Kamis, 05 Februari 2009

* MENJEJAK..... (kan kaki)

...---- "kita patut bergembira, karena sampai triwulan ini, persediaan beras cukup. harga-harga di pasaran terkendali. kita surplus perdagangan dengan negara sahabat. demikian laporan kami bapak presiden yang terhormat". laporan ini sebagai penutup dari jutaan laporan tetek-bengek, termasuk di dalamnya harga kol gepeng, bawang merah pipilan, cabe keriting, dan lokasi-lokasi pasar di seluruh indonesia. hehehe.. semua orang sudah pasti bisa menebak, terutama yang lahir sampai di tahun 74 ya, siapa yang punya kebiasaan menyampaikan laporan seperti ini. menggelikan tapi harus kita nikmati hampir setiap malam. semakin terpaksa menikmati karena acara ini disiarkan lewat 'satu-satunya' stasiun televisi waktu itu. ampunlah mak.
laporannya bagus sekali. sehingga yang menerima laporan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali manggut manggut dengan anggun dan berbisik 'terimakasih, daripada laporan yang sudah disampaikan daripada sampeyan' (waktu itu pake istilah 'sampeyan' tidak ya ?). selesai sudah ! yang bikin laporan merapikan kembali berkasnya. penerima laporan bersiap-siap meninggalkan ruang tempat 'beri-terima'laporan, dengan kesimpulan : 'negara aman, tentram, rakyat tidak kurang satu apapun ! ha ??? tidak kurang satu apapun ???

............___ 'Tongat !! cemana pekerjaan yang semalam kita sepakati harus kau kerjakan ? sudah siap kan ?'. tiba-tiba bos menagih. Tongat yang tidak siap sama sekali, gelagapan. tapi pikiran jernihnya tetap jalan lancar : "sudah pak. semua sudah siap, tinggal di-print saja". "hebat kau ya".... si boss melenggang kangkung meninggalkan ruangan kerja di mana tugas tadi seharusnya diselesaikan. kesimpulan sudah diambil : semua pekerjaan sudah diselesaikan dengan mantap oleh team. .. apa betul sudah selesai ??? bisa iya, bisa tidak. yang jelas, kebanyakan laporan yang sungguh secepat kilat disampaikan ini, statusnya akan tetap selama berminggu-minggu : 'tinggal di-print'. ini engga ada bedanya dengan kasus laporan sayur-mayur di atas. orang-orang di rumah kebingungan beli sayur. tahu pun mahal sekali. minyak langka. semuanya serba susah. makin lama makin miskin. tapi laporan tetap : 'terkendali, aman, dan sejahtera'.

------... kasus ini akan terpelihara rapi. terjadi kontradiksi antara laporan dengan kondisi seaslinya. tidak akan terjadi perbaikan karena tidak ada seorang pun yang bersedia melakukan konfirmasi. tidak ada niat sama sekali untuk mencari tau kebenaran.-----
bagaimana mungkin walikota tau berapa harga beras di pajak sikambing. wong makan siang nya saja pun dilayani orang lain. air putih sudah ada yang ngisiin. jengkolnya pun sudah terhidang siap dinikmati. mau nambah, ada yang ngambilin. jangan-jangan malah disuapin makannya. bagaimana mungkin gubernur tau bagaimana sebenarnya tingkat kesulitan ekonomi orang kampung ? jangankan harga pupuk, mana sawah mana ladang pun beliau tak tau. bensin masih sangat mahal dia tidak bisa merasakan. wong ke kantor, ke pesta, ke sunatan, bahkan ke mall dia tinggal naik-turun mobil mewah itu. pintu pun ada yang bukain ada yang nutupin. kalau sudah begini, jangan harap orang-orang 'tinggi' ini bisa mencoba merasakan apa yang kita rasakan di bawah-bawah sini.
banyak perusahaan kelimpungan sebelum bersiap untuk ambruk. tidak sedikit pejabat cerdas yang hancur kariernya dengan sangat tiba-tiba. bukan karena mereka tidak 'fight' di pasar atau tidak pintar bekerja. mereka tidak pernah berusaha mencari sendiri fakta yang ada. kemudian dibandingkan dengan laporan yang meninabobokan.
jaman dahulu kala, menurut buku-buku cerita legenda, para raja nan adil lagi bijaksana, selalu punya kalender khusus yang harus dijalankan setiap waktu. namanya : penyamaran ! sang raja yang maha bijaksana ini sengaja menyamarkan diri, menjadi tukang becak. kadang-kadang berusaha menjadi petani. di lain waktu, dia mencoba 'peruntungan' menjadi pengemis. macam tak ada saja kerjaan sang raja ini ya. bukan gitu. beliau sengaja menyamarkan diri untuk mencoba menjalani hidupnya orang lain. dengan cara ini, sang raja bisa merasakan sendiri betapa susahnya mencangkul di sawah. panasnya terik matahari. yang ujung-ujungnya bisa merasakan apa yang paling mendasar sangat dibutuhkan oleh seorang petani ! kadang kala beliau bersedia menjadi pengemis. untuk mengetahui tingkat kemanusiaan dari rakyatnya. sambil mencari tau apa yang dimimpikan orang yang tidak punya apa-apa. kalau harus mencoba jadi penarik beca, tentu banyak hal baru yang bisa didapatkan. dari capenya mengayuh. harga tempel ban. harga ongkos cat becak, sampai harga sebungkus nasi campur. semua yang dilalui oleh peran yang disamarkannya bisa ada di dalam pikirannya, dengan nyata.
saya pernah mendelegasikan tugas. dengan penuh kepercayaan kepada beberapa team. tugas mereka mengunjungi beberapa objek, dengan segala fasilitas lengkap. laporan mereka sangat keren. saya tersanjung tapi tetap menjaga diri. untuk menjaga diri, saya buatkan kalender khusus, mengikuti jalur yang mereka lewati. terlibat dalam kegiatan mereka seharian penuh. jadi saya tau apa yang mereka alami. sekali waktu, kalau mereka terlalu lama kembali ke 'station', saya tinggal guyoni : 'kalian memang lama pada proses kunjungan, atau lama singgah dikosan putri ???'. mereka ngakak. tapi saya yakin sudah saya simpankan memori di benak mereka : 'saya tau apa yang anda lakukan di luar jangkauan saya'.
sekarang ini di medan berkibar ribuan atau jutaan bendera kampanye. dari foto yang saya perhatikan, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang makmur. orang yang kemungkinan kecil sekali pernah merasakan mahalnya harga beras. mudah-mudahan, mereka bersedia melepas alas kaki, dan terus-terusan menjejakkannya ke atas permukaan tanah.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

kok ga ada postingan baru pak?

nabasa.abel mengatakan...

iya pak/bu... saya lagi drop kesehatannya.. kemaren 3 kali hampir blank out....
thanks ya sudah bersedia membaca.
kalau bersedia, silahkan kirim email ke abel_pasaribu@yahoo.co.id atau di facebook saya juga boleh. abel pasaribu