Sabtu, 26 September 2009

*** MENUJU ISTANA KAKI LANGIT... (ke-tiga)

Sumpah di pusara nenek....

Sejatinya Pui Ang adalah salah satu laki-laki yang kadar ketakutannya paling rendah dibandingkan laki-laki lain. Tidak ada satu hal apapun yang bisa menggetarkan ketakutannya. Kemampuannya dalam berpikir dan menyelesaikan masalah yang paling pelik tidak bisa dibilang rendah.
Hidupnya selalu diletakkan pada kedua belah telapak tangannya yang kukuh dan seluruh perkara-perkara yang mencoba menghalangi gerak maju langkah kakinya bisa ditaruhkan di bahu nya yang kekar terlatih. Bahu ini nantinya menjadi tempat yang paling disukai oleh Yen Ang untuk menyandarkan tulang wajahnya demi menjemput ketenangan hati.
Pui Ang adalah laki-laki yang tidak dapat digerakkan oleh rasa haru biru dari masalah apapun. Segala apa yang sedang dan akan terjadi dalam perjalanan hidupnya adalah berdasarkan perkiraan yang mampu dihitung sebelumnya melalui pemikiran yang sungguh cermat dan cemerlang.

Tetapi sekarang, Pui Ang sang laki-laki perkasa ini sedang berusaha keras untuk memastikan tempurung lututnya mampu membuat tungkai dan telapak kaki berdiri kokoh di atas rumputan tanah pusara. Ujung alas kaki nya hampir menyentuh batu nisan pusara wanita terhormat yang puing-puing jasadnya berada beberapa galian di bawah permukaan bumi.
Kondisi Pui Ang sungguh mengenaskan.
Laki-laki hebat itu berubah wujud menjadi seorang lemah yang dayanya hanya seukuran butir debu. Air mukanya berubah keruh dengan warna kulit yang memucat seperti berhenti seluruh aliran darah.
Kepalanya kosong sama sekali tanpa isi, kecuali gema suara anggun mengancam yang tadi berasal dari mulut Yen Ang :

'Bicaralah pada diri mu Pui Ang, tentang apa yang sudah engkau ucapkan sendiri'.

Pui Ang mengerti ada sesuatu yang harus dibuktikan hari ini. Permintaan yang dirasakannya sungguh mengagetkan seluruh indera perlahan ditelan di dalam pikiran. Kejernihan perasaan segera menemukan pesan jelas dari permintaan itu :
’Yen Ang ingin melihat seberapa tinggi kebohongan hati dan seberapa besar kejujuran niat’.
Penemuan ini sempat membuat hati Pui Ang ditutupi mendung :
’Sungguh betapa tega Yen Ang meragukan seluruh ketulusan rencana dan harapan yang sudah diletakkan Pui Ang di hadapan kakinya’.
Pui Ang berusaha keras menyadarkan seluruh hidupnya tentang keharusan untuk meyakinkan perempuan agung yang menjadi cita-cita cintanya.
Kepala Pui Ang semakin menunduk dengan dahi hampir sejajar dengan penutup pusara. Dia tidak berani menoleh tetapi memberanikan diri melirik ke arah Yen Ang.
Yang dilirik sedang berdiri mematung dengan tatapan mata melekat tepat di atas batu nisan di tempat mana nama perempuan yang begitu dia hormati, diukirkan dengan hurup yang indah.

Dengan segala kemampuan yang tersisa padanya, Pui Ang berusaha menarik nafas dalam-dalam demi mengumpulkan udara sepenuh-penuhnya mengisi paru-paru. Suaranya sungguh sangat bergetar ”

’Nenek, seandainya kalian sekarang ada di sekitar sini, tolong dengarkan aku’.

Pui Ang merasakan kengerian yang luar biasa menggeluti kepalanya. Tubuhnya mulai bergetar sangat pelan. Dengan tarikan nafas yang mulai tersendat, Pui Ang meneruskan kalimat yang sudah disusun di ujung lidah :

’Aku, Pui Ang. Mencintai keturunan mu, yang kecantikan, kebaikan, dan keanggunannya sungguh merasuki sudut-sudut jiwa. Melekat di seluruh tulang belulang dan rongga hati’.

’Aku, Pui Ang. Menyerah pada pengharapan hati yang semakin larut pada keinginan memiliki cinta dari seorang keturunan mu, Yen Ang’.

Sampai disini Pui Ang, laki-laki perkasa itu menyerah pada kenyataan bahwa dirinya tidak lagi punya kekuatan untuk sekedar menggerakkan lidah. Pui Ang membuang jauh-jauh kehormatan seorang laki-laki. Rasanya waktu sudah semakin terbatas.
Apa yang dirasakannya harus dilakukan adalah mengeluarkan seluruh kejujuran yang ada di dalam hati. Pui Ang tidak lagi bicara, sekarang laki-laki itu benar-benar menangis :

’Menyakiti pendengaran Yen Ang, keturunan mu, adalah kenistaan pada tengkorak kepala ku’.

’Menodai penglihatan Yen Ang, keturunan mu, merupakan penghinaan atas kesempurnaan jantung dan hati ku’.

’Melukai hati Yen Ang, perempuan yang ku hormati itu, keturunan mu, sama dengan merendahkan seluruh kehormatan yang ada di dalam harga diri ku’.

Selesai menghibakan kalimat ini, Pui Ang merasakan kelegaan yang luar biasa seperti baru saja menikmati berjuta juta galon udara segar merasuki ruang dada nya.
Pui Ang tidak lagi menunduk. Kepalanya ditarik untuk menengadah. Pui Ang sekarang tersenyum penuh kemenangan setelah mengetahui dirinya mampu menyelesaikan seluruh tugas yang menjadi pertaruhan kehidupan cintanya.
Dengan tangan yang dibiarkan terjuntai lemah di sisi tubuh, Pui Ang menengadahkan kepala mengarah ke awan. Pui Ang tidak lagi menangis. Tidak lagi bicara. Pui Ang terdengar seperti bersenandung :

’Aku, Pui Ang. Mencintai keturunan mu Yen Ang, dengan seluruh kesungguhan hati’.

Untuk beberapa saat lamanya Pui Ang membiarkan angin yang tetap berlarian diantara pusara-pusara taman Edonia, mengelusi kulit wajahnya yang sekarang sudah dipenuhi senyum yang penuh kejujuran dari seorang laki-laki terhormat.
Setelah merasa segala sesuatunya sudah selesai, Pui Ang membuka mata dan segera mencari sosok sang kekasih.
Yen Ang masih berdiri anggun menggenggam kedua tangannya sendiri dan menggoyang-goyangkan kepalanya dengan halus. Wajahnya penuh oleh keindahan senyum yang memabukkan kerinduan Pui Ang.

Suasana Taman Edonia semakin redup. Matahari sudah jauh menusuk perut bumi dan hanya menyisakan sedikit pendar pendar sinar. Sudah waktunya buat mereka berdua untuk meninggalkan tempat yang melegakan perasaan ini. Dengan penuh hormat dan cinta, Pui Ang meraih tangan kekasih hatinya :

’Yen Ang, sudah hampir malam. Kita pulang sekarang’.

Kereta yang mereka kendarai perlahan meninggalkan seluruh ketenangan dan kedamaian Edonia. Di belakang mereka rumputan menari halus dielus angin. Burung-burung kecil terbang rendah saling mengejar pasangan. Matahari semakin memasuki perut bumi. Sebentar lagi Edonia akan ditelan kegelapan malam.

Rabu, 23 September 2009

*** MENUJU ISTANA KAKI LANGIT... (ke-dua)

Taman Edonia...

Laju kereta bagus yang mahal itu melambat sesuai jalanan yang mulai menyempit dan menurun. Pui Ang yang tidak tau apa-apa tentang daerah sekitar situ berkonsentrasi pada kereta dan sekali-kali menoleh ke arah Yen Ang. Meminta petunjuk.

Perempuan ini kelihatan sedikit tegang dengan wajah yang diarahkan lurus ke depan sesuai dengan arah maju kereta yang membawa mereka. Senyum yang tadi lebar dan sedap dilihat sudah tidak berada di sana digantikan oleh bibir yang hanya melukiskan satu garis halus. Mulutnya betul betul ditutup rapat.

Pui Ang berusaha memahami keadaan ini dan tidak berani membuka suara. Kereta dilambatkan lagi jalannya dan Pui Ang menolehkan kepala ke arah Yen Ang :

'Yen Ang, kita ke arah mana ? Apa taman Edonia sudah ada dekat sini. Kita harus kemana ?'

Pui Ang mendesak secara halus takut merusak suasana hati dan pikiran perempuan pujaannya.

.................... on the script........

Taman Edonia ternyata sekali adalah areal pekuburan buat kalangan orang-orang bangsawan. Taman pekuburan ini ada di tanah berbukit dan lembah dengan beberapa telaga kecil, entah dibangun entah memang sejak dulu sudah ada di sana, berada persis dilekukan lembah kecil dan tidak luas.

Di sebelah kanan, Pui Ang memperhatikan ujung taman ini seperti diberi pagar batang-batang pohon dengan ukuran menengah. Lebih besar dari batang kelapa muda tetapi tidak menyamai lingkar batang pohon jati.

Di tengah taman yang betul-betul menggambarkan ketentraman roh ini dibangun jalan dengan ukuran sedang, cukup untuk dua kereta berpapasan, melingkari areal tengah pekuburan.

Ketika Pui Ang melemparkan pandangan mata menyeberangi lembah kecil, laki-laki ini takjub oleh sebuah patung malaikat kecil yang sengaja dibangun dan ditaruh agak di ujung taman.

Posisinya persis di titik tertinggi taman sehingga siapapun dan dari sisi mana pun akan mampu menikmati keindahan hasil seni patung.

.................on the script........

Di sekitar kaki mereka ada tiga batu nisan yang berbeda warna. Salah satu dari ketiga nisan itu berwarna putih sementara yang dua lainnya dari batu alam berwarna hitam pekat mengkilat.

Yen Ang menjalari pelan-pelan satu per satu dari ketiga batu nisan tadi. Pui Ang paham bahwa inilah tujuan akhir perjalanan mereka hari ini.

Laki-laki ini berjalan merapat untuk mendekati Yen Ang.

'Apa yang harus kita lakukan ?' bisiknya pelan.

Mereka hanya berdua di sekitar situ. Memang ada beberapa anak laki-laki kecil yang sedang sibuk membersihkan rumput dan nisan-nisan, tetapi mereka berjarak sekitar puluhan nisan dari tempat Yen Ang berada.

'Bukan aku Pui. Tapi kamu sendiri'

'Kamu harus melakukan sesuatu buat diri mu dan aku'

Pui Ang kebingungan karena sama sekali tidak memahami isi dari kata-kata perempuan ini :

'Aku sendiri ? harus melakukan apa Yen Ang ?'

'Kita percaya roh-roh orang yang sudah mati tidak lagi berada di sini Pui'.

'Tapi aku hanya minta, bicaralah di pusara ini kepada kedalaman hati mu sendiri'

Yen Ang berbicara sangat dingin dengan tidak menoleh sedikit pun ke arah lawan bicaranya. Matanya yang berair jatuh lekat di atas nisan hitam yang nantinya setelah ditanya, nisan ini adalah pusara ibu dari orang tua laki-laki Yen Ang.

Di bawah batu nisan ini, di kedalaman galian tanah, terbaring tenang puing puing tubuh seorang nenek bijak yang sungguh menyayangi dan dihormati Yen Ang.

Pui Ang semakin kelabakan karena menyadari bahwa kepalanya sekarang tanpa isi. Pui Ang sama sekali tidak mengerti tujuan perintah perempuan yang dia kasihi.

'Kenapa roh ? aku harus bicara apa ?'

'Bicaralah pada diri mu Pui Ang, tentang apa yang sudah engkau ucapkan sendiri'

'Bicaralah atas nama kejujuran hati mu tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kebenaran niat hati mu untuk membawa ku ke dalam kehidupan kita berdua'.

Sekarang Pui Ang, laki-laki yang sedang mempertaruhkan masa depan hidup dan cinta nya berdiri mematung. Kekakuannya mampu menyaingi patung malaikat kecil di ujung taman Edonia.

Pui Ang menjatuhkan hati nya ke relung yang paling dalam untuk memanggil seluruh kejujuran pikiran, hidup, dan suara hati.

Tubuhnya bergetar hebat. Kejujurannya mengalahkan seluruh pantangan-pantangan kelaki-lakian. Pui Ang menangis dengan bahu yang terhentak hentak keras.

Apapun yang terjadi pada diri Pui Ang saat itu tidak memberi pengaruh apapun buat Yen Ang.

Perempuan teguh ini membiarkan suasana hati mereka sama sekali tidak saling mengenal.

Yen Ang membiarkan angin yang berlarian di atas batu batu nisan dingin mengusapi seluruh permukaan kulit.

Sekarang tergantung kepada Pui Ang : masa depan kehidupan nya.

..............on the script....

Selasa, 22 September 2009

*** MENUJU ISTANA KAKI LANGIT... (ke-satu)

Menjelang sore, sewaktu matahari baru saja bergeser dari posisi puncaknya.......

Angin dengan isian debu membuat rambut laki-laki yang tidak lagi muda ini bergolak melambai. Rambut tipis yang tadi diatur rapi, sekarang mulai kelihatan berantakan. Berdiri di atas dua kaki yang kelihatan kokoh, bukan ! bukan cuman kelihatan, kakinya memang kokoh, tangannya menggantung di sisi badan dengan dua kepalan yang menggenggam. Bahunya ada dalam posisi datar, tapi terlihat direndahkan mengikuti arah mata yang seperti menusuk perut bumi. Kedua matanya sedikit berkilat. Berasal dari air yang tipis membasahi bola mata. Air mata seperti ini diakibatkan gejolak emosi yang ditahan dalam dalam. Laki-laki itu, Pui Ang. Hanya sebagai pekerja. Berusaha keras untuk menghidupi dirinya sendiri dan empat jiwa lain yang harus ditanggung masa depannya. Dia terpaksa mematung. Nasib cinta dan hidupnya sedang dipertaruhkan sekarang.

Di depan nya. Hanya berjarak tidak lebih dari enam kali ukuran kaki, berdiri anggun perempuan yang selama ini dipuja puji dengan sepenuh hati dan hidupnya. Yen Ang. Perempuan luarbiasa. Pemilik segala impian. Kecantikan, kepintaran, dan kekayaan ada di dalam dirinya. Pui Ang hanya punya dua rasa takut dalam hidupnya : satu, langit akan runtuh; dua, perempuan ini menangis.


Yen Ang memiliki kecantikan yang sungguh luar biasa. Tubuh yang memiliki bentuk sempurna itu, seperti menjulang di atas bahu Pui Ang. Matanya yang tajam penuh permohonan, melekat tepat di ubun-ubun sosok tubuh yang semakin lama semakin menunduk. Pelan-pelan bola matanya yang anggun banjir oleh tangisan.
Suara nya sedikit parau berbisik :

'Pui. Apa yang engkau inginkan dari ku ?'

Seperti dilecut cambuk, Pui Ang tergetar dan mulai mengangkat kepala. Bibirnya tertutup rapat. Dia engga sanggup membuka mulut. Hanya mata yang mulai berani diadu pada tatapan mata perempuan pujaannya.

'cepat bilang, apa yang kau inginkan dari ku Pui ?'.
Yen Ang kembali mendesak. Air mata semakin tumpah mulai membasahi sebagian wajah.

'tolong jawab'. Sekarang suaranya bergetar. Suara tangisan.

'Aku cuman mohon, sediakan sedikit tempat untuk ku di dalam hati mu'.

Pui Ang bilang ini dengan suara yang hampir tidak kedengaran.
Sekarang dia mengangkat dua tangannya. Pui Ang merapatkan dua telapak tangannya yang semakin bergetar, seperti orang sedang memohon.

'Ku mohon, demi segala kejujuran yang ada di hati ku, aku mohon sedikit tempat'.

Yen Ang sudah tidak bisa menahan diri lagi. Suaranya semakin keras menangis. Jawaban ini betul-betul di luar akal sehatnya. Laki-laki ini sungguh sangat tidak romantis. Tega betul tidak mengajukan permohonan selayaknya seorang laki-laki mengajukan lamaran untuk kekasih hidupnya. Sama sekali tidak. Tapi dia tau, itu kalimat yang tersisa dalam pikiran laki-laki yang diam-diam disayangi.

Sebelum ini Yen Ang berusaha menyadarkan Pui Ang bahwa niatnya untuk menjadikan diri nya sebagai istri sebaiknya cepat-cepat dihapuskan. Keinginan ini adalah keinginan yang sungguh tidak masuk akal. Yen Ang terikat norma lain yang sebenarnya menjadi penghalang kemungkinan terwujudnya keinginan itu.


Yen Ang bisa menerima permohonan Pui, walaupun harus menanggung segala resiko sulit, termasuk kehilangan kehidupannya. Yen Ang hanya ragu dengan keteguhan niat Pui Ang. Matanya tidak bisa melihat jelas karena sudah dihalangi air mata yang meluap. Yen Ang berusaha keras mencari tau kejujuran apa yang ada dalam hati Pui Ang melalui sinar mata nya.

Ada satu cara yang Yen Ang tau untuk menggali seberapa dalam kejujuran niat Pui Ang. Pui Ang adalah orang yang sangat cinta dan menghormati leluhur. Dia bukan penyembah berhala, tetapi sungguh menghormati segala sesuatu yang sudah dimulai oleh para leluhur. Yen Ang menyentuh punggung tangan Pui Ang :

'Pui, kita ke taman edonia sekarang'.

Pui Ang terlihat akan mengajukan satu soal. Yen Ang menghalangi niat ini :

'kita harus ke sana sekarang Pui. engga boleh ditunda'.

Pui Ang memaksakan diri untuk cepat-cepat bertanya :
'siapa yang kita temui di sana ?'.

Yen Ang bicara tegas : 'batu nisan semua leluhur ku'.

Yen Ang agak sedikit kecewa dengan perlawanan ini :

'kenapa Pui ? kamu takut atau ragu ?'.

Pertanyaan ini membawa pengaruh yang sungguh aneh. Pui Ang kehilangan keramahannya. Perubahan air muka ini sempat membuat Yen Ang sedikit kuatir. Sekarang Pui Ang menatap lebih berani tajam-tajam tepat di bola mata perempuan yang dipuja pujinya. Tangannya meraih kedua tangan kekasih jiwanya :

'Yen Ang. Demi seluruh hidup ku dan seluruh hidup mu, dan seluruh hidup ku yang akan ku berikan ke hadapan mu, dan seluruh hidup yang akan kita bangun berdua'.

'Aku tidak pernah ragu atas apa yang sudah ku siapkan di dalam kepala ku'.

'Aku tidak pernah ragu atas apa yang sudah berani ku bangun dengan perlahan di dalam dasar hati'.

'Aku tidak pernah takut sedikit pun. Hanya satu yang ku takutkan. Kematian. Tapi sayang, ketakutan itu sudah lenyap dengan kehadiran mu. Tidak ada sedikit pun keraguan apalagi takut'.

'Kita berangkat ke edonia, sekarang'.

Sedikit tersentak Yen Ang berusaha menyesuaikan langkah Pui Ang karena tangannya tiba-tiba diraih dan ditarik sedikit kasar. Pui Ang terlihat sangat tidak sabar untuk segera membawa perempuan pujaan ini menuju taman edonia. Tempat di mana Yen Ang akan menguji segala kejujuran hati.

Tanpa minta ijin sedikit pun. Pui Ang menaiki kereta kuda milik Yen Ang. Yen Ang sendiri sangat terkejut atas kejadian yang sangat tidak diperkirakan ini. Kejadian yang menimbulkan perasaan aneh karena ternyata ada kelucuan, kegentaran, dan kesenangan yang luar biasa yang merasuki relung hati nya. Bibir Yen Ang melembut dan membentuk senyuman. Mata nya sungguh teduh memandangi wajah laki-laki yang mulai dipujanya. Pui Ang kelihatan sungguh serius mengendalikan kereta kuda yang seumur umur belum pernah dinaiki nya :

'Pui, sebelumnya sudah pernah mengendalikan kereta kuda seperti ini ?'

'Belum ! aku orang tidak berpunya Yen Ang, bagaimana mungkin pernah duduk di atas kereta semahal ini'

Pui Ang tidak tau diri disindir halus. Dia terus saja memacu kereta kuda yang terlihat sedikit melompat tidak sabar.

'Pui, kalau belum pernah. Kendalikan pelan-pelan. Kuda ini mahal harganya. Aku ragu engkau akan mampu menggantikan kerusakan yang akan terjadi'.

Kata-kata ini mengagetkan Pui Ang :

'Aku akan menggantikan kerusakan apapun dari kereta mahal ini dengan seluruh hidup ku'.

'Kalau begitu, paculah sembarangan supaya aku segera bisa memiliki hidup mu. Utuh'.

Kalimat terakhir diucapkan dengan penuh kelembutan. Pui Ang merasakan sesuatu yang luar biasa aneh. Di perut nya mengalir udara panas yang naik sampai ke rongga dada. Wajahnya sungguh sangat memerah dan memaksa mulutnya terbuka lebar. Pui Ang tersenyum bahagia. Dia tidak lagi serius mengarahkan pandangan ke arah jalanan. Kepalanya sudah menoleh ke arah Yen Ang yang sekarang seperti patung yang tersenyum lebar

'Yen Ang. Apa artinya bahwa hari ini....' Pui Ang penasaran bertanya.

'Hati-hati Pui. Aku menginginkan hidup mu tanpa harus mengalami kerusakan pada kereta'.

..... bersambung....

Jumat, 04 September 2009

+++ EXPIRED TIME.... 5 agt 09, 02.52....

...... Bapaknya tanya gini sama anaknya : 'ei Tongat.. kalo besar ko nanti. mau jadi apala cita cita mu nak ku ?'. nak Tongat pun menjawab dengan gamblang tanpa susah payah sedikit pun :'jadi dokter la pak. biar ku obati semua orang'. Bapaknya girang bukan kepalang. Di sebelah nya pas kali mak Tongat duduk duduk tanpa ekspresi. Waktu itu, orang ini dua lagi jaga kedai tuak nya yang tak seberapa besar. Pengunjung memang rame sekali. Cuman empat orang yang pesan minuman. Tapi suara gitar dan nyanyinya yang bikin rame. Jadi macam ada kira-kira dua puluh orang duduk waktu itu.
pak Tongat pelan pelan pegang tangan mak Tongat : 'mak. ko dengar cita cita anak kita itu mak ? mau jadi dokter dia. Bisala agak sedap nanti hidup kita waktu tua ya ?'. Yang dipegang bukannya senang. Sikit pun tak ada gambaran semangat di mata nya. Dia cuman tengok sikit mukak suami nya itu, langsung khusuk lagi sama mata yang tak ada semangatnya. Bah, nengok ini agak kuatir juga bapak si Tongat :'mak oi. kek mananya. Yang tak ko dengar nya tadi cita cita anak kita itu ? si Tongat itu oi !'. 'Ku dengar. jelas kali pun ku dengar. Apa istimewanya ?', sukak sukak mak Tongat bikin suara yang sengak. Agak naik juga pitam bapaknya si Tongat :'oi. kek mana nyaaa. Masak tak senang mamak jadi kaya nanti ?'--.... agak diam orang itu dua.....-- Tiba-tiba : 'Siapa yang tak senang ?', balas mak Tongat agak sikit naek emosinya. Diteruskan mak Tongat lagi ngomong :'itu kan cita-cita si Tongat. Cita-cita bapak sendiri apa ? supaya cita-cita si Tongat itu bisa kejadian ? apa bisa si Tongat hidup dari cita-cita ? apa tak usah kita bayar uang sekolahnya. Tak usah kau tambahin sikit gisi nya. Tak perlu lagi cari apapun supaya hidupnya bisa lebih baik dari kita. Kalo betul dia nanti lulus sekolah yang jadi dokter itu, ada uang kita untuk bayar sekolahnya ? ada ?!!!!.... Pak Tongat yang dari dulu dikenal orang sebagai 'setengah preman kampung', setengah lagi sebagai seniman. (kek mana tak jadi setengah preman dia. Judul nya saja yang preman. Sekali pun tak pernah nodong. Tak pernah merokok. Mabuk pun tak hapal. Cuman malas kerja saja dia. Masak preman suka nolong orang yang kepayahan. Preman apa macam gitu. Preman pun rajin kali partangiangan (kalau di muslim partangiangan ini dibilang 'wiridan'. Resmi lah gelarnya setengah preman gara gara itu semua). Langsung terdiam la pulak pak Tongat ini. Kek mana tak terdiam. Orang memang betul semua omongan istri nya, yang walaupun cerewet itu, giat kali nyari uang demi hidup mereka bertiga. Dengan gagah, pak Tongat berdiri tergesa-gesa. Saking cepatnya berdiri, hampir melorot mandar (baca:sarung) yang dipake. katanya gini : 'mak e. ko dengar ya. aku... pak Tongat. akan berusaha keras nyari uang sebanyak-banyaknya, supaya....' belum sempat diteruskannya omongannya, mak Tongat uda motong :'ga usah banyak crita la pak. sebanyak-banyaknya, berapa perak ? --- Kasihan kali pak Tongat, padahal dia ngucapin kata-kata itu sambil bergaya mengangkat tangan kanan lurus ke depan macam pimpinan fasis, dan tangan kiri berusaha keras menggenggam ujung mandar supaya tak jadi jatuh. Bingung dia. Tangan masi menggantung, tapi dia tak nyangka ditanya berapa perak yang bisa dikumpulkannya dan darimana. 'Sepuluh juta perak !'. Aku akan mengumpulkan sepuluh juta perak !'. Agak merah muka nya karena semangat. 'Brapa lama ! kapan yang sepuluh juta perak itu dapat pak ?'. Gong terakhir yang keluar dari mak Tongat ini membuat kedua tangannya lunglai terjatuh. Bayangkan lah sarung nya sudah melorot di mata kaki.

Mulai bermimpi
+++ Cerita itu macam pepesan kosong, tapi itu ada di kepala untuk berusaha menciptakan inspirasi. Inspirasi yang menghalangi matinya kejernihan pikiran. Saya, sekarang berpikir. Nanti, pada saat usia tertentu. Ketika harus memutuskan untuk tidak aktif bekerja formal. Setiap tiga bulan sekali. Saya dan istri, kegiatannya cuman melakukan perjalanan jauh. Kita traveling ke negara mana yang kami sukai. Saya bisa bikin gambaran yang jelas bagaimana kami sama-sama saling bantu dengan pegang tangan waktu kepayahan meneruskan ayunan kaki di sepanjang tembok besar di Cina. Bisa tergambar apa yang kami lakukan waktu duduk di bibir tembok penahan air laut di Circular Quay di Sydney. Mungkin kami sama-sama duduk selonjor menghadap pintu besar gedung yang ada di lapangan Tiananmen. Saya pasti 'paksa' istri untuk menahan panas atau angin debu demi bisa membuka mata lebar-lebar melahap habis bangunan Pyramid. Saya bisa berubah jadi pemberani untuk melenyapkan phobia akan air dalam supaya istri jauh lebih berani : 'Ayo sayang. Jangan takut, semua orang sudah pernah ada di bawah hantaman air terjun Niagara Falls ini. It is really safe down here'. Itu dilakukan pada tahun yang ini. Giliran berikutnya, kami akan berusaha kembali ke masa lalu. Dan melakukan ciuman paling gila di bawah kaki Eiffel. Mencium bibir istri pada usia tua. Nekad saja kalau ternyata, ketahanan tubuh sudah jauh berkurang sewaktu berusaha menghangatkan punggung yang dicinta sewaktu kami berada di kaki langit. Tepat di lereng bukit dimana istana langit; Lasa, berdiri anggun di atas sana. 'honey, this is it. This is the last place we can reach. Sekarang kita pulang untuk menunggu kematian !.............+++ Can you imagine it ? Semua negara yang kami ingin kunjungi, kami kunjungi.

Expired Time.
Itu semua masih cita-cita. Atau lebih tepatnya masih dalam bentuk mimpi. Tapi percayakah bahwa kenyataan hampir selalu dimulai dari mimpi ? Saya sarankan beranilah untuk sekedar bermimpi. Let say, rencana perjalanan yang kelihatan mustahil tadi. Saya sekarang berusaha keras memukuli kepala sendiri supaya terus ingat, bahwa mimpi itu sudah terlanjur diukir. Karena sudah diukir harus diselesaikan dalam bingkai kenyataan. Sekarang saya tidak takut akan kebisaan atau ketidak bisaan memastikan itu benar-benar terjadi. Apa yang ditakutkan ? Biaya besar. Lah, ada apa dengan masalah biaya besar. Biaya itu butuh uang banyak. Ya sudah, mulai sekarang cari uang. Taruhlah seluruh cita-cita itu akan menghabiskan biaya sebesar sepuluh milyar. Gila coey. Lihat uang seratus juta tumplek di depan mata saja saya belum pernah tuh. Ini seratus kali lipatnya !! Tadinya saya takut. Hampir mundur dari mimpi. Tapi, 'dorongan luar biasa' ini mulai mengiris belah-belah jantung. Ada suara yang bilang dengan jelas : 'engga usah pikirkan bisa atau tidak. Mulai saja mencari !'. Dorongan luar biasa ini merangsang napsu. Mengganggu pikiran yang suka menikmati lamunan. Uang sebanyak itu harus dicari. Dan harus ada batas waktu akhir.

Biasanya kita kenal istilah expired date. Kata ini digunakan untuk keterangan aman nya produk obat atau makanan dikonsumsi. Expired time sama dengan istilah itu. Tapi digunakan untuk batas akhir dari sebuah niat. Kalau cuman bilang :'akan mengumpulkan uang sekian banyak'. Siapa yang ga bisa ?. Tapi, kapan jumlah segitu selesai dikumpulkan ? Banyak rencana luar biasa akhirnya hanya berhenti di kertas-kertas kosong, atau tertinggal di langit-langit pikiran, karena rencananya tidak dikasih batas waktu. Pilih saja angan-angan yang paling sederhana. Tuliskan disitu apa yang anda butuhkan. Pilih lagi yang menurut kita yang paling penting didahulukan. Dan, ini yang terpenting, kapan batas akhirnya. Mulut saya akan ternganga lebar kalau pertanyaan : 'kapan uang itu bisa dikumpulkan ?', tidak bisa dijawab.
Expired time dari sebuah janji harus ditentukan. Gunanya banyak. Guna pertama, kita yakin yang kita cari itu benar-benar ada. Terlepas dari kita akan mampu atau tidak. Guna kedua, adalah orang yang sudah kita libatkan dalam janji tadi, beliau punya kesiapan mental untuk menantikan itu terjadi. Dan, bayangkan diri kita seperti prajurit perang yang kedatangannya ditunggu pulang di depan gerbang negeri. Emmm... apa ada melodi yang lebih indah di telinga dibanding kata-kata ini : 'sayang, segeralah lakukan, aku engga sabar ada di tempat angan-angan itu'.

Bikin rencana, bagus. Tapi sekedar rencana, engga bagus.
Satu point bagus sudah ada di tangan sewaktu kita berani bikin rencana. Okey, rencana pertama saya mau buka usaha pecal lele. Kemudian setelah itu berkembang, akan dibuka lagi usaha tempel ban sebagai 'second income !'. Setelah warung pecal lele dan tempel lumayan bagus berkembang, buka lagi usaha catering. Kan pas ya, catering dan tempel ban. Catering itu kan butuh kendaraan untuk antar-antar. Nah, kalo ban nya pecah atau kempes ? kan butuh tempel ban. Uang nya jadi ga kemana-mana. +Setelah nanti ketiga usaha ini bagus, coba-coba buka usaha lebih bagus di mall. Beli franchise saja. Kalau sudah gini, siapa bilang uang sejumlah itu engga mampu dikumpulkan ? Berapa tahun ? 10 atau 5 ! tinggal pilih sendiri.
Tapi, jangan la pulak kita tunggu yang sepuluh tahun itu tanpa melakukan apa-apa. Terlanjur ketuaan dan bosan nanti pasangan kita... Ya sudah, mulai saja lah dari yang lucu-lucu dulu. Yang penting rencana-rencana yang sudah rapi dicatatan satu-satu diluncurkan di jalanan.
Hhhhh... apa susahnya kerja capek dan letih lelah demi cita cita maut itu. Usia tua, sebuah rumah kecil dengan halaman luas. Ada dua buah kursi kayu oak di halaman depan. Di halaman belakang, ada meja setengah bulat dari kayu kusam dikelilingi tujuh kursi-kursi kecil. Meja yang di depan, buat berdua untuk sekedar duduk selonjor. Yang dicinta melakukan apa yang dia suka. Saya, agak tertatih membawa teko dari Cina yang sedikit retak dengan cangkir keramik. Engga masalah tangan agak bergetar menuangkan green tea panas. Yang penting suara masih tegas waktu bilang : 'honey dear, ini teh panasnya sudah siap diminum'. Engga apa-apa nanti kepalanya sedikit bergoyang berusaha menjangkau mulut ku untuk menerima hadiah ciuman.
Di meja yang ada di belakang. Ini tempat kumpul semua orang. Yang dicintai tentu pasti rajin datang mengunjungi kami yang mapan. Biar saja mereka tergelak-gelak di situ saling lempar remah roti. Toh kami tidak terganggu membolak-balik foto kenangan di segala tempat.
Ini mimpi. Yang bisa dilukis di kertas terbaik. Dipatri di hati yang kuat. Membutuhkan dorongan dari sinar mata yang jujur. 'Sayang, lakukanlah'. Hanya suara itu yang ku butuhkan !

Selasa, 01 September 2009

+++ TOUGH, say no to MOODY

Ngaku tak ngaku pun kita, sudah pasti setiap orang pernah terjebak ke dalam kondisi moody. Apa saja yang mau dikerjakan betul-betul tergantung dengan suasana hati. Kalau agak sedap perasaan kita, disuruh manjat pohon kelapa yang tinggi nya melewati istana plasa yang dipotong itu, enteng. Mau disuruh menimbun sungai deli yang joroknya minta ampun itu, dengan cuman dikasi modal sendok teh, tetap happy. Namanya lagi mood. Tapi, kalau sedang tak mood. Bah.... disodorin makanan kesukaan pun bisa tiba-tiba jadi bengis : 'apanya maksud ko ngasi-ngasi makanan ? ko pikir tak sanggup awak beli ?'. Moody bisa bikin orang lain ngeri. Coba bayangkan kalo ko punya boss yang kondisi 'kejiwaan' dalam kerjanya betul-betul moody. Bisa hajab seumur umur lo. Udah lah awak cape minta ampun ngerjain yang dia minta, tetap direpetin. Apa saja salah. Tapi, kalo lagi betabur mood yang enak, masih asik kerja aja pun awak, yang manisan senyumnya.. 'udala, uda jam 3 sore ini, uda bisa klian pulang !'. Awak bikin rusak mobil nya yang bagus, senyumnya lebar kali pun : 'ah, biasanya ituu.. namanya pun eksiden !'.
Harusnya setiap orang ngerti masalah ini ya. Kalaupun memang lagi tak enak perasaan hati nya, entah karena asik dikejar tukang tagih kredit dia, entah karena direpetin orang rumahnya karena tak naek-naek setoran ke rumah, entah karena bandal kali tukang becak mesin langganan; jangan lah pulak sampe kena ke orang lain.
Kalau jadi bos, usahakan supaya marahnya bos mu itu jangan ditumpahkan sama orang di bawah. Kasihan orang itu lo. Masak dia harus dengar bosnya marah-marah karna bos nya dimarahin sama bos nya bos nya. Banyak kali sekarang orang suka kelepasan ngomong : 'aku baru saja dimarahin bos ku, karena janji kemaren itu tak bisa ku tepati. gara gara kalian juga nya itu'. Bah, yang janji siapaaaa.. yang dimarahin siapa. Kasihan kali la orang yang kena dampaknya itu ya. Udah gaji kecil, cicilan rumah tak lunas-lunas, orang rumahnya galak kali, rencana menjadikan tempat kerja sebagai pelarian malah jadi penjara. Sempat pingsan pingsan dia karena asik kena marah saja ? siapa yang tanggung jawab. Coba... siapa yang tanggung jawab.
Seringkali lo kita engga adil. Habis kita bagi stress sama orang di sekitar, tiba-tiba enak saja kita terima telpon :'ha. an cua. okeh.. okeh.. golden yen ya. okeh. jam 12 ? okeh'. Langsung kabur sambil ha ha hi hi di blue tooth mobile phone nya. Lah, yang sudah terlanjur kebagian stress ? makin stress nunggu pak bos atau bu boss ini pulang makan siang. Yang ditunggu ? udah lupa dia sama masalah yang disebarkan.

Kalau bisa, agak tough kita, ah. Kurangi sikit cengeng-cengeng itu. Coba perhatikan sekarang. Yang cengeng itu justru orang yang punya kuasa. Dia yang tak mampu kerja, dilepasinnya marahnya sama orang yang tak bersalah. Coba ingat-ingat. Waktu para penguasa ini teken kontrak kerja sama bos nya, siapa aja yang hadir waktu itu ? Mana ada ! kecuali dia sama bos nya. Lah, kalo anak buahnya tak hadir ? apa mereka 'berhak' mendapatkan sumpah serapah ? Kalau mau adil, jangan cuman ngomelnya saja dibagi. Bagi lah yang lain-lainnya. Menjadi gentlemen itu perlu sekali lo. Gentlemen itu meningkatkan harga diri dan reputasi. Dulu, banyak sekali penguasa yang rela 'pasang badan'. Walaupun jelas-jelas yang bikin masalah adalah anggotanya, dengan gagah beliau ini kasih penjelasan : 'maafkan, saya yang salah memberi perintah'. Itu dulu. Kalau sekarang ? sedap kali tunjuk orang. Tengok saja di tipi tipi itu. Ada kasus apapun, bos nya yang sebagai penguasa, enteng saja tunjuk orang : 'ku rasa, si polan yang bikin itu. tak pernah ku kasih perintah sama dia bah. pintar pintar dia nya itu'. Bos yang kayak gini harus dikasihani. Rame rame aja bilang : 'kasihan kali bapak ya. kasihaaannn'.
Jadi anak buah pun harus tough juga. Kuatkan mental. Kalau tak senang dengan keadaan sekarang, coba menghadap bos dengan elegan. Tak perlu marah-marah, bilang aja gini : 'bos, gantian dulu kita setahun ini. saya yang jadi direktur, bapak yang jadi oppis boi'. Coba aja. Siapa tau ditampar tampari nya kita. Tapi, minimal kan sudah dicoba.
.... Usahakan lah jadi orang yang tough. Dimarahin sekali, senyum. Dimarahin dua kali senyum. Mau dimarahin berapa kali pun, senyum aja terus. Namanya nasib anak buah. Mudah-mudahan besok ada perubahan keadaan. Entahlah berubah makin baik entah makin parah. Pokoknya pasti ada perubahan. Yang jelas, orang tough tidak pernah moody. Orang tough itu, entah sebagai bos besar, bos sedang, atau pun tak bos, kelihatan kok dari aura wajah nya. Sudah pasti sinarnya lebih positif dibanding orang lain yang lemah.
Aaaahhhh... kok tiba tiba jadi orang yang tough aku ya.

Jumat, 21 Agustus 2009

+++ TRIBUTE TO A WOMAN.. (I wish I could write this to be a song) MyLife : Thank You !

+++ ada banyak jarak yang sudah terlewati dalam perjalanan. Seringkali pula kaki tersandung jatuh karena keletihan. Bayangkan, berapa tinggi debu di belakang ku sebagai pengganti jejak yang tinggal. Kalau aku mau, aku sudah rebahkan kepala di atas tanah kotor ini. Menyerah pada kelelahan. Sebagai laki-laki, seringkali berpikir, menyerah itu sungguh menyenangkan. Melepaskan tanggung jawab untuk berusaha tetap berdiri, untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Membiarkan pergi, apa yang hampir terjangkau. Hanya terduduk menyaksikan bayangan yang semakin membuka jarak. Menyerah itu, seperti memuaskan tidur yang lelap. Tidak ada kenikmatan lebih dibanding menyerah. Lepaskan semuanya, biarkan jiwa melemah, merebahkan tulang belakang : hidup tapi seperti mati ! Menyerah itu kata yang tercepat keluar terbang melayang dari rongga mulut. Menyerah membutuhkan hanya sedikit energy. Sayangnya. Ternyata menyerah diciptakan bukan buat ku.

Seperti keajaiban tiba-tiba saja engkau ada disekitar. Tidak terlalu dekat, tapi kibasan gaun mu menyingkirkan semua debu bekas perjalanan. Melepas pergi semua kotoran yang melekat di pakaian. Coba lihat sekarang. Atas tatapan mu : lembut, teduh, punya kekuatan penuh, rasa malu menampar kepala ku. Rasa malu atas kelemahan diri. Jelas ku saksikan : tangan mu hanya bersembunyi di punggung. Tetapi sadarkah engkau, getarannya membangunkan mata kaki ? Menyusun kembali tulang punggung. Tangan ku merasa menggapai angin, tetapi tetap mampu mengangkat tubuh. Karena engkau ada di situ : diantara bayangan angin.

You are diamond, you are gold, you are jewel.

Dengan keanggunan itu, kecantikan apa lagi yang bisa mengalahkan keindahan mu ? Biarkanlah segala sesuatu yang mempesona yang berasal dari mu, bisa meredam semua marah. Merusak segala rencana buruk. Memperbaiki kehancuran yang parah. Membawa kembali semua yang sudah dianggap hilang. Mana adalagi yang lebih berharga daripada engkau sendiri. Aku pun, rela berjalan di atas lutut hanya untuk memohon diijinkan untuk bisa menikmati kelembutan udara yang melayang bersama nafas mu sewaktu bicara. Langkah kaki mu diiringi tiupan lembut udara dingin kaki gunung. Dengan kesejukan itu, apa masih ada hati yang bisa bertahan panas ? Semua gerak tubuh mu diiringi musik yang mengalun dari petikan halus harpa. Dengan kemerduan itu, apa masih ada kebuntuan pikiran yang mampu bertahan di kepala yang sesak ?

You are moon, you are stars, you are little sun.
Sinar yang berasal dari kemilau sinar mata. Yang berasal dari mu, sungguh tidak memberi tempat lagi bagi kegelapan apapun. Bagaimana mungkin aku bisa menikmati kegelapan diri selama tatapan diarahkan ke kepala ku. Bagaimana mungkin aku bisa menangisi kegagalan, karena setiap akan rebah, aku bisa melihat jelas bulan, bintang, matahari kecil bersatu di bola mata mu ? Kelembutan bulan ada di kedua belah telapak tangan mu. Kemilau bintang ada disekujur kulit wajah mu. Seluruh pendaran sinar matahari kecil ada diseluruh bagian tubuh mu. Biar saja gairah ku selalu terbangun hanya diarahkan kepada mu. Biar saja semangat hati semakin berbinar nyala setiap ku ingatkan tentang engkau di dalam pikiran terdalam ku. Segala yang ku miliki sekarang, akan segera ku lepas terbuang. Untuk digantikan kebaikan, kemurahan, dan tumpahan cinta yang berasal dari mu. Perempuan, bertahanlah pada keindahan mu.

Rabu, 12 Agustus 2009

+++ UGH... DADDY, YOU ARE A FOOL TO CRY... (Jagger crying in singing)

..... udah lama rasanya engga ke tempat gym. Pasca sakit akibat 'fat burner' maut itu, ada masa panjang yang saya putuskan untuk tidak melakukan kegiatan fisik demi membuang kalori. Terutama workout. Setelah masa sakit itu, ada juga penyebab lain yang menunda lagi niat workout : menemani istri di rumah sakit setelah melahirkan. Bisa dibayangkan badan yang sama sekali tidak berbobot besar ini rasanya berat untuk dibawa kemana-mana. Hasil pembakaran hari ini : 300 kalori. Lumayan buat orang yang sudah lama tidak melakukan kegiatan workout. Begitu lepas dari pintu keluar gym, saya singgah sebentar di toko yang menjual dvd, cd, dan mp3. Ya sudah jelas, semuanya pasti tidak asli. Kalau original, mana saya sanggup belanja dvd 8 biji sekaligus beli. Kalau ada yang protes kenapa saya tidak mendukung pembelian barang original, saya protes balik ke orang itu : kenapa dia tidak protes kenapa orang dibiarkan jual barang palsu ! Pas buka dompet, luar biasa, isinya cuman dua puluh ribu perak. Tak lebih dan banyak kurangnya. Makjang, tampang awak keren kali pas habis gym. Sudah pasti muka agak merah-merah sikit karena tentunya kulit muka agak kencang kerna beratnya kegiatan fisik. Ada tas sandang berisi pakean gym, blackberry di tangan kiri. Pokoknya gaya macam artis sinetron yang suka kawin cerai secara tak jelas di tipi tipi itulah. Tapi !!!! pas buka dompet, di depan mata kasir pulak itu, total uang yang mengisi dompet panjang warna merah bekas Lince istri saya yang cerewet itu, cuman, sekali lagi diulangi, cuman dua puluh ribu perak !! ya cuman segitu itulah isinya. Untung petugas ini bijaksini (seperti wartawan untuk laki-laki, dan wartawati untuk perempuan, maka bijaksana yang berakhiran 'a', seharusnya hanya digunakan untuk kelamin laki-laki), dia purak purak sibuk catat-catat dalam rangka menghindarkan diri jadi saksi hidup kejadian dompet kosong tadi. Setelah tau harga MP3 palsu tadi (eh, MP3 apa ada yang asli ?) lima belas ribu perak, dengan gagah saya kembalikan satu-satu CD lain dengan kalimat peserta : 'mmm.. yang ini, lagunya kurang suka.. yang ini juga, yang ini terlalu keras.. yang ini terlampau melo.... ya udah, yang ini ajalah. satu !'. Modal dasar dua puluh ribu, bayar mp3 palsu lima belas ribu, sisa lima ribu perak. Nanti bayar parkiran yang untungnya ga pake timer, dua ribu perak. Jadi, dapatlah disimpulkan bahwa nantinya, laki-laki ganteng macam saya ini bakal melewati portal parkir Cambridge, menyetir mobil dengan gagah-gemulai, cuman punya modal tiga ribu perak !! Oi makjang. Nasib ku ini lah. Ya sudahlah.
+++ Di mobil, sambil pegang kemudi, saya meraba-raba plastik kantong tempat mp3 tadi. Saking banyaknya saya pilih dan kembalikan sembarangan, baru saya sadar bahwa yang jadi dibeli adalah mp3 nya Rolling Stones. Setelah beberapa kali forward, saya berhenti di lagu ini. Dulunya, lagu macam gini selalu saya putar pada waktu-waktu tertentu : jam 3 pagi, sambil buka buka tebalnya Peter F. Drucker. Duduk di jendela terbuka Flat O perumahan Sarijadi Bandung. Dan itu harus diputar cuman jam segitu. Tak boleh diputar di bawah jam itu, apalagi di atasnya. Entah kenapa, lagu itu cuman pas ya pada masa itu saja. Jagger, laki-laki hebat yang menciptakan lagu yang meruntuhkan hati Darryl Hannah, perempuan tercantik sejagad pada masanya (tenang kita ya, ini bukan pelajaran tentang bagaimana caranya merebut hati orang dengan lagu), berbisik halus : "uuuuuuhhhhh... daddy you're a fool to cry... you're a fool to cry, and it's makes wonder why.....

Be a Daddy.....
Ada banyak orang memilih untuk tidak punya pasangan hidup. Dengan cara ini, orang-orang itu tidak akan pernah jadi daddy. Kalau satu pihak bilang, hidup seperti itu adalah pilihan, maka saya nekad tak nekad harus bilang, pilihan itu engga baik. Ada orang semakin teguh memilih untuk tidak punya pasangan (baca:istri), karena dia merasa bahwa kebutuhan nya akan perempuan tidak harus diperoleh dari istri. Bah, untuk pikiran ini, sini lah ku jewer kupingnya : punya istri itu tak ada hubungannya dengan yang ada di pikiran joroknya. Tak ada sama sekali. Apapun alasan logis dan modern mereka tentang menolak jadi daddy, saya cuman bisa bujuk-bujuk sikit. Kawin lah kalian. Cepatlah punya istri. Yang enak an punya istri itu lo. Walaupun agak bandal istri kita, dicerewetinya tiap-tiap hari, tapi ada kawan kita debat. Kawan bantah-bantahan. Kawan yang mendukung angan-angan. Coba bayangkan, di tempat tidur (untuk yang langsung meneruskan cerita ini pada kisah melepas-lepaskan pakaian, dengan ini ku perintahkan : hentikan pikiran porno mu itu !!!), kita bisa rebahan sambil tengok-tengokan. 'Nanti de, kalau abang uda bisa nambah penghasilan, dapur rumah kita ini, kita rombak lah ya. Kita bikin wastafelnya di ruang tamu'. Istri kita sudah pasti terkejut-kejut dengan ide yang tak masuk akal ini, tapi percayalah, tanggapannya bikin hati sedap : 'iya ya bang... biar di tengok orang wastafel kita mahal ya... berarti, toilet kita yang bisa siram sendiri itu, kita bikin aja di ruang makan bang, biar sekalian dibilang orang kita gila'.... Engga usah bahas isi kalimatnya, yang jelas, isi hati mu bisa dilegakan dengan omong-omong di tempat tidur macam gini. Kalau nanti sudah tak bisa omong-omong, kita sudah tau ceritanya lah. Sudah pasti suami-istri ini melakukan, tidur.

Daddy... you fool if you cry
Kalau sudah melakukan punya istri. Melakukan lagi punya anak. Jangan lupa ya : there is no way back ! If you're a daddy, anda adalah super hero buat siapa saja. Asumsikan saja istri mu bekerja lebih hebat penghasilan mu, anda tetap super hero di mata nya. Apalagi di mata anak-anak. Belum lagi di mata mertua dan yang ada di belakang-belakang mertua. Super hero itu, dianggap bisa melakukan apa saja. Jadi, jangan lah pulak kita bentak anak-anak yang minta diajarin materi ujian sempoa : 'itu saja pun kamu tidak bisa, tanya dulu sama mama !' Kejadian ini boleh lah terjadi sekali dengan tanpa kesengajaan. Tapi kalau terjadi berkali-kali, anda berubah menjadi SuperMarah. Anak-anak sekarang udah tau rahasia orang tuanya : 'alaaa.. papaa.. gaya aja marah-marah bilang gitu, ngaku aja ga ngertiiii....' Ada cerita seorang daddy yang pengen tampil macam super hero. Sore hari waktu anaknya pulang ke rumah dari tempat les, dia ngadu ke daddy : 'daddy... tadi aku berantem sama si Tongat, bapaknya ikut-ikutan pulak. Tengoklah dad... uda benjol kepala ku ini'. Daddy super hero akan bertindak gagah : 'bah.. anak-anak biar berantem sama anak-anak lah. Bapak-bapak lawannya bapak-bapak juga".. Daddy makin menunjukkan ke super heroan nya. Sambil mengelus-elus kumis yang tak seberapa tebal ke arah atas, dia teriak : "ayo ke rumah lawan mu tadi, biar daddy hadapi bapaknya..' Anaknya girang bukan kepalang "gila man, daddy yang lemah gemulai gini, nekad juga ngadapin bapak si Tongat'... Pas di perjalanan, logika dan pikiran jernih daddy muncul tiba-tiba... mereka berhenti. Daddy nanya ramah : 'eh. ngomong-ngomong, bapaknya si Tongat kerja apa ?'... "Tentara dad...". Serta merta Daddy merampas tangan anaknya cepat-cepat. Mereka semakin mempercepat langkah, tapi sekali ini arahnya berlawanan : menuju pulang, sambil berbisik "kenapa tak kau bilang dari tadiiii"... sambil tetap mengelus-elus kumis. Kali ini ke arah bawah !
Anyway, apapun yang terjadi. Hati kesal karena penghasilan ga nambah-nambah. Gaji tak naek-naek karena pangkat tak juga naek. Bisnis rasanya makin lama kok makin beraaat saja menjalankannya. Dijalankan untungnya sikit. Tak dijalankan, tak ada sumber penghasilan. Ini saran saya : daddy... don't cry. You are a fool if you cry. Terutama di depan anak istri ! Berat melakukan ini coey. Tapi ini harus tetap dilakukan. Jangan pernah berpikir engga ada jalan keluar. Pintu itu banyak. Tak ada pintu, jendela masih banyak. Tak ada jendela, lubang angin ada. Tak ada lubang angin, pori-pori tembok ada. Selalu ada jalan keluar. Yang kita lakukan cuman hal sederhana : tetaplah berpikir untuk mencari jalan keluar. Buat saya, orang yang gampang putus asa sebenarnya bukan orang yang ga bisa menemukan jalan keluar, tapi adalah orang yang malas mencari terus jalan keluar !
Waktu kita menuju tempat kerja dan usaha, masuk ke mobil. Dadah dadah sama anak, atau sebaliknya kita dadah dadah sama anak yang duluan berangkat sekolah dengan mobil jemputan, percayalah. Di air mata anak yang tersimpan di kantung mata, ada kalimat manis : 'daddy, anda super hero'. Jadi, dad ! Jangan pernah kesal waktu anak-anak asik mintaaa saja kerjanya. Lewat time zone, minta waktu untuk main. Lewat Kids station, maksa untuk beli mainan. Lewat Sportstation, merengek minta beliin sepatu basket. Coba dengar, anak anda bukan anak nakal, yang ga tau diri bahwa bapaknya tak punya apa-apa. Anak anda itu sungguh-sungguh mengangkat harga diri kita di depan orang lain. Mereka berpikir simple : 'Daddy pasti sanggup beli'. Kalau ternyata kita belum mampu beli, layani saja rengekannya dengan bujukan. Tentunya harus pake strategi yang sudah kita ketahui sendiri. Lebih bagus lagi sekalian saja bakar kepala kita dengan cita-cita hebat : 'awas kau kids station, apapun akan ku lakukan, supaya bisa ku borong semua isi etalase mu !. You made you Super hero.
Jadi daddy.. do something. Much good thing. You are a fool to cry.

Kamis, 30 Juli 2009

+++ FAITH...... (that's all we need)

.... Cuplikan kalimat dalam film transformer : ketika mereka tau hanya Optimus yang bisa mengalahkan para penyerang dari bangsa Alien. Seorang pejuang setengah berdiri dengan goyah. Di tangannya ada serbuk-serbuk metal, yang dia yakin bisa membangunkan kembali sang Optimus. Waktu sudah semakin sempit. Kelangsungan hidup bumi harus dipertahankan, dan semuanya tergantung keputusan ini : menaburkan serbuk metal ini persis ke dada Optimus. Apakah dia akan benar-benar bangun ? Pejuang mati-matian meyakinkan diri, membangun Faith dalam hati : ini pasti berhasil ! Dia memutuskan untuk melakukan tindakan paling berani di dunia : menembus hadangan ribuan Alien demi berusaha berada dekat dengan Optimus. Atas nama persahabatan, para pejuang lain yang terkaget-kaget, berusaha melarang upaya 'bunuh diri' ini.......................
Pejuang ngotot : 'it's gonna work'.... 'how can you so sure ?'.... 'because I believe it'. Seperti kita tau, memang betul serbuk yang menurut kita hanyalah ampas, bisa membangunkan kembali Optimus. Bumi pun selamat dari kehancuran.
+++
Ini sisa cerita pas liburan panjang kemaren. Kami nonton transformer rame-rame. Wathcing movies jadi bagian dari rentetan jadwal besar liburan panjang anak-anak. Jauh sebelum hari libur besar itu, sudah terlanjur pulak ter omongkan ritual yang harus kami jalankan. Awalnya sudah dipastikan kami semua berangkat, bersama seorang sahabat, merasakan dinginnya udara di Perth. Atau minimal mau 'menapak tilasi' kemana saja papanya kalau harus melakukan perjalanan pekerjaan ke negeri tuan Lee atau Dr. M. Apa mau dikata, semua rencana tidak bisa dijalankan. Kedutaan tidak kasih ijin untuk ibu-ibu hamil besar melakukan perjalananan ke negara mereka. Daripada dapat komplain dari anak-anak hebat ini, semangat pun harus dilipat gandakan. Kemana mereka mau, saya ladeni. Walau badan harus letih lesu, perasaan hati anak-anak harus dijaga cerah ceria. Biar papanya tidak dapat malu : 'janji-janji aja pun papa ini'.

Faith.......+++
Gara-gara dialog di transformer tadi, aku jadi ingat lagi omongan pendeta Wolfenden (apa Pdt Wolferden ya, maaf aku lupa). Bapak pendeta meyakinkan sekali apa pentingnya kita membangun Faith. Seluruh alur cerita tadi, yang ada dalam dialog film transformer itu intinya adalah : Faith.
Seluruh petarung di ring tinju punya massa dan volume otot yang bisa dibilang seimbang. Secara fisik, kecuali tinggi badan, hampir seluruhnya berada dalam takaran yang sama. Toh kelas-kelas petarung sudah ditetapkan. Tapi, kenapa ada sebuah jaman di mana Muhammad Ali begitu perkasa dibanding petarung lain ? Tyson begitu beringas menghabisi siapapun lawannya dalam waktu singkat. Saya berani bilang, ini semua bukan karena pukulan Ali atau Tyson jauh lebih keras dibanding yang lain. Ini bukan karena tengkorak kepala atau garis tulang rahang kedua orang super ini sangat sakti. Menurut saya, kedigdayaan keduanya muncul karena dipenuhi oleh Faith yang jauh lebih besar dibanding lawan-lawannya. Lantas kenapa kok mereka bisa hancur lebur dihadapan Foreman atau Holyfied ? Saya berani lagi bilang, karena pada saat itu, Foreman dan Holy punya Faith yang jauh lebih besar dibanding Ali dan Tyson.
+++
Ada banyak kisah sukses dari orang-orang yang meninggalkan nasibnya yang selalu tergantung dari gaji bulanan, yakin akan berhasil untuk melakukan usaha tertentu. Seperti cerita tadi, atas nama persahabatan, sangat banyak rekan kantornya berusaha kasih saran bijak : 'janganlah, mending tetap saja jadi pegawai di sini. toh kita cuman datang, duduk, nikmati ac dan gajian'. Omongan seperti ini tidak bisa menggoyahkan niat hebat mereka. Mereka punya Faith : nasibnya tidak boleh tetap seperti sekarang. Dan kita bisa ternganga melihat orang-orang yang sangat nekad meninggalkan 'hidup nyaman' dengan memulai proses yang terlihat bodoh. Memulai segalanya dari dasar kembali ! Berapa tahun kemudian ? apa yang didapatnya, tidak akan mungkin diperoleh oleh temannya yang masih ngotot jadi pegawai, walaupun mereka pensiun, masuk kerja lagi, pensiun lagi, masuk kerja lagi sampai bongkok.
+++
Kalau kita beruntung ngobrol dengan orang seperti ini, bukan nilai baru yang kita dapat, tetapi kepala jadi pening seratus dua puluh empat keliling. Seluruh ungkapan, nasehat, proses yang mereka ceritakan dengan enteng, tidak mampu kita cerna. Yang nongol lagi-lagi cuman pertanyaan kita yang bodoh : kok bisa ya ?
+++
Setiap berada di areal dimana banyak rumah-rumah bagus yang sangat besar, yang kita yakin hanya mampu didirikan oleh orang berpenghasilan sangat besar, saya selalu meminta anak-anak memperhatikan itu : Tuh, itu rumah siapa ? Rumah kak Iyank, abang Kevin, atau adik Michelle ? Puji Tuhan, ambisi anak-anak ini sama persis dengan saya. Mereka akan bijak memilih : bukan pa, aku engga suka sama modelnya. Nanti rumah ku seperti yang ada di jalan anu. Masing-masing mereka sudah menentukan di level mana nanti mereka ada. Yang saya miliki sekarang apa ? belum ada ! Kecuali rencana besar di kepala yang botak. Sudah sangat rapi rencana buat masing-masing anak-anak ku ini. Mereka akan melakukan apa mulai kelas SMP, setelah lepas SMU, apakah akan berambisi untuk meraih master atau kelas apapun, segalanya tertata rapi. Apa jadinya anak-anak masa depan kita kalau hanya sekedar rencana saja kita tidak punya ? Saya juga membuka peluang bahwa segala rencana itu akan berantakan di tengah jalan. Tetapi, sampai detik ini, massa dan volume Faith saya semakin besar dan membesar. Ini yang membakar seluruh nadi untuk menambah usaha apapun. Saya tidak perduli dengan gelar pebisnis PALUGADA atau pengusaha ADUHAI yang disematkan di kepala dari orang-orang dekat. Bagaimana mungkin kita harus menyerah dengan omongan-omongan kosong seperti itu. Toh Mario Teguh sendiri bisa jauh lebih sejahtera dibanding ketika beliau memiliki kekuasaan formal di sebuah bank berukuran besar untuk skala dunia (Mario pada suatu kesempatan pernah menceritakan itu di kelas). William Gates menjadi penguasa tunggal software di seluruh penjuru bumi hanya dengan modal awal keyakinan. Kata-kata 'satu putaran' dan 'lanjutkan' itu kelihatan sederhana. Tetapi kita semua tau, terlepas dari suka atau tidak kepada persona, Susilo Bambang Yudoyono, berada pada titik dimana mereka mau berada hanya karena benar-benar punya Faith yang jelas dan besar ! Kalau sudah punya keyakinan yang kuat, langkah berikutnya tidak akan repot lagi, cukup mengikuti jalur-jalur sederhana. Tidak perlu terlalu rumit. Susun saja seperti membuat teka-teki silang. Jawabannya sudah kita siapkan dengan sederhana. Well, sekarang tinggal mulai melangkahkan kaki, tentu saja dengan menciptakan pertanyaan sederhana dan jawaban yang sudah bisa kita jawab !
..................................................................
Sudah, jangan terlalu lama, segera saja mulai ! Bayangkan saja di pikiran bersih mu, di atas langit sana, di kerajaan Surga, Tuhan sedang menunggu untuk memberikan pertolongan.

Senin, 27 Juli 2009

*** ALBUM FOTO HARI MINGGU

*** Pulang dari ngumpul-ngumpul di rumah Tuhan, tidak seperti biasa, arah mobil saya alihkan keluar dari jalur biasa. Perbedaan rute ini saya sengaja untuk bikin anak-anak gelisah. Ternyata bukan anak-anak yang protes, ternyata mamaknya yang jauh lebih keras protesnya : 'kok langsung pulang bang, suntuk kali aku, jalan-jalan dulu la'. Anak-anak langsung macam bensin disiram sama minyak jelanta : 'sok kali pun papa ini. kami tak mau langsung pulang pa'. Saya purak-purak cool : 'papa ada janji sama om Jonie, mau ngopi sebentar'. Makin lama makin parah kerusuhan dalam mobil yang kecil ini. Karena pikiran masih waras, saya tentu saja berusaha untuk segera mengakhiri rencana demo besar ini. Mobil saya arahkan lurus saja menuju jalan S. Parman, dari Kampung Madras (d/h kampung keling atau kampung Sendiri kata temen kita yang disebut seperti itu), saya banting setir mengarah ke kiri. Hanamasa yang dulu mentereng dan sekarang udah tutup karna bubar restorannya, ada di sebelah kiri. Setiba di warung Koki Sunda mobil saya belok kanan. Begitu ketemu belokan pertama, langsung belok kiri lagi. Anak-anak mulai ribut. Mamanya udah tak mau diajak ngomong. Setelah meninggalkan sebuah istana di depan RS Herna, mobil saya kebut menuju Sudirman, masuk Diponegoro, belok kiri lagi ke arah Zainul Arifin dan langsung menuju parkir di lantai Roof sun plasa. Barulah teriakan-teriakan bingar tadi meredup. Sayup sayup kedengaran suara halus : 'aku kawan sama papa ajalah. ga mau kawan sama mama'.

Sapo Restaurant.
Mobil sudah diparkirkan. Semua penghuni kendaraan ini berhambur keluar. Begitu masuk pintu samping halaman parkir lantai ini, terjadi kejadian luarbiasa : semua langsung sepakat makan siang dulu !. Biasanya ritual ini yang bikin keluarga kami rusuh : tidak sepakat menentukan jam dan tempat makan siang. Di lantai sini ada tempat makan yang lumayan sedap dipandang mata. Kita segera masuk ke Sapo. Gayanya macam Korea macam Jepang gitu. Kalau mereka pengen sekali kunjungan yang ramai, rasanya tempat ini salah setting interior. Mereka terjebak kemewahan. Tata letak ruang dan furniturenya kesannya terlalu mewah. Awak yang merasa agak seram dengan harga, sudah pasti cepat-cepat kasih kesimpulan : makanannya mahal-mahal. Saya kurang suka ke sini sebenarnya, tapi karena mama nya anak-anak ini terkesan pada kunjungan sebelumnya, kita tinggal ngekor saja di belakangnya. kak Iyank pesan Nasi ayam Hainan. Yang hadir cuman nasi hainan, ayamnya ga ada hainan hainannya. Sempat lagi termimpi-mimpi makan ayam itu, bisa ngamuk kita disini. Mending mereka tulis disitu 'nasi lemak', atau 'nasi kentang'. Jangan nasi hainan. Tak tahan liat wajah anak sulung ku ini kecewa 'pak, kok ga ada ayamnya ?' saya jawab saja 'meneketehe, papa kerja di Telkom, bukan di Sapo'. Lince pesan Ifu mie siram. Michelle ikut-ikutan pesan mie 'iya, aku mie juga'. Kevin Axel, seperti biasa, cuman angkat bahunya yang kurus, tanda bilang 'what ever'. Kalau sudah urusan makan, anak laki-laki ini tidak pernah mau kasih pendapat. Palak kali kita. Pengen rasanya mengirimkan tinju bertubi-tubi ke wajah nya yang imut-imut itu. Pesanan saya sendiri : ayam goreng kering, sama Sapo Soup apa itu namanya rumit. Pas keluar, ayam goreng keringnya nongol macam ayam setengah bakar. Soupnya nongol mirip-mirip macam capcay, tapi rasanya sama sekali engga gurih. Karena menunya rada mahal menurut kami, doa saya pun macam gini : 'terimakasih Tuhan karena kami bisa makan di tempat semahal seperti ini'. Meja sebelah itu mungkin jelas-jelas mendengar doa kami. Biarlah, orang memang kami bersyukur bisa makan di tempat mahal macam gitu.


Kamis, 09 Juli 2009

*** HARGA KEMENANGAN !!

... walaupun tak suka sama band ungu, ujung jari kelingking awak terpaksa diwarnain ungu. girang kali rasanya ikutan election. macam nonton pertandingan sepak bola. ternyata 'pertandingan' tanggal 8 juli 09 kemaren, seumpama Manchester United lawan klub profesional yang sama sekali tidak diisi pemain profesional. Jadi, satu klub menang dengan telak. Jangankan event penalti, perpanjangan waktu saja pun tak ada. Kelihatannya kemenangan nanti bakal straight set.

Luarbiasa pemilu sekali ini, selesai dengan lancar, ga ada cekcok. Mudah-mudahan sampai nanti berakhir masa jabatan presiden 'baru' ini, tetap ga ada cekcok. Udah cape kali kepala asik menikmati cekcok terus. Walaupun tak suka kali sama politik-politikan, seru juga nyoba ikutan ngasih sedikit perhatian sama seluruh prosesnya.

Menurut saya, ketiga kontestan adalah para jago dunia politik. Teknik, taktik, dan strategi apapun sudah pasti ada dalam catatan buku saku. Jangankan cuman sekedar menangkis serangan, merencanakan serangan orang lain juga mereka mampu. Macam baca pikiran begitulah. Kalau diperhatikan, semua urutan skenario sudah mereka rancang dengan bagus. Macam marketing, cara mereka memilih time to entry nya pas. Setelah itu, gaya menjaga awareness juga pas. Sampai waktu melakukan 'the last punch' pada d-day nya pun terasa sekali Sangat berpengalaman. Semuanya diskenario dengan hebat. Anyway, tak ada gading yang tak retak. Skenario mereka yang manis dalam bentuk baliho, iklan dan jingle apapun, justru 'dipatahkan' dengan jelek oleh para 'komentator team sukses'. Agak lucu memang, team kandidat tertentu bisa-bisanya terpancing mengikuti gaya permainan lawan. Padahal, dari awal team ini sudah ada di jalur mereka : santun, sopan, dan tenang. Eee pas giliran nongol di televisi, yang justru mendekati masa tenang, kegarangan mereka melebihi team lain. Anyway, pemenang akan segera diumumkan. Kalaulah mereka baca tulisan ini, maunya mereka memperhatikan catatan kecil:

2009 start membangun image Partai yang melegenda.
Banyak catatan bagus yang diperlihatkan tiga kandidat dalam persiapan awal. Rata-rata dari mereka melakukan budaya standar Indonesia : sungkan. Bayangin saja, dengan kekayaan yang tidak bisa dibilang terlalu kecil dibandingkan pasangan, yang lebih kaya justru merasa sungkan untuk berhadap-hadapan langsung dengan para incumbent. Akhirnya bersedialah mereka menjadi kandidat penyandang gelar wakil. Ini awal bagus. Tetapi, mereka harus sadar bahwa dengan menyatakan ‘ya, saya bersedia’ pada saat lamaran kandidat, ada konsekuensi yang mereka pegang untuk menjadikan mereka sebagai ‘lelaki’ jantan. Lelaki jantan kan harus konsisten. Dengan begitu, mereka harus konsisten bahwa Partai yang ada di belakangnya juga harus terus kompak dengan partai yang didukung. Untuk kandidat yang menyandang sebutan bukan wakil, ini saat bagus untuk kembali merintis pembangunan kembali image politik partai. Cara mereka melakukan kampanye pada saat kemaren sungguh di luar dugaan. Ada beberapa yang melakukan cara tradisional; kampanye secara outdoor. Tetapi ada yang betul-betul berbeda dengan melakukannya di dalam ruang gedung. Harusnya, cara elegan ini segera dijadikan gaya permanen untuk melakukan awal baik pembentukan image partai untuk masa depan partai ini menjadi sebuah legenda hidup. Artinya jangan pulak target besar mereka hanya 2009.

Konsisten ada di belakang
Masing-masing kandidat didukung penuh oleh partai-partai. Partai-partai sendiri, punya pertimbangan dan alasan untuk memilih barisan yang mereka sukai. Sebaiknya, minimal sampai masa kepresidenan ini berakhir, partai-partai ini tetap ada dalam barisan yang sama. Jangan pulak, karena kecewa ditengah jalan, mereka langsung balik muka menjadi lawan. Kalau cuman sekedar lawan pasif engga masalah. Yang dikuatirkan, mereka kerjanya asik merecoki saja. Apa saja dilakukan pemerintah yang justru mereka dukung, direcoki. Kerjanya dari bangun, tidur lagi, bangun lagi, lagi-lagi tidur, cuman memikirkan cara apa yang paling gaul untuk merecoki. Jangan-jangan nanti di lengan kiri mereka yang kurus dibikin tato macam gini : ’Recok, I love you’. Kalau ini sampai terjadi, taruhan kita, semua konstituen mereka berubaha nama menjadi : Bingung ! kepala mereka dipenuhi pertanyaan macam gini : ’apanya orang ini, kemaren awak disuruhnya memilih yang tersebut. Kok sekarang jadi macam musuhan ?’. Mereka tau tidak dampaknya ? nanti, pada giliran kampanye di tahun berikut, nama si tukang recok itu tidak akan dipilih lagi. Artinya, tindakan politik apapun yang akan mereka ambil, pasti akan menentukan masa depan partai mereka sendiri. Percayalah. Sudahlah... mending percaya.

Partai Agama di belakang, menjadi terbelakang ?
Memang macam permainan kata-kata saja, bahwa sadar atau tidak sadar, banyak sekali pernyataan politik bahwa Partai berasaskan agama ’berada di belakang’ kandidat tertentu. Yang jadi pertanyaan, nanti pada masa pemerintahan presiden yang berasal dari partai bukan mereka, yang tadinya mereka dukung, apakah akan tetap menaruh agama di belakang gaya pemerintahan; atau ditaruh di depan untuk dijadikan mercusuar penunjuk tempat yang benar ? Maksudnya, bagaimana nanti presiden memperlakukan agama-agama yang sudah tentu diwakilkan oleh partai yang berani membawa lambang agama ? Jangan la pulak terjadi lagi ada agama yang didahulukan dari agama lain. Padahal yang memilih mereka berasal dari segala agama. Masak iya, tega-teganya menyangkal semua dukungan suara dan doa dari semua agama ? Kalau bisa, sebaiknya pemerintah besok melihat bahwa sebagian besar dari suaranya juga berasal dari pemilih yang agamanya tidak sama dengan yang mereka anut. Jadi sekarang waktunya untuk memberikan perhatian untuk semua agama. Atau ambil saja sikap, negara tidak berurusan sama sekali dengan agama ! Oya, ada satu catatan penting. Yang justru sangat penting. Dengan tidak adanya satu partai pun yang berbasis agama yang menjadi dominan, dan justru ikut berada dibarisan belakang para kandidat (baca;partai), bukan berarti bahwa agama menjadi terbelakang. Ini sebagai gambaran, bahwa memang sebaiknya agama mengurangi kegiatan-kegiatan politiknya. Lebih baik partai berbasis agama ini melebur menjadi lembaga yang fokus pada pembangunan keimanan masing-masing umatnya. Politik itu kan hitam putih. Sementara kita tau, agama tidak boleh hitam putih.

Waktu membayar Hutang
Siapapun tidak bisa menyangkal bahwa pada waktu persiapan-persiapan dilakukan, sudah pastilah banyak janji yang disetujui. Pakek jabatan tangan segala waktu seremonialnya. Kalau di Medan mereka bilang gini : ’Janji kau ya.. betul kau ini, janji kan ? dijawab : ’iyaa.. iya.. janji aku’.... Janji-janji tadi, sekarang ini berubah statusnya menjadi hutang. Hanya mereka yang tau siapa saja yang meminta janji, apa bentuk janji, dan bagaimana isi perjanjian. Bisa saja janji-janji yang dibuat secara rahasia, yang tidak didengar oleh orang lain yang juga janjinya dipegang, ternyata akan membuat sengsara kelompok tertentu. Mungkin, pada waktu itu, sang kandidat tidak berpikirpanjang dan langsung bilang ’oke, saya janji’. Caranya sih sederhana, cuman manggut-manggut, bilang okah okeh, jabatan tangan, selesai. Padahal dampaknya akan terjadi bertahun-tahun lamanya. Ada bagian yang tiba-tiba merasakan keberuntungan yang luar biasa. Dilain pihak ada bagian lain yang tadinya berdoa sungguh untuk kemenangan calonnya, merasakan neraka bertahun-tahun akibat kengerian-kengerian yang mereka rasakan dari kebijakan sang Idola. Waktu nanti mereka berkuasa, tentu saja seluruh hutang akan ditagih. Mana yang lebih dulu dibayar ? Janji hati waktu berdoa minta petunjuk Tuhan secara pribadi, atau janji pada mulut-mulut orang yang mungkin saja berisi rencana jahat ? Hanya mereka dan hati mereka yang bersih, yang.

Menjadi Presiden Legenda
Abraham Lincoln, Roosevelt, Reagan, Clinton, sekarang menjadi legenda-legenda di negara yang justru menjadi ’kiblat’ dunia dalam ukuran modern, beradab, makmur, dan moderat : Amerika Serikat. Sama saja seperti pemilihan di sini. Di sana, saya yakin persiapannya dilakukan secara hitam dan putih. Dari niat suci dan niat buruk. Dari rencana menolong dan rencana menghancurkan. Tetapi, waktu juga yang membuktikan bahwa dedikasi, kesungguhan, dan kebaikan hati, menjadikan mereka menjadi presiden yang Legendaris di negaranya. Jujur saja, kita baru punya satu presiden yang dianggap legendaris dan diterima oleh sebagian besar warga bangsa ini. Presiden yang tahun 2009 ini dilantik nanti, punya peluang sama untuk menjadikan dirinya tidak sekedar ’Presiden Indonesia yang ke....’. Tetapi betul-betul Presiden yang nama, ucapan, dan gayanya banyak ditulis dalam buku-buku, artikel-artikel yang akan dijadikan sebagai contoh berbuat baik diseluruh dunia ! Tentunya bukan materi lagi yang mereka cari. Saya sungguh percaya atas semua omongan yang mereka hamburkan dimanapun, yang sempat saya dengar. Saya sungguh percaya bahwa semuanya diucapkan dari kejujuran hati dan iman. Tapi, pertanyaannya apakah mereka percaya dengan semua yang mereka ucapkan ? Tanya beliau lah jangan tanya saya. Emangnya saya ikutan jadi kandidat kemaren ???

Rabu, 01 Juli 2009

+++ THE CHRISTINE HAKIM...............

... dulu sekali ada guyonan : kenapa pesawat susah mendarat di Padang ? banyak yang menjawab masalah teknis; karna dekat gunung kali ya.. salah... karna landasan di pertemuan antara laut dan gunung ?... salah... karna tekanan udara yang tidak stabil antara panasnya pantai dan dinginnya pegunungan yang menembok-i kota ?... salah juga... jawabannya ternyata : karena di kota Padang banyak gedung yang runcing-runcing !! kota ini mungkin menjadi kota yang satu-satunya mewajibkan bangunan apapun dari perusahaan mana pun untuk mendesain gedung mereka dengan 'bagonjong'. Rumah Gadang dengan ujung sangat lancip di ujung-ujung atap, persis seperti tanduk kerbau. ya jelaslah, namanya juga tanah minangkabau. Masak dibikin bentuk tanduk rusa ? selain menyalahi penamaan minangkabau sendiri, pemaksaan tanduk rusak bikin para arsitek dan tukang insinyur bakal bunuh diri. anda sajalah, kebayang engga cemana caranya bikin bangunan dengan atap yang ujungnya lancip lancip : tapi lancipnya bercabang-cabang macam tanduk rusa. iya kalau tanduk rusanya masih utuh. keliatan gagah. la ini, kan ada saja rusa yang lasaknya minta ampun sehingga bikin tanduknya rusak sebagian.

...'aaahhhh.. sampai juga ke kota kenangan manis ini. tempat dimana 5 tahun dari usia dihabiskan ; Padang kota tercinta. bandaranya lumayan modern. jauh berbeda dari bandara yang dulu ada di Tabing. Bandara yang susah kita bedakan dengan terminal Amplas di Medan. Jangan bandingkan dengan terminal bungur di surabaya. bandara Tabing jauh lebih kecil. bandara internasional ini keliatan bagus sekali dari udara. Letaknya persis di pantai. pas mendarat pelan-pelan.. serasa menuju changi. tapi kalau kita bandingkan 'rute pendaratannya', menuju bandara ini persis menuju KLIA. kuala lumpur international airport. sama persis. kalau anda tidak percaya, coba aja besok. anda terbang ke Padang jam 1 siang. setelah itu, supaya ingatan tidak hangus, cepat cepat berangkat lagi ke kuala lumpur. saya jamin rute pendaratannya sama persis. taruhan kita ? eh.. janganlah... ga bole taruhan. ga baek. apalagi kalo kalah terus terusan.

Terakhir kali ke kota ini adalah tahun 2003. sudah lama sekali. Aku harus melakukan perjalanan ke sini atas kebaikan hati pak bos. Ngasih tugas tambahan sambil cuci mata. walaupun sampai acara habis, mata ga sempat dicuci. dipercik pun tidak. cemana mau cuci mata. waktu cuman dua hari ga bole lebih. acara selalu berakhir malam hari. masuk ke kamar hotel saja sudah jam 9 malam. jam segitu di padang mau liat apa ? mau liat truk pengumpul sampah ? Sebelum tanggal keberangkatan, di kepala sudah tersusun rencana 'hunting', rapi dan terinci. Tersebutlah di dalam nya ; GKM (gule kambing bang Muslim), gule Pauh di Piaman, gule ikan di Bungus, sate mak Sukur, makan malam di rumah makan Kartini di pasar raya, dan paginya, sarapan di jalan pondok. Ada tekad membara : 'perjalanan sekali ini harus sukses'. Ternyata, engga semua rencana bisa kita kendalikan realisasinya, hasilnya ? niat cuman jadi sekedar niat. Kecuali realisasi : sarapan pagi di jalan pondok, semua rencana indah hancur berantakan. ya gara gara jadwal padat tadilah. karena tak jadi, saya cuman berusaha keras membayangkan didihan minyak sisa pembakaran sate di mak Sukur, atau cidukan kuah gule kambing dengan warna yang menggiurkan di ringroad. Udah, bisanya cuman segitu.

Selepas gerbang bandara internasional ini, aku kehilangan suasana 'kota yang dulu'. kota tercinta ini terasa dipaksakan modern. dari meninggalkan kota area pariaman, daerah tabing, sampai memasuki gerbang inti kota. semua keindahan padang masa lalu lenyap entah kemana. Simpang menuju jalan pondok di depan kantor polisi militer, dipaksakan sekali dibangun hotel. bagaimana mungkin di area sempit dan menakjubkan ini dijejali bangunan hotel. tempat parkirnya saja pun engga ada. engga terbayang ruwetnya kondisi jalan melewati hotel ini menuju ke arah pantai padang. sepanjang jalan hayam wuruk ada perubahan besar. seluruh bangunan yang kalau kita menuju muara dari arah jalan pondok, bangunan lama diganti ruko. untung saja tampilan ruko ini manis. tidak seperti di medan : mirip kandang merpati yang ukurannya terlalu besar. malam pertama aku nginap dengan terpaksa di hotel rocky. di jalan parmindo. sama saja. hotel ini terlalu berada di pinggir jalan. mending aja dia tutup badan jalan supaya marwah pusat bisnis kota pada masa lalu mereka lenyapkan sekalian. sampai sekarang susah percaya kenapa pemerintah kota Padang kasih ijin bangun hotel di area sempit seperti ini. kenapa mereka tidak ambil di seputaran dari alang lawas sana. apa itu namanya ya. aku lupa. yang jelas jalan panjang yg dulu biasa dijadikan pusat jajan duren. biasanya kita makan pake ketan. oi mak rasonyo, mintuo pun indak tacaliak (mertua tak tertengok awak). ya tak tertengok lah, kita di padang, mertua di batusangkar. ngapain mertua jalan kaki malam-malam di padang tapi ga ngasih tau menantu ? ada ada aja mertua itu ya. di jalan sudirman lebih aneh lagi. masak operator besar negeri ini memaksakan diri beroperasi di gedung kecil. ukuran gedung ini sungguh mengecilkan ukuran perusahaan mereka. kenapa engga mereka bangun saja di daerah rasuna said sana. bangunlah lebih mentereng. bantu keindahan kota ini. kenapa semuanya berebut di tengah kota ya. apa mereka takut buka kantor agak ke pinggir pinggir ? kehilangan terbesar saya atas kota ini adalah : sejarah sebagai 'juara bersih sedunia'. kota ini kehilangan kebersihannya. susah menceritakan tapi yang saya rasakan itu. kota ini tidak istimewa lagi. sayang sekali ya.

Dulu, kalau saya mau pulang ke medan. biasanya selalu bawa buah tangan makanan ciri khas kota. Sanjai. tahun 1989 dulu, tukang sanjai jualannya cuman sanjai itu saja. okelah, ada beberapa fitur dagangan lain tapi biasanya engga jauh dari bahan ubi. dan biasanya saya beli di rohana kudus atau di jalan pondok. sekali ini. saya harus ikut rencana tuan rumah. mereka bawa ke daerah muara, tepatnya di jalan Nipah. daerah yang saya sebut ini berada di muara, tempat pertemuan sungai dan pantai padang. dulu, pantai ini menjadi tempat paling favorit buat saya. saya masih bisa membayangkan;duduk di meja yg disediakan di bibir pantai, pesan udang goreng yang ditusuk seperti sate, plus kepiting muda digoreng kering, plus minuman bersoda. oala, ga ada kenikmatan yang bisa didapatkan di kota lain. duduk santai, mengunyah makanan sambil mata dihajar habis habisan dengan pemandangan kaki langit di bibir lautan hindia ! tunggu saja sampai sore, matahari terbenam. dengan pandangan dramatis : perahu layar yang sobek sedikit, melintas diantara biji mata anda dan sinar merah matahari yang mau ditelan laut. perahu ini datang entah dari mana, pulang ditelan mulut sungai di muara meninggalkan garis lekuk sebagai bayangannya. dulu, di tahun 1989 sampai 1994. biasanya pada jam bapak nelayan melintasi kaki langit tadi, saya bergerak pulang. nanti, setelah jam 7 malam, ada kegiatan yang merangsang : menunggu teriakan halus : kacang aboooouuuiiiih... talua asin, talua katoooonggg...' ondeh... kacang rebusnya padat, asinnya pas.. telur asinnya luar biasa. soal telur penyu. yang terakhir ini pernah saya coba makan. kulitnya dicubit, robek sedikit, angkat ke atas mulut yang ternganga, tumpahkan... biasanya orang langsung telan itu telur sampai tuntas. tiba di giliran saya, ritual pertama dan berikut sukses dilakukan. tetapi, begitu aroma telur menusuk hidung, telur yang sudah terlanjur nangkring di pangkal lidah, langsung keluar lagi dimuntahkan. ada dua makanan yang saya tidak bisa nikmati di kota ini : teh telur dan telur penyu !

Christine Hakim
Sekarang kita ada di bawah jembatan layang. yang memungkinkan kita bersama mobil menyeberangi muara menuju bukit siti nurbaya. di sini, seluruh dunia tau, ada toko yang mengkhususkan diri untuk menyediakan makanan khas sumatera barat. sambil menunggu pesanan dibereskan dalam kemasan yang keren, saya menyempatkan ngobrol sebentar dengan perempuan cantik yang sibuk kerja di balik mesin 'cash register'. mungkin usianya di atas saya sedikit. tapi saya kagum. tampilan ibu ini, persis seperti bintang sinetron indonesia yang kemampuannya pas pasan itu. (yang pas-pasan bintang sinetron nya lo. entar salah persepsi lagi). setelah bisik bisik sana sini, akhirnya ketauan. ternyata beliau adalah pemilik bisnis hebat ini. toko Christine Hakim (mereka kasih judul tokonya mirip nama pemilik) luar biasa besar. Jujur saja, saya ini suka tergila-gila dengan kisah nyata orang orang sukses. karna kegilaan itu, saya ngotot memaksa ibu hebat ini untuk ngobrol. baru berapa menit ngobrol, udah ada banyak orang ngantri untuk bayar. bu Christine lumayan repot, antara cepat layani pembayaran dengan layani 'wawancara' saya. kalau anda punya kesempatan baik, saran saya ngobrol lah dengan ibu ini. anda pasti dapatkan aura positif. yang pasti bagus untuk pikiran dan fisik kita. segala yang diomongkan betul-betul sejuta kesederhanaan. sama sekali tidak ada omongan besar tentang cerita sukses. padahal saya tau, sedikit perempuan mampu berada di titik sukses yang sedang ditempati beliau. selain dapat hadiah kebaikan hati untuk menghabiskan waktu hampir setengah jam ngobrol, kami dihadiahi tambahan suguhan makanan dagangan mereka. termasuk satu jenis makanan yang belum dilaunching pada waktu itu. waktu meninggalkan pintu toko mereka, saya sukses dibebani sekantong besar oleh-oleh dengan harga : gratis !
pusinglah mikirin darimana mereka menggali ide. mengumpulkan semangat kerja. menimbun kekokohan hati untuk tidak menyerah. yang jelas, di samping toko besar ini. mereka sudah buka lagi toko yang lebih kecil tapi dengan teknologi lebih modern. setelah melihat ini, saya senyum saja dalam hati : pantesan yang kaya tambah kaya.
Tidak berhenti di situ, mereka sudah janji pasti segera buka restoran. saya beruntung dapat undangan khusus waktu launchingnya. cuman ibu ini lupa bahwa dari medan ke padang tidak bisa pake sendal. mesti pake sepatu. sepatu itu dipake untuk naik ke pesawat terbang. lah, emang kita bisa masuk pesawat tanpa tiket. tiket pesawat kan mesti dibeli. lantas uangnya darimana ?

Kerja keras, Kejujuran, Berhemat (Christine Hakim way)
aku engga ngerti apakah ibu ini pernah ikut seminar motivasi. beli buku mahal untuk dibaca. rasanya sepanjang kami ngobrol tidak sepatah kata pun yang dikeluarkan yang menyinggung mengenai 'ajaran-ajaran' yang sekarang banyak sekali dijual di toko buku. engga cuman di toko buku. di televisi juga makin parah. masak iya kesuksesan bisa diperoleh hanya dengan kirim sms. ga usah berusaha aja. cukup kirim sms, apa bisa kaya ? buat para perempuan, lakukanlah hal sederhana. bicaralah pada perempuan lain yang anda saksikan sukses. engga perlu malu untuk tanya-tanya untuk belajar. sebelum mereka besar, mereka kecil dulu. sebelum uang dalam tabungan mereka sebanyak sekarang, mereka hampir tidak punya uang lebih dulu. sebelum mereka sekaya sekarang ini, mereka terlebih dulu agak miskin. sebelum mereka mengetahui banyak hal untuk menambah keberhasilan, mereka melihat-lihat orang lain yang mereka pikir sudah berhasil. perhatikan saja kalimat sederhana dari Christine Hakim tentang awal mula perjalanan mereka menuju keadaan sekarang; 'usaha ini saya bangun dengan : kerja keras;kejujuran; dan berhemat ! hhhh.. seandainya beliau benar-benar mendengarkan omongan saya untuk segera tenggelam di dunia internet. beliau pasti lihat ocehan ini, supaya saya tau kapan harus hadir kembali atas undangan Christine Hakim.

Selasa, 16 Juni 2009

++****++ AXEL BILANG.... MAMAK-MAMAK KOK JADI SINGA !!

hari ujian kenaikan kelas untuk anak sekolah dasar sudah berakhir. laki-laki terhebat di dunia, Axel Pasaribu, ini pun langsung berteriak lega 'pa, uda selesai ujian kami'. Seperti biasa, aku langsung kasih respon yang terlalu over acting : 'aduh bang, keren kaliiii !!! uda lega kita ya bang. abang uda cape ujian seminggu'. sekarang bebas !!! (sambil jari-jari ku acungkan menggambarkan lambang music heavy metal). awak semangatnya berlebihan, giliran anak cute ini cuman melirik dan menggelengkan kepala. mungkin dalam hati dia ngomong gini kali : 'udala pa, tak perlu kali berlebihan macam gitu'. kebetulan sekali adik laki-laki ku (bapa udanya = pak lik) baru saja dapat momongan anak pertama. dari sekolah mereka langsung kami angkut ke rumah sakit untuk menjemput 'adik baru' nya. dari rumah sakit menuju rumah tinggal adik saya yang tadi. dari sana, mereka menolak untuk ikut pulang. ngotot untuk tinggal di rumah 'bou' (bibi) nya. ya sudah lah. toh besok cuman masuk sekolah, engga ada pelajaran resmi lagi. kita ijinkan saja dia kabur ke rumah sepupu.
entah apa yang terjadi di sana selama semalaman, besok harinya kami dengar kabar menggelikan. rupanya Axel terheran-heran menemukan, ternyata semua rumah sama kondisinya pada pagi hari : hiruk pikuk dengan teriakan ! kami kurang paham kondisi sebenarnya dari hiruk pikuk tadi. yang jelas Axel kasih statement mengheran kan : 'kenapa mamak-mamak berubah jadi Singa !'

Jujur saja, waktu dengar ini di sebelah istri, girangnya hati bukan main. Demi memanaskan hati istri, aku bolak-balik minta konfirmasi Axel : 'bang, mamak-mamak jadi apa ?' dia pasti jawab tegas "jadi singa !!". 'mmmmm.. kata saya sambil melirik istri. istri saya langsung protes : 'kok sehabis bilang singa, kalian liat mama ?.. emang mama singa ? saya dan Axel serentak buang muka. (la iyala, kami kan cuman bilang mamak-mamak jadi singa, tidak bilang beliau yang singanya). lagian.. Axel kan menujukan sebutan singa ini untuk namborunya, adik perempuan ku tadi, pemilik rumah dia nginap tadi malam.
setelah kami bongkar, ternyata namborunya ini merepet terus setiap pagi. ada saja yang diteriakkan "Joey !!! jangan maen bola di dalam rumah !!!" waktu dengar ini mungkin Axel masih kasih toleransi. eh, engga begitu lama teriak lagi "Joseph !!! turun dari sofa itu !!".... masih juga ada toleransi. yang terakhir ini yang ga diterima lagi : 'Jovanka !!!! pake shampo jangan banyak kali !' komentar yang bolak-balik diteriakkan ini akhirnya melahirkan komentar pendek. dia ngomong pelan ke Joey : 'bang.. kenapa ya mamak-mamak jadi singa ?' di rumah kami pun kayak gini lo'

Mamak-mamak jadi Singa ???
Ibu-ibu pantas mendapatkan penghargaan setinggi langit. Atas semua yang mereka lakukan untuk dirinya, anaknya, suaminya, dan rumahnya. Secara fisik, saya berani bilang, laki-laki jauh lebih lemah dibanding perempuan. Perempuan itu punya kekuatan fisik di luar akal manusia. Contohnya saja istri saya. Sekarang lagi hamil berat. Tapi masih sanggup mengurus semuanya. Bawa mobil sendiri jemput anak dan ngantar ke tempat Les. Ngurusin masalah bengkel pulak. Kalau dia merepet, saya cuman kasih komentar pendek : 'itula hebatnya mama. kekuatannya mengalahkan suami'. Saya, kalau sudah pulang ke rumah dari pekerjaan. Let say, tiba di rumah jam delapan malam. Untuk ngangkat ransel tempat note book saja pun, lemasnya minta ampun. Wajah sudah kelihatan loyo. Belum lagi kalau dari kantor singgah ke tempat Gym. Di rumah loyonya makin dobel. Kalo sudah kaya gini, anak-anak pasti udah malas untuk minta tolong ke gramedia beli buku yang mereka perlukan. anak-anak ku udah berani kasih komentar : 'ga enak sama papa ini. asik lemas-lemas aja pun'. Belum sempat kasih pembelaan atas tuduhan yang engga enak ini, mamanya mereka kasih komentar tambahan :'jangan lama kali pulang bang. kenapa selalu pulang malam sih ?' tetangga kita jam enam sore sudah ada di rumah !'. Emh... komentar ini harus dipatahkan serta merta. Tiba-tiba saya berdiri gagah menantang anak-anak : 'siapa bilang papa lemas-lemas ? papa buktikan, ayo ke gramedia !' sudah pasti 3 makhluk kecil ini serabutan merangkul kaki saya yang kurus. Terakhir... perempuan cantik ini harus dikasih penjelasan. Dengan tegar dan penuh wibawa, saya tatap matanya yang indah. Langsung menusuk ke dalam hati dan ngomong gini : 'Bayangin aja de. Abang pulang jam 8 malam sajapun, karier masih gini-gini terus. Konon pulak pulang jam 6 !'.... jawabannya ? ya sama : 'diam la bang'. Ga masalah, yang penting semua sudah dikasih jawaban yang tegas.
Kembali ke Singa tadi. Saya juga sering heran, walaupun berusaha untuk maklum. Kenapa ya, kok hampir kebanyakan mamak-mamak senang berubah wujud jadi singa ? adaaaa aja yang salah mereka lihat. Padahal jarak antara mereka dengan anak atau siapapun, bisa-bisanya ngomongnya seakan-akan berjarak 100 meter, di pinggir pantai, ombak lagi gemuruh, dan ada angin badai : 'Uda jam berapa iniiii... cepat mandiii !!'... tapi anehnya, walaupun anak-anak sering dapat bentakan, larangan, peraturan ketat yang kita orang dewasa saja kurang suka, tetap saja anak-anak terus nempel ke ibunya. Apa karena anak-anak memang dilahirkan sebagai penggemar Singa ?



Kamis, 28 Mei 2009

** CONGRATS BARCA.... VIVA MANCHESTER UNITED

untunglah langsung disergap ngantuk berat mata ku sepulang dari gym.. persiapan untuk begadang sudah dilakukan dengan sangat sempurna... maksud hati, pas event Roma Finale, awak pun ikutan begadang di rumah... rencananya menyaksikan penyerahan piala ke tangan oppung Fergie...apa dikata.. sepulang dari gym, bukannya tidur tiduran ayam awak.. langsung kebablasan tiduran ayam bakar.. tak bangun lagi ! kalau lah aku tak mengikuti perintah mata untuk tidur.. tak terbayanglah sakitnya jiwa... udah lah begadang... masuk angin.. kalah pulak itu !!paginya dapat berita... Barcelona FC juara champions 2009 !... setelah dapat kabar ini, awak berusaha bilang gini : 'ah.. itu kan di RCTI... siapa tau di ESPN MU yang juara'... pas buka detik.com.. tetap ! barca masih juga dibilang juaranya... buka situs lain... sama ! lama-lama ku pikir sudah terjadi persekongkolan yang jahat ini bah.. masak semua media massa sepakat bikin berita MU kalah !......... berat kali memang membesarkan hati untuk sekedar mau menerima kondisi real yang membikin kita betul-betul sesak napas. dalam pikiran berkecamuklah adegan macam gini... harusnya jalannya bukan macam yang ada sekarang...well... seluruh pasukan MU rapi berbaris di belakang oppung Fergie... tak ada sumpah serapah yang diselipkan di batas bibir. dari air muka mereka, saya melihat dan merasakan kejujuran yang luar biasa : menerima kalah ! menerima kalah ini lah susahnya bukan main. ada warung lontong berjejer dua. yang satu dikunjungi banyak pembeli. rame sekali. yang satunya ? paling sebiji dua biji ! yang terjadi seperti apa coba ? yang didatangi segelintir biji orang ini, bukannya memuji warung yang rame... malah mencaci dalam hati :'alaaa paling paling pake santet dia jualan !'.. hehehe.. bukannya berusaha mencicipi rasa lontong pesaing.. atau berusaha mencari tau kenapa pembeli suka ke sana, yang dilakukan malah menjelekkan orang lain, dan merusak pikiran sendiri..menerima kalah ini bisa juga menghilangkan harga diri.. let say, ada pemilihan kepala kampung. cara memilihnya sederhana. kepada para peminat calon kepala kampung dipersyaratkan hal-hal sederhana : berapa besar uang yang dimiliki.. ceritakan asal uang tadi.. apa saja cara yang dilakukan.. dan bagaimana cara mereka mempengaruhi orang lain... semua syaratnya persis sama ! engga dibeda-bedain antar calon. sesudah itu.. seluruh calon dibiarkan melakukan apapun yang sesuai aturan dan norma, untuk merayu.. 'menghipnotis' atau membujuk dengan cara yang diatur... jadi, kalau ada yg memilih bertamu ke rumah orang-orang, boleh saja... mau ngumpulin orang dua kampung di tanah lapang, habis itu dijejali janji-janji, boleh saja... pokoknya, semuanya dikasih batas dan ruang yang sama.. terserah siapa yang mau memanfaatkan batas itu. sudah pasti ada yang memanfaatkan semuanya, ada juga yang cuman pake beberapa... pikir mereka 'toh fasilitas tidak harus semuanya digunakan ?'...berarti kan.. mereka sudah memutuskan sendiri apa yang bakal dilakukan. bukan karena dipaksa, dihalang-halangi ataupun diatur-atur dengan paksa..nah.. pas hari penghitungan kertas-kertas pemilih.. sudah pasti yang menang cuman satu kan.. nah, pertanyaan penting... apa reaksi calon yang tak terpilih. apakah mereka seperti Rooney atau Ronaldo.. atau Ferguson yang hanya kesal pada diri sendiri, dan hanya sejenak ? atau kaya John Terry.. atau siberingas Drogba ?? mereka tidak menyalahkan usaha mereka yang kurang.. tapi menyalahkan orang lain ! persislah macam tukang lontong di atas...Congrats Barca.. but, Viva Manchester United.. seandainya seluruh politikus meniru cara indah menerima kekalahan yang dipergakan Manchester United, maka yang kalah dalam pemilihan tentunya akan mendukung sang pemenang.. dan tidak perlu merusak harga diri sendiri...