Jumat, 17 Oktober 2008

* LIBUR BIKIN PENING

Besok hari sabtu. Terpaksa harus berbetah betah di rumah. Lo, kok terpaksa ? Iya eui, terpaksa karna semua bagian dari badan ini sudah otomatis tersetel untuk setiap pagi siap tempur kerja. Tiba tiba besok sabtu terbangun pada jam pagi yang sama, tapi tersadar 'yaaaa.. kantor tutup'. Mau liburan kemana ya.l Keluar kota terlalu jauh. Brastagi harus menghabiskan tiga jam. Parapat empat jam. Kota leluhur ku Tarutung, wah lebih jauh lagi : tujuh jam !

Brastagi.
Kalau harus ke sini, ya paling keras maen ke lokasinya mikie fun land. Saya belum pernah nginap disini. Biasanya kita nginap ke pusat kota brastagi. Kita suka milih hotel sibayak. Enaknya di hotel ini, makan siang bisa tinggal jalan kaki dari kamar hotel ke warungnya bang iwan. masakannya lumayan lah, walaupun ada bonus lalat. Tak enaknya pulang dari brastagi ini, seluruh pengalaman indah selama disini bisa tiba tiba hilang sesampai pulang di medan. Soalnya pulang ke medannya ini, harus dibantai kelok kelok punggung bukit barisan itu.

PARAPAT. Memaksakan diri ke parapat ? boleh juga sebenarnya. Kalau harus ke sini, enaknya berangkat dari medan paling lambat jam tujuh pagi. Jangan lewat. Berangkat jam tujuh pagi itu sudah menyetel waktu tiba di siantar. Pasti pas lapar kali itu. Langsung saja stop di pangsit parapat. Beli lah dulu kerupuk opak pinggiran jalan itu. Atau kalau perut masih oke, seruput dulu cendol panas, yang enaknya sedunia. Di parapat apa yang ditengok ya. paling paling makan siang di ajibata. Makan ikan mujaer bakar. O mak oi, jadi keluar air liur ku bah. Kalau suntuk mungkin nyebrang langsung ke samosir. Pulang dari danau raksasa ini bisalah sebentar singgah di panatapan. Oya, jangan lupa pulak harus habiskan sebutir telur bebek rebus. Puaskan lah dulu mata melahap karya Tuhan yang luar biasa ini. Macam di lukisan ku tengok, kata orang. Heran nya, setiap kita memelototi lukisan, komentarnya terbalik : 'macam asli kali gambarnya ini ya'. Hehe manusia ini memang tak jelas ya.

Tarutung (?) Sudahlah tulang. Marah pun tulang sama kami karna jarang pulang, marahlah tulang ku. Na dao an huta muna on tulang. Jauh kali la pulak kota leluhur ku tercinta ini. Kapan lah bapak bapak yang sibuk kali lomba pilkada itu bangun jalan tol medan - parapat - tarutung ya. Apa susahnya bangun jalan besar dan lebar. Bikin kek 6 jalur. Jadi kita pun pas lepas jalan ibukota, masuk tol, bisalah pulak nyoba nyoba, pecah engga ban kita kalau lari seratus empat puluh kilo per jam. Ih mak, membayangkan saja pun aku takut bah. Tapi ku rasa sudah waktunya pemerintah ini agak berpikir sikit untuk bangun akses yang nyaman ke kota ku ini. Masak cuman Jakarta sama Medan saja yang dibangun tak siap siap. Tulang, martangiang hamu di salib kasih i da. Ai molo dijaha pamaretta on, mungkin dibangun do dalan i. Alai lebi mungkin, tong dang dibangun. Tapi tunggu la dulu. Kalau jadi dibangun jalan tol ini, mana sompat lagi awak brenti di siborong borong beli ombus ombus ya. Tapi lok isih, ombus ombus katanya, orang sudah dingin dari tadi. Hajab la kita mak oi.

Tidak ada komentar: