa. Saking cepatnya berdiri, hampir melorot mandar (baca:sarung) yang dipake. katanya gini : 'mak e. ko dengar ya. aku... pak Tongat. akan berusaha keras nyari uang sebanyak-banyaknya, supaya....' belum sempat diteruskannya omongannya, mak Tongat uda motong :'ga usah banyak crita la pak. sebanyak-banyaknya, berapa perak ? --- Kasihan kali pak Tongat, padahal dia ngucapin kata-kata itu sambil bergaya mengangkat tangan kanan lurus ke depan macam pimpinan fasis, dan tangan kiri berusaha keras menggenggam ujung mandar supaya tak jadi jatuh. Bingung dia. Tangan masi menggantung, tapi dia tak nyangka ditanya berapa perak yang bisa dikumpulkannya dan darimana. 'Sepuluh juta perak !'. Aku akan mengumpulkan sepuluh juta perak !'. Agak merah muka nya karena semangat. 'Brapa lama ! kapan yang sepuluh juta perak itu dapat pak ?'. Gong terakhir yang keluar dari mak Tongat ini membuat kedua tangannya lunglai terjatuh. Bayangkan lah sarung nya sudah melorot di mata kaki.
Mulai bermimpi
+++ Cerita itu macam pepesan kosong, tapi itu ada di kepala untuk berusaha menciptakan inspirasi. Inspirasi yang menghalangi matinya kejernihan pikiran. Saya, sekarang berpikir. Nanti, pada saat usia tertentu. Ketika harus memutuskan untuk tidak aktif bekerja formal. Setiap tiga bulan sekali. Saya dan istri, kegiatannya cuman melakukan perjalanan jauh. Kita traveling ke negara mana yang kami sukai. Saya bisa bikin gambaran yang jelas bagaimana kami sama-sama saling bantu dengan pegang tangan waktu kepayahan meneruskan ayunan kaki di sepanjang tembok besar di Cina. Bisa tergambar apa yang kami lakukan waktu duduk di bibir tembok penahan air laut di Circular Quay di Sydney. Mungkin kami sama-sama duduk selonjor menghadap pintu besar gedung yang ada di lapangan Tiananmen. Saya pasti 'paksa' istri untuk menahan panas atau angin debu demi bisa membuka mata lebar-lebar melahap habis bangunan Pyramid. Saya bisa berubah jadi pemberani untuk melenyapkan phobia akan air dalam supaya istri jauh lebih berani : 'Ayo sayang. Jangan takut, semua orang sudah pernah ada di bawah hantaman air terjun Niagara Falls ini. It is really safe down here'. Itu dilakukan pada tahun yang ini. Giliran berikutnya, kami akan berusaha kembali ke masa lalu. Dan melakukan ciuman paling gila di bawah kaki Eiffel. Mencium bibir istri pada usia tua. Nekad saja kalau ternyata, ketahanan tubuh sudah jauh berkurang sewaktu berusaha menghangatkan punggung yang dicinta sewaktu kami berada di kaki langit. Tepat di lereng bukit dimana istana langit; Lasa, berdiri anggun di atas sana. 'honey, this is it. This is the last place we can reach. Sekarang kita pulang untuk menunggu kematian !.............+++ Can you imagine it ? Semua negara yang kami ingin kunjungi, kami kunjungi.
Expired Time.
Itu semua masih cita-cita. Atau lebih tepatnya masih dalam bentuk mimpi. Tapi percayakah bahwa kenyataan hampir selalu dimulai dari mimpi ? Saya sarankan beranilah untuk sekedar bermimpi. Let say, rencana perjalanan yang kelihatan mustahil tadi. Saya sekarang berusaha keras memukuli kepala sendiri supaya terus ingat, bahwa mimpi itu sudah terlanjur diukir. Karena sudah diukir harus diselesaikan dalam bingkai kenyataan. Sekarang saya tidak takut akan kebisaan atau ketidak bisaan memastikan itu benar-benar terjadi. Apa yang ditakutkan ? Biaya besar. Lah, ada apa dengan masalah biaya besar. Biaya itu butuh uang banyak. Ya sudah, mulai sekarang cari uang. Taruhlah seluruh cita-cita itu akan menghabiskan biaya sebesar sepuluh milyar. Gila coey. Lihat uang seratus juta tumplek di depan mata saja saya belum pernah tuh. Ini seratus kali lipatnya !! Tadinya saya takut. Hampir mundur dari mimpi. Tapi, 'dorongan luar biasa' ini mulai mengiris belah-belah jantung. Ada suara yang bilang dengan jelas : 'engga usah pikirkan bisa atau tidak. Mulai saja mencari !'. Dorongan luar biasa ini merangsang napsu. Mengganggu pikiran yang suka menikmati lamunan. Uang sebanyak itu harus dicari. Dan harus ada batas waktu akhir.
Biasanya kita kenal istilah expired date. Kata ini digunakan untuk keterangan aman nya produk obat atau makanan dikonsumsi. Expired time sama dengan istilah itu. Tapi digunakan untuk batas akhir dari sebuah niat. Kalau cuman bilang :'akan mengumpulkan uang sekian banyak'. Siapa yang ga bisa ?. Tapi, kapan jumlah segitu selesai dikumpulkan ? Banyak rencana luar biasa akhirnya hanya berhenti di kertas-kertas kosong, atau tertinggal di langit-langit pikiran, karena rencananya tidak dikasih batas waktu. Pilih saja angan-angan yang paling sederhana. Tuliskan disitu apa yang anda butuhkan. Pilih lagi yang menurut kita yang paling penting didahulukan. Dan, ini yang terpenting, kapan batas akhirnya. Mulut saya akan ternganga lebar kalau pertanyaan : 'kapan uang itu bisa dikumpulkan ?', tidak bisa dijawab.
Expired time dari sebuah janji harus ditentukan. Gunanya banyak. Guna pertama, kita yakin yang kita cari itu benar-benar ada. Terlepas dari kita akan mampu atau tidak. Guna kedua, adalah orang yang sudah kita libatkan dalam janji tadi, beliau punya kesiapan mental untuk menantikan itu terjadi. Dan, bayangkan diri kita seperti prajurit perang yang kedatangannya ditunggu pulang di depan gerbang negeri. Emmm... apa ada melodi yang lebih indah di telinga dibanding kata-kata ini : 'sayang, segeralah lakukan, aku engga sabar ada di tempat angan-angan itu'.
Bikin rencana, bagus. Tapi sekedar rencana, engga bagus.
Satu point bagus sudah ada di tangan sewaktu kita berani bikin rencana. Okey, rencana pertama saya mau buka usaha pecal lele. Kemudian setelah itu berkembang, akan dibuka lagi usaha tempel ban sebagai 'second income !'. Setelah warung pecal lele dan tempel lumayan bagus berkembang, buka lagi usaha catering. Kan pas ya, catering dan tempel ban. Catering itu kan butuh kendaraan untuk antar-antar. Nah, kalo ban nya pecah atau kempes ? kan butuh tempel ban. Uang nya jadi ga kemana-mana. +Setelah nanti ketiga usaha ini bagus, coba-coba buka usaha lebih bagus di mall. Beli franchise saja. Kalau sudah gini, siapa bilang uang sejumlah itu engga mampu dikumpulkan ? Berapa tahun ? 10 atau 5 ! tinggal pilih sendiri.
Tapi, jangan la pulak kita tunggu yang sepuluh tahun itu tanpa melakukan apa-apa. Terlanjur ketuaan dan bosan nanti pasangan kita... Ya sudah, mulai saja lah dari yang lucu-lucu dulu. Yang penting rencana-rencana yang sudah rapi dicatatan satu-satu diluncurkan di jalanan.
Hhhhh... apa susahnya kerja capek dan letih lelah demi cita cita maut itu. Usia tua, sebuah rumah kecil dengan halaman luas. Ada dua buah kursi kayu oak di halaman depan. Di halaman belakang, ada meja setengah bulat dari kayu kusam dikelilingi tujuh kursi-kursi kecil. Meja yang di depan, buat berdua untuk sekedar duduk selonjor. Yang dicinta melakukan apa yang dia suka. Saya, agak tertatih membawa teko dari Cina yang sedikit retak dengan cangkir keramik. Engga masalah tangan agak bergetar menuangkan green tea panas. Yang penting suara masih tegas waktu bilang : 'honey dear, ini teh panasnya sudah siap diminum'. Engga apa-apa nanti kepalanya sedikit bergoyang berusaha menjangkau mulut ku untuk menerima hadiah ciuman.
Di meja yang ada di belakang. Ini tempat kumpul semua orang. Yang dicintai tentu pasti rajin datang mengunjungi kami yang mapan. Biar saja mereka tergelak-gelak di situ saling lempar remah roti. Toh kami tidak terganggu membolak-balik foto kenangan di segala tempat.
Ini mimpi. Yang bisa dilukis di kertas terbaik. Dipatri di hati yang kuat. Membutuhkan dorongan dari sinar mata yang jujur. 'Sayang, lakukanlah'. Hanya suara itu yang ku butuhkan !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar