Kamis, 15 Januari 2009
* INFERIOR
ketenaran Obama tidak kunjung berhenti. dari sejak hampir dipastikannya beliau mengalahkan Hillary Rodham Clinton. Pertarungan sengitnya melawan mr. Mc. Cain. Sampai kepada detik kemenangan perhitungan suara pemilihan presiden Amerika. semua media menjadikan Barack Hussein Obama menjadi menu dagangan harian. keheranan saya pun sejak semula proses ini sampai hari ini, tidak berhenti juga. saya terheran-heran kenapa bangsa yang jumlahnya sebenarnya hampir sama dengan bangsa yang akan dipimpin seorang mr. Obama, larut dalam eforia kemenangan beliau. hampir setiap malam, acara televisi, terutama Metro TV, tidak pernah melepaskan washington dari lahapan berita. Televisi ini gemar sekali menyiarkan berita apapun. Terakhir pada skedul januari ini, Obama History (baca His Story). Mungkin Metro ingin menunjukkan betapa hebatnya mereka dari segi financial. Mampu membiayai beberapa crew yang menghamburkan jutaan dollar amerika hanya untuk menelusuri Obama dan segala yang terkait dengannya. Mereka mungkin ingin menunjukkan bahwa kekuatan jaringan mereka di dunia media tidak ada lawan tanding. Tapi buat saya, ini adalah sedikit dari gambaran betapa inferiornya stasiun ini terhadap bangsa lain. Mudah-mudahan mereka tidak mempengaruhi kita semua untuk ikut-ikutan menjadi inferior. Nilai apa yang mau mereka angkat dengan hanya, sekali lagi hanya, melulu mempublikasikan sejarah bangsa lain. Saya pribadi tidak melihat ini bisa memberikan nilai tambah apapun. Menurut saya, lagi, ini akan kurang menguntungkan bagi anak remaja bangsa ini. Televisi mana pun di negeri ini, tidak pernah berusaha mengangkat dokumen sejarah kepahlawanan negeri. Okelah kelemahan kita tidak ada foto otentik apalagi gambar hidup. Kita masih punya cerita turun temurun. masak buku sejarah yang dulu saya baca sejak SD. betapa hebatnya Pattimura, Cut Nya' Dien, Diponegoro, Jendral Sudirman, Bung Tomo, pahlawan wanita dari maluku (maafkan daku, saya lupa betul), dan pahlawan lain, adalah isapan jempol belaka ? cerita itu kan asli benarnya. Kita sama sekali tidak ada usaha untuk mengungkap tabir 'kepahlawanan' Tan Malaka. Saya yang paling dekat saja dengan tanah leluhur. Asli, saya tidak paham dimana letak 'istana' yang otentik dari raja Sisingamangaraja. Memang sih, seringkali uang bisa menyingkirkan nilai-nilai nasionalisme ini. Mau bangsa mana, tokoh mana, yang penting rating tinggi. Rating tinggi tentunya berakibat penghasilan tinggi donk. Tapi 'mbok ya' jangan terlalu mengagungkan bangsa lain lah. Kurangi tayangan seperti itu. Mending angkat cerita bagaimana sebenarnya Prambanan dibangun. Berapa persen nilai legenda Borobudur. Di depan mata banyak kok. Kenapa capek capek nyari di luar sana. Apa yang dikejarnya perjalanan dinas ke amerika ya. entahlah jang.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar