sepulang dari kegiatan training, saya merasa letih. saya lebih memilih disuruh lari mengelilingi lapangan bola stadion Teladan sebanyak 2 kali dibanding harus duduk manis mendengar materi-materi yang harus dicekoki lagi lewat gendang telinga. anyway, untung saja penyampai materi sekali ini adalah teman saya. tapi bukan karna dia teman saya maka saya bilang untung. orangnya memang luar biasa. setiap kalimat yang terlontar betul-betul mampu memberi inspirasi. thanks to you Ivan.
puji Tuhan, akhirnya 'istana kami' tampak di depan mata. sudah terbayang suasana meriah di dalam rumah. mengganggu kak Iyank yang lagi serius belajar. menikmati lambaian tangan axel yang susah konsentrasi saat mengerjakan pe er. dan pura-pura kehilangan adik michelle yg hampir pasti ngumpet di belakang kursi. gimana mau ngumpet.. pantatnya yang mungil itu nongol ke luar ! hihihi... 'eh, anak papa yang paling kecil itu mana yaa..' 'dia itu paling baek, paling cantik. pintal pulak itu'.... saya harus betul-betul bereaksi kaget saat dia muncul dan teriak 'heeeeeiiiii !!!'.... nanti saya pura-pura tergeletak pingsan, untuk mendapatkan ciuman manis di pipi dari michelle. karna ciuman itu, saya bisa hidup lagi. sekarang tinggal mengurusi 'manager istana kami'. perempuan ini sedang 'berbadan elok'. kami dapat tambahan lagi. ada janin yang sedang Tuhan jalin di dalam rahimnya. wajahnya kelihatan lusuh. serius sekali nonton televisi. saya dicuekin, tapi ya engga apa-apa. saya sudah paham bawaan bayi itu suka aneh-aneh. selain sebagai seorang suami, saya juga seorang 'mind reader' ulung. hehehe khusus untuk keluarga saya saja lah. cuman butuh waktu kurang dari satu menit untuk bisa menebak isi pikirannya 'mau makan di luar ?' ....... seperti bensin menyambar api, langsung muncul respon 'iya bang, mau makan bubur ayam'.
oke.. saya buru-buru lepas pakaian kerja. diam-diam ajak michelle, supaya kedua anak saya yang lain tidak protes karna tidak diajak keluar.
Karna tujuannya sudah jelas, maka mobil langsung mengarah ke bubur ayam yang jadi legenda medan. Bubur ayam Selat Panjang. Menunya langsung dobel. Semangkuk bubur ayam plus seperempat porsi ayam steam. Wadoh.. wadoh… rasanya maaak….
Saya perhatikan istri saya menikmati betul menu ini. Ini sih tidak seperti biasanya. Pas saya Tanya kenapa tumben lahap ? dia jawab ’dari pagi muntah terus’... ooo pantesan. Wanita itu sungguh istimewa ya. Memandang wajahnya sama seperti melepas beban dari pundak yang sudah penat. Dengan kegemulaian yang membuat kita terpana, apa ada laki-laki di muka bumi ini mampu menandingi kekuatan mereka dalam menahan beban fisik ? udahlah.. para laki-laki.. menyerahlah. Kita tidak mampu menandingi mereka.
Selesai makan, saya tidak langsung pulang. Saya sudah tau... ketiga anak saya yang sekarang sudah besar-besar ini. Pada saat istri mengandung mereka, kebiasaan istri tetap sama. Senang ‘raun-raun’ (bahasa medan=keliling-keliling). Saya pernah kaget waktu kehamilan pertama istri saya, saya telpon jam 11 pagi, dia sedang ada di thamrin plasa. Jam 2 setelah itu, saya telpon lagi.. masih ada di thamrin plasa. Waktu jam 4 sore saya telpon : masih di thamrin plasa ! hehehe... setiap dia hamil, saya harus siap menjadi supir raun. Suka tidak suka, cape tidak cape. Untuk hal ini, saya biasanya menutup mulut rapat-rapat untuk tidak iseng nanya : ’ngapain’. Saya kuatir dia tersinggung dan membatalkan niatnya. Kami keliling dulu di tengah malam medan yang luar biasa ini. Begitu otot-otot di raut wajahnya mulai rileks, barulah saya bertanya ’kita pulang sekarang de ?’. well... cape-cape kita sekolah. Kuliah tinggi-tinggi, setelah kawin. Jatuh-jatuhnya cuman jadi ’supir raun’. Well... I enjoy it.
2 komentar:
suami yang pengertian sekali pak abel ini.
belum tentu... hehehehe... makasih sdh kasih komentar
Posting Komentar