a kerja ini benar benar saya nikmati dan seperti pecandu, tidak bisa, bukan tidak bisa, saya memang tidak berniat
untuk melepaskannya. Detik hari hari saya,berisi dengan pikiran kerja. Apa saja yang mau dilakukan selalu didahulukan dengan pertimbangan 'berapa lama akan menghabiskan waktu dan merampas kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan'. Gilanya, istri mau ngajak kemana mana pun, saya bisa penuhi setelah dengan berat hati. Dan istri merasakan ini. Kawan kawan yang mau ngajak ngumpul pun saya hindari. Saya jadi orang yang super perhatian dengan pekerjaan. Dan, yang mengerikan, ke Gereja pun agak malas. Rasanya sayang menghabiskan waktu sekian jam. Untungnya, saya disadarkan oleh indra ke enam. Bisikan ini datang pelan pelan : 'kamu memang suka kerja, atau takut kehilangan pekerjaan ?' pada saat lain, muncul lagi pertanyaan de
ngan kemasan lain : 'kamu tidak bisa melepaskan barang sebentar saja pekerjaanmu karna memang dedikasi terhadap perusahaan atau takut kehilangan jabatan ?'Pertanyaan ini samar samar mulai mengembalikan diri saya yang sebenarnya. Apa yang saya cari sebenarnya ya. Kenapa bisa tiba tiba menjadi orang yang mendurhakai siapa yang memberikan pekerjaan itu buat saya. Betapa sadisnya saya ketika untuk sekedar mengambil beberapa jam saja bagian dari hidup saya untuk mengembalikan hak yang hakiki buat yang memberikan pekerjaan itu. Tuhan yang menciptakan. Tuhan yang meniupkan nafas hidup melalui nenek moyang saya, Adam !
Gila, saya bisa memiliki ketakutan, yang berarti saya mulai melupakan penguasa sebenarnya. Kenapa saya lebih takut kepada secarik kertas yang berisi penjelasan mengenai jabatan dan besar upah bulanan daripada secarik kertas di surga sana, yang setia mencatat berapa kali dan berapa lama saya hadir untuk memberikan hormat dan pujian kepada pemilik waktu di akhir zaman yang tiada akhir ? Apa yang saya lakukan selama ini ? mengganggu teman saya dengan beban kerja tanpa batas waktu hanya demi menjamin bahwa saya tidak akan mengalami gangguan apa apa atas apa yang sudah saya miliki sekarang. Saya tidak perduli apakah itu hari jumat, hari dimana ada juga yang harus mempersiapkan diri untuk ibadah jumat. ada juga yang ibadah sabtu, apalagi ibadah minggu. Untuk memanipulasi semua ini, maka perintah saya kirim atasnama loyalitas dan dedikasi kepada perusahaan. Saya tidak sadar bahwa saya sudah merampas apa yang seharusnya tidak saya miliki dari tangan orang orang yang seharusnya memiliki itu. Teman kerja saya. Saya merampas perhatian mereka atas hari ulang tahun kakak iparnya, mertuanya, bahkan mungkin anak anaknya. Saya secara sengaja tanpa sadar, menjauhkan mereka dari kehidupan sosial. Mungkin saja teman saya dengan tega akan meninggalkan kumpulan rumah duka, mungkin tetangga atau kerabatnya ada yang berduka, dan teman saya atas nama ketakutan kepada saya, bilang 'maaf, saya harus kembali ke kantor'. 'Tapi ini kan hari libur ?'. dan mereka akan jawab seperti mesin jawab 'di kantor saya tidak ada hari libur, nasib saya bisa kacau kalau saya tidak hadir seperti perintah yang saya terima'.
Saya harus mohon ampun kepada orang orang yang punya perasaan seperti ini. Juga atas perubahan sikap hidup karena ulah saya. Apa ya
ng harus saya tanggung bila saya tidak melakukan apa apa pada hari libur ? Biarlah saya tanggung. Saya akan menikmati hari ini untuk anak anak saya, untuk keluarga saya. Karna untuk merekalah saya harus bekerja keras. Toh saya tidak mencurangi perusahaan yang sudah memberikan saya segalanya. Tapi, saya harus ingat, perusahaan ini juga diberikan oleh yang memberikan hidup. Kalau saya lebih banyak dekat kepada pemilik hidup, kenapa harus takut dengan pekerjaan ?
ng harus saya tanggung bila saya tidak melakukan apa apa pada hari libur ? Biarlah saya tanggung. Saya akan menikmati hari ini untuk anak anak saya, untuk keluarga saya. Karna untuk merekalah saya harus bekerja keras. Toh saya tidak mencurangi perusahaan yang sudah memberikan saya segalanya. Tapi, saya harus ingat, perusahaan ini juga diberikan oleh yang memberikan hidup. Kalau saya lebih banyak dekat kepada pemilik hidup, kenapa harus takut dengan pekerjaan ?Batas manusiawi itu harus dijaga. Pekerjaan adalah pekerjaan, tetapi hak menikmati hidup adalah yang utama. Saya tidak akan merampas hak menikmati hidup orang lain, karna saya tidak berani memberikan jawaban atau pun pertanggungan apa pun atas apa yang menimpa orang lain karna mereka kehilangan hak menikmati hidup.
1 komentar:
Fenomena spt ini sering kali terjadi....itu sebabnya Prioritas hidup tidak dapat di tukar-tukar posisinya yaitu :
1. Tuhan (hub kita dengan pencipta kita dari mulai bangun pagi sampai ibadah yang sudah diwajibkan oleh Tuhan)
2. Keluarga
3. Pekerjaan
4. Pelayanan,organisasi,sosialisasi (arisan, acara adat dlsb)
kalau kita merubah posisi dari prioritas tsb maka akan terjadi kekacauan....karna itu sudah menjadi ketetapan yang diperintahkan oleh pencipa kita....
Posting Komentar