m di sana. sambil menikmati semilir angin yang dikipaskan daunan, mereka mereguk sejuknya air sungai. membunuh kehausan. kita mau cerita petani nih ? bukan kawan. kita mau cerita tentang ikan. ikan-ikan di dalam sungai selalu heran dan penasaran. karna setiap kali kedua sahabat ada di sana. setiap kali mereka bersyukur : 'duh. syukurlah ada air jernih ini ya. kalau tidak. bagaimana kita bisa hidup'. setiap hari kata yang sama terucap dari orang yang sama. membuat ikan dan kawanannya ingin mencari pencerahan. mereka penasaran. kenapa sudah bertahun-tahun hidup di daerah itu, mereka tidak pernah mengetahui apa itu air ! kawanan ikan sepakat untuk segera berpencar. setiap ikan berenang sejauh mungkin untuk menemukan arti dari air. mereka bersumpah. sejauh apapun jarak yang terlanjur mereka arungi. mereka harus kembali ke tempat semula. di tempat mana mereka mendapatkan pengertian awal tentang air. berapa tua, dan berapa renta pun tulang-belulang mereka. mereka menelan janji hati untuk tetap kembali. bertemu lagi untuk kemudian merayakan keberhasilan dari akhir pencairan. harapan ini dipegang kuat. ....... hari berlalu. minggu berganti. tahun sudah berubah beberapa kali. tidak seekor ikan pun yang berhasil kembali ke tempat semula. mereka mati dengan cara berbeda. mati dengan membawa pertanyaan yang tidak pernah terjawab : apa itu air ! .................................
di hikayat lain. tersebutlah seekor anak tikus kecil. dengan kulit memerah. masih sangat muda. tikus ini terlalu cepat ditinggalkan induk. tanpa sempat mendapatkan kisah tentang kebajikan. pengetahuan tentang tindakan. anak tikus ditinggal begitu saja. bahkan untuk berpikir pun, dia tidak bisa memikirkannya. pikiran yang kosong, yang belum sempat diisi oleh pengetahuan apapun. menjerumuskannya kepada kekosongan batin. berputar-putar menahan rasa kosong yang melanda ulu hatinya. anak tikus tidak mengerti bahwa itu adalah tanda lapar. yang dirasakan hanya kosong di ulu hati. terasa tersayat di barisan perut. dia bahkan tidak merasakan apa yang sedang dirasakan. berputar-putar merasa bingung. rasa kosong di ulu hati semakin mendera dengan sangat luar biasa. dia tidak tau apa itu sakit. tapi rasa di tubuhnya sungguh membingungkan. berputar-putar, membawanya tersesat di tengah lumbung. padi yang ranum melimpah di bawah kaki. di ujung genggaman bibir. anak tikus tidak bisa menemukan jawaban. apa yang harus dilakukan untuk menghentikan rasa yang aneh ini. dia bingung, sampai kematian menjemput. karena lapar. di lumbung padi !
nun di ujung desa. di pinggir hutan yang ramah. seorang muda merasa terhina. terduduk di tengah lumpur sawahnya. hinaan dirasakan. karna dia tinggal sendiri di tengah kampung terpencil ini. setiap teman sebaya, sudah berada di ujung wilayah lain. di tempat dimana kegelapan malam sulit ditemukan. di tempat dimana rintihan burung malam. seribu burung malam, tidak akan terdengar. seluruh kawan sebaya ada di suatu tempat. di mana mata sulit dipicingkan, karena terang terlihat tanpa batas. di tempat mana, malam menyatu dengan siang. kehidupan riuh. kita tidak bisa menemukan bau lumpur dari akar padi di sana. anak muda yang terduduk di tengah lumpur sawahnya sendiri. terisak menghinakan nasib sendiri : aku harus ke kota. aku harus membangun hidup ku seperti berita yang ku dapat dari sahabat. batang pacul dipatahkan. tali ikatan bajak diputuskan. kerbau penarik dilepaskan. jiwanya pun dibebaskan, berangkat ke kota meninggalkan tanah desanya. di tengah keriuhan kota. anak muda terlunta-lunta. asanya lepas meninggalkan jasad. berganti purnama tanpa bisa dihitung lagi. otot petaninya gugur satu persatu. dia menyerah pada karma, tak mampu menemukan arti : dimana menemukan kehidupan. dia mati di tengah kota, yang diidamkan memberikan sesuap nasi. mati. jauh dari tumpukan segunung padi yang ditinggalkan di desa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar