Selasa, 31 Maret 2009

**++** TIBA TIBA RAMAH

sedap kali suasana beberapa minggu ini. waktu bawa anak-anak ke dokter, dokternya tiba-tiba ramah luar biasa. kalo orang betawi bilang 'kaga sari sarinye'. ngomongnya enak. sabarnya engga putus-putus. memang sih, selama ini beliau juga baik. tapi ramahnya ini lah. kemudian juga, kalimat-kalimat basa basinya itu yang bikin kita engga tahan. empatinya luar biasa dalam. simpatinya mengejutkan hati.

..................__ kemaren dan hari ini, tiba-tiba saja ada kawan sekerja yang sudah bertahun-tahun tidak ketemu karena mereka pensiun, merasa kangen luar biasa sama kami-kami. wajahnya tidak seperti yang pernah kami lihat selama ini. penuh kedamaian, ceria, kebapakan, bijaknya seperti begawan, tampil sangat bersih dan rapih. kita semua terpana dengan kehadirannya. kawan ini bisa menceritakan hubungan kami yang harmonis selama ini. betapa unit kami adalah unit yang menurutnya sangat baik. itu katanya. sementara kami bingung, kapan punya historis pekerjaan dengan beliau ?

___---- ada kawan yang agak sepuh. tanpa basa-basi memasuki ruang kerja kami sambil hahahaa.. hehehehehe... seperti pejabat yang mencoba ramah tamah dengan siapapun. even, itu ga perlu. seperti selebriti yang kami rindu-rindukan tangannya melambai ke sana kemari 'cemana.. cemana semua.. sehat-sehatnya kalian kan ?' masing-masing kami hanya mengangkat dagu lebih tinggi dari batas atas monitor komputer kerja. masing-masing tanpa dikomando saling pandang dan serentak kembali memandangi wajah si ramah tadi sambil tersenyum paling manis. dan.. saya berani jamin di kepala kami semuanya sama "terheran-heran".

_____________.. yang terjadi setelah mereka meninggalkan kami adalah. masing-masing dari mereka mengeluarkan setumpuk kartu nama. 'gini lo, saya ikut pemilihan legislatif. ya.. hitung-hitung untuk membaktikan diri pada bangsa di masa tua ini. sret.. sret.. masing-masing meja ditaruh segepok kartu nama. partai anu, nomor berapa... yang tadi hahaha heheheh... lebih ngagetin lagi. 'ini menantu saya. mau ikutan perwakilan kita di dewan pusat. jangan lupa ya'... kami baca kartu nama masing-masing. nama mertua dicantumin. nama istri dicantumin. kegiatan di tempat ibadah dicantumin. sama kejadiannya seperti tadi. serentak kami senyum, ngucapin terimakasih, dan begitu badannya hilang dibalik mulut pintu, itu kartu serentak ditaruh rapi di atas meja. di atas tumpukan kertas lain..... caleg lagiii caleg lagiii...

........... siapa yang tidak memperhatikan lewat televisi. semua bencana, kejadian sosial mendapat respon yang sangat tanggap. ada banyak konferensi pers dimana-mana yang intinya menceritakan betapa letihnya mereka memberikan bantuan kemana-mana. bajunya keliatan lecek, pokoknya yang menggambarkan kerja keras lah. adalagi orang yang berbeda. tiba-tiba sangat perhatian pada jalanan di kampung yang ada di tengah desa sepi. orang kampung sendiri pun dibikin kaget sewaktu orang yang beda ini berorasi di depan wartawan, bahwa jalan yang rusak itu sangat mengganggu perekonomian masyarakat desa sepi tadi. sementara masyarakat desa sepi heran, apa perlunya jalanan ini ? emang disini ada keluarga bermarga perekonomian ? pokoknya banyak kejadian dimana orang lain justru lebih mengerti kebutuhan orang yang lainnya, walaupun orang yang lainnya sama sekali engga ngerti apakah mereka butuh kebutuhan itu apa engga.

kadang-kadang, melihat kegigihan, ketegaran dan keteguhan para penggiat sosial pada hari-hari sekarang, ada pikiran bodoh yang melayang-layang dalam kepala : 'kalau harus terjadi bencana alam, kelaparan massal di daerah padat penduduk, sekolah-sekolah yang butuh perbaikan mencegah rubuh, dan kejadian luar biasa lainnya, kalau boleh, terjadilah sekarang-sekarang ini. jangan terjadi setelah tanggal 9 April nanti'. hehehehe pikiran bodoh tapi logis. nanti, setelah tanggal 9 April, orang orang penggiat sosial akan berkurang drastis. kalau sekarang ada seribu orang, nantinya akan tersisa cuman satu orang. Ga usah jauh-jauh lah. anda masih ingat sisa-sisa kisah pemilihan gubernur tempohari ? sekarang cari lagi orang-orang penggiat sosial yang fotonya banyak ditempelin sembarangan di pohon-pohon yang justru harus dilindungi. Kemana mereka semua ? where did the go ? they're gone ! mereka bukan lagi penggiat sosial. jalanan yang dulu mereka 'perjuangkan' tetap aja rusak parah. Okelah jawabannya karena mereka kalah, kehabisan dana, dan kecewa berat sama siapa saja yang dulu meneriak-teriakkan namanya. Sekarang liat saja yang berhasil menang. sebenarnya mereka engga pernah memenangkan pertandingan apapun. kita-kita ini yang berjuang keras, meninggalkan rumah dengan segala resikonya, meninggalkan anak-anak, meninggalkan toko untuk menghabiskan waktu memperjuangkan mereka sampai sekarang menjadi kepala daerah. kalau anda masih menyimpan selembar saja brosur kampanye mereka, coba bikin list. ada berapa daftar yang sudah mereka realisasikan ? pasti bingung kan ? wong memang satu pun engga ada dijalankan. mereka sebenarnya engga berniat menipu kita. mereka memang engga pernah ngerti apa materi kampanye dulu. kenapa harus mengucapkan kata-kata yang harus mereka ucapkan dulu. semua diatur oleh orang-orang yang mendorong dan menjaga punggung mereka untuk tidak jadi mundur. sesederhana itu.
........_____ maunya jangan terjadi bencana lagi ya. jangan adalagi tanggul yang jebol. jangan ada bencana-bencana di kampung. kasihan orang-orang yang terus menerus dihajar sengsara. tapi, kalaupun itu harus terjadi, siapa ya yang bisa memastikan kejadian itu terjadi pada saat ini, sebelum 9 April, pada saat semua orang tiba-tiba menjadi ramah....

2 komentar:

Anonim mengatakan...

cemana lah bapak ni. orang ramah di bahas, ga ramah pun makin2 bahasannya.

abel mengatakan...

ai atcam manala pulak.... yg ramahan orang itu. tak pernah-pernahnya....